
Mark sengaja membuat lucia putus asa, ia akan membuat wanita itu berfikir bahwa hanya dia yang bisa diandalkan.
Besoknya, Ia begitu puas saat arle telah menyelesaikan pekerjaan yang ia perintahkan dengan cepat dan rapi.
Selama hampir dua minggu, Lucia menunggu panggilan pekerjaannya yang tak ada panggilan hampir membuatnya putus asa. mungkin saja mark yang membuat semua lowongan pekerjaan yang ada dibeberapa perusahaan yang mempunyai kerjasama dengannya dan memerintahkan mereka agar ia tak menerimanya bekerja, insting Lucia berkata seperti itu karena dirinya tau bagaimana sifat lelaki itu.
"hallo...", kata Lucia menelepon mark.
"Luu datanglah kekantor ...", kata mark tanpa basa basi.
"kenapa kau menyiksa ku seperti ini ?", tanya Lucia dengan suara datar.
"Luu aku serius ada masalah yang lebih penting daripada urusanmu itu ... cepat kekantor", kata mark kesal.
"tidak ... jawab pertanyaanku", kata Lucia.
"oke ya memang aku yang memerintahkan mereka... apakah kau puass ?!", kata mark bertambah kesal, ia begitu terdesak akibat pemutusan kontrak kerja yang menguntungkan dengan pihak XIA CORP. dirinya di buat pusing karena memikirkan bagaimana caranya meminimalisir kebutuhan pemasukan dan pengeluaran perusahaan.
"apa alasannya ... bukankah aku sudah memberi surat pengunduranku", kata Lucia lagi.
"Lu cukup oke !!!... kau tau aku sangat sibuk disini.... jadi, jangan buat semuanya menjadi bertambah kacau !!", kata mark marah.
Lucia hanya diam saja tak merespon ucapan mark, ia hanya menatap kosong kedepan melihat pemandangan cerah didepannya dari balik kaca balkon kamarnya. tak mendengar suara apapun dari Lucia, mark akhirnya menyerah.
"aku sangat membutuhkanmu .... apakah kau puass !!!... jadi kemari dan bekerjalah", kata mark dengan suara merayu yang hanya direspon Lucia dengan langsung mematikkan panggilan teleponnya.
Dirinya selama sebulan belakangan ini hanya tetap berada didalam apartemennya, ia keluar hanya jika persediaan makanan mingguannya habis.
Darimana ia mendapat uang ??!!..
Itu berasal dari uang tabungannya yang ia tabung dengan diam-diam dan beberapa investasi. sekarang ini ia sedang merenung sendiri lagi mengingat dulu hingga kini keluarga pamannya masih saja sering mengganggunya dan juga sepupunya yang angkuh itu juga masih saja sering membuat dirinya terus menderita, ia ingat jelas dulu Mark sering kali selalu menolongnya tapi apakah sekarang akan begitu lagi ?? Mungkin tidak ....
Drrrttt...
Drrrrttt....
Ponselnya berkedip-kedip, ia melihat ada satu pesan masuk dari mark. ia melihat lelaki itu mengirimkan sesuatu kepadanya, dan itu berkaitan dengan kontrak kerja miliknya.
Saat lucia membacanya, matanya yang sayu sedikit terbuka. ia membuang ponselnya sembarang, dan melihat jam dindingnya yang terus berdetak dengan kosong ia melamun .... memikirkan kenapa nasibnya sangat miris.
Ia terpuruk ...
Ia sangat depresi ....
Ia merasa tak aman ....
.
.
.
.
.
Tiga hari kemudian.
Lucia berubah pikiran karena apa yang dikirim mark padanya.
Ia tanpa basa basi langsung mendatangi ruang utama diperusahaan itu.
Lucia yang telah terbiasa dengan tatapan dari beberapa karyawan perusahaan itu, ia mengabaikan mereka.
"heh, lihatlah, anjing yang telah pergi, kembali lagi pada tuannya", ucap salah seorang wanita dengan pakaian khas kantor miliknya.
"hahaha... kalya apa yang kau katakan", tawa temannya.
Kayla ikut tertawa. ia melirik lucia yang berhenti beberapa langkah didepan mereka.
Lucia mengepalkan tangannya, ia begitu kesal, marah dan sangat-sangat marah. Ia berusaha menormalkan nafasnya yang mulai memburu, dan itu rasanya begitu ngilu. Tangannya ah tidak seluruh tubuhnya mulai bergetar hebat, lucia berusaha menenangkan dirinya sendiri dan memilih pergi untuk mendengar hal lain yang mungkin akan semakin membuat ia terpuruk.
Ia menaiki lift yang penuh sesak. Tubuh kecilnya terlihat tenggelam diantara para manusia yang saling berdesakan satu sama lain. lucia mundur, dan memilih berada disudut lift.
Ada banyak hal yang berada didalam pikirannya dan itu terasa akan meledak sewaktu-waktu, lucia berusaha menahan emosinya yang mungkin saja akan membuat dia sendiri yang rugi.
Menarik nafas, menghembuskannya. Ia berusaha membuat dirimya serileks mungkin. ia memasukkan satu tangannya ke dalam tas kecil hitam miliknya, tangan itu menggenggam erat botol kecil putih yang selalu ia bawa kemana-kemana itu.
Ting.
Semakin naik keatas, semakin sedikit jumlah manusia-manusia yang berada didalam lift. dan semakin lucia mendekati lantai teratas, semakin berdetak tak nyaman jantungnya.
Apa yang harus ia lakukan nantinya ?..
Kosong.
Dahi lucia berkerut ringan saat melihat ruang tempat dimana biasanya arle berada kini kosong.
Tak biasanya, pikir lucia.
Ia melangkahkan kakinya, langsung menuju kedalam ruangan milik mark.
Kenapa pintunya sedikit terbuka ?, pikir lucia. ia merasakan firasat buruk.
Dan benar saja, samar. ia mendengar suara ******* panas dari dalam sana. tubuhnya terdiam, bahunya kaku, wajahnya terasa pias pucat dan seakan siraman air dingin mengenai seluruh tubuhnya.
....., pikir lucia. ia begitu kosong, memilih untuk mundur sementara dan duduk di kursi tunggu luar.
Lucia masih diam.
Ia seperti manusia bodoh, dungu, idiot. Apa yang telah ia lakukan selama ini ?!.. dan lagi apa yang harus ia ucapkan nanti !!... Nafasnya begitu tercekat, air matanya ingin turun, ia berusaha menahannya, terlihat dari bagaimana merahnya hidung dan matanya yang mulai sembam itu, hingga suara dentingan pintu lift mengalihkan pandangan lucia.
"Hallo, Mrs.", sapa arle sopan.
"Yes, Mr. Arle...", sahut lucia.
"apakah anda sedang menunggu presdir ?", tanya arle hati-hati. ia merasa sangat bersalah pada wanita dihadapannya ini, setelah apa yang telah mark perintahkan padanya dan kali ini yang lebih parah lagi, ia membiarkan tempat ini kosong tanpa pengawasannya.
"Yes, Mr. Tapi, sepertinya presdir sedang berada dalam urusan mendesak", desis lucia dingin.
Arle terdiam.
"Dan apakah kau yang diperintahkan lelaki itu untuk memblok semua jalanku", tanya lucia dingin.
Arle terdiam. lagi.
"Maaf.. Mrs. tapi aku", ucap arle terbata-bata yang ucapannya dipotong lucia.
"tidak apa, aku tahu, kau hanya menjalankan apa yang lelaki itu perintahkan dan sekarang karenanya aku berada disini bukan", ucap lucia.
Arle terdiam lagi.
cih, presdir begitu bodoh melepaskan wanita setajam ini !... walaupun penampilan mrs. jauh dari kata layak tapi jika di perbaiki mungkin akan lebih baik, pikir arle ngeri. ia seperti mengamati sesuatu tentang diri lucia dari samping.
5 menit.
20 menit.
Menit demi menit mulai berlalu, tapi kehadiran mark seperti ditelan bumi. entah apa yang dilakukan laki-laki itu didalam sana hingga sampai selama ini tetap tak membiat lucia menyerah. ia masih diam bagaikan patung.
"Mrs. mungkin anda bisa datang kembali", ucap arle hati-hati.
"Tidak perlu", sahut lucia cepat.
"mereka akan keluar tanpa aku harus memanggilnya", lanjut lucia dingin.