Don'T Kill My Reality

Don'T Kill My Reality
Wanita Malang



Langit malam begitu pekat tanpa bintang hanya bulan purnama dengan cahaya redup menyinari bumi dengan cahayanya yang tenggelam dalam gelapnya malam, bayang-bayang hitam pohon mengisi keheningan diatas tanah hijau gelap dengan suara hewan malam yang memecah keheningan didalam hutan belantara berbanding terbalik dengan keramaian kota metropolitan yang terang dengan lampu-lampu jalanan berkelap-kelip merembak keluar menyinari sudut-sudut kota dari berbagai arah.


Disebuah gedung apartemen dengan ketinggian 30 lantai terlihat jelas beberapa lampu yang sebagian padam terlihat dari jendela-jendela balkon gelap hanya beberapa lampu yang  memancar keluar.


Disebuah apartemen gelap tanpa penerangan sedikitpun didalamnya dan hanya mengandalkam lampu tidur redup disebelahnya yang menyinari samar-samar ruangan itu terlihat seorang gadis tertidur nyenyak dalam ranjang berukuran sedang.


Dalam tidurnya, alis willow lembut berkerut menyakitkan dengan derasnya keringat yang mulai keluar dari sekujur badannya. Mimik wajahnya merajut kesakitan tenggelam dalam mimpi seakan kepedihan mendera seluruh raganya dengan kejam dan tanpa ampun, tangannya tanpa sadar menggenggam erat selimut seakan menyembunyikan dirinya dari rasa ketakutan dan bergerak-gerak gelisah mencari ketenangan untuk diri sendiri dalam mimpi buruknya.


Akhirnya bulu mata lentik itu bergerak-gerak membuka matanya terbelalak kaget dengan deru nafas yang terengah-engah keras langsung terduduk diatas ranjang.


Air matanya mengalir seperti anak sungai yang begitu deras dan tak tertahankan.


"Baik-baik saja hikss"


"Semua baik-baik saja hiks hiks"


"Sakitt hikss kumohon baik-baik saja hikss"


"Aku baik-baik saja hikss..."ucapnya sembari meremat jantungnya yang terasa pilu dari balik gaun tidurnya.


Surai hitam berantakan, mata merah mengerikan dengan bekas-bekas tetesan air mata di pipi sembam pucatnya menatap kosong kearah langit gelap malam didalam ruangan tanpa penerangan yang hanya mengandalkan cahaya remang-remang bulan itu.


Gaun putih tidurnya kusut tak berbentuk dengan tangan yang terkulai diatas kedua lututnya.


"Hikss hikss hikss..."rintih tangisan yang memilukan menjadi nyanyian malam membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya ikut merasakan kesedihan sengasara yang sangat memilukan hati.


"Ayah..."


"Ibu..."


"Kakak..."


"Kembaliii !!!!..."


"Tidaakk.... tidakk ... kumohonnn......."rintihnya memegang kedua telinga dan menggelengkan kepalanya seakan menghalau sebuah ingatan yang terus menerus melintasi pikirannya dan membuat mentalnya terhantam. akibat ulahnya yang meremat kedua belah sisi kepalanya rambut bersurai hitam itu makin bertambah tak berbentuk, kusut seperti semak belukar liar yang tak bertuan.


Bagai orang gila yang kehilangan kewarasan tanpa sisi logika yang baik serta ditambah dengan mentalnya yang terluka parah dirinya seperti seorang anak yang tersisih dengan kejam didunia yang keji dengan banyak bau busuk kejahatan ini tanpa tau apa yang harus ia perbuat dalam kebingungan dan ketakutan dalam kesendiriannya itu.


Ingatan demi ingatan mengalir begitu menyakitkan bagai sebuah kaset rusak yang terus diputar, merusak mental dan menyengsengsarakan pikiran serta hatinya yang hancur kehilangan.


Ia seperti terperangkap dan tenggelam dalam air sungai yang menyesakan serta menyakitkan membelenggu tubuhnya yang ringkih meringkuk pilu menyedihkan.


Tangan mungil pucat kurus gemetaran hebat mengambil sebuah botol putih kecil berusaha keras membukanya, mengambil isinya serampangan dan meneguknya tanpa pikir panjang.


Crakk ...


Prangg ...


Butiran-Butiran putih itu berserakan diatas karpet di pinggir ranjangnya beserta dengan pecahan gelas kaca yang menambah berantakan isi dalam kamarnya sendiri.


"Aaaaaaaakkkhhhh hikss"jeritnya mengacaukan segala yang ada dihadapannya dengan tangan yang masih menggenggam butir-butiran putih itu.


Menegaknya tanpa air putih, dirinya langsung merosot lemah dipinggir jendela balkon besar yang hanya terhalang kaca besar dengan kain gorden yang jatuh dibawahnya.


Kepala dengan surai hitam panjang berantakan itu terkulai lemas bersender dikaca.


Menatap hampa pemandangan bulan purnama yang menyongsong tinggi ditengah-tengah kegelapan diluar, perlahan-lahan efek obat tersebut mulai menenangkan kondisi fisik dan mentalnya yang hancur.


Pagi menyingsing dengan cepat.


Wanita dengan gaun putih tidur masih dalam posisi yang sama dari semalam tanpa memikirkan kondisi tubuhnya yang makin ringkih terbangun akibat sinar matahari yang menyinari dirinya.


Mengerutkan kening akibat silau dan tidurnya yang terusik perlahan-lahan ia membuka kedua matanya dan menutup kembali menyesuaikan kondisi cahaya yang terlalu terang.


Melihat kamarnya yang berantakan dan juga sisa-sisa pecahan gelas kaca yang berserakan ia menghela nafas.


Bangkit perlahan dengan tangan yang menyangga dikaca sebelahnya tapi ia terjatuh karena tubuhnya yang terasa sangat lemas dan kaku, mencoba lagi akhirnya ia berhasil berdiri walaupun menyangga tubuhnya sendiri pada kaca disebelahnya, tak sengaja matanya melihat pantulan dirinya sendiri di cermin besar yang mengarah tepat disampingnya.


Gaun putih tidur longgar yang kusut membalut tubuh mungil ringkihnya dengan kedua kaki jejang kurus tanpa alas kaki dan surai yang acak-acakan disana-sini selayaknya orang gila. Ia melihat bayangannya sendiri didepannya yang terpantul dalam kaca, perlahan ia menyentuh wajahnya yang pucat sama seperti kulitnya yang sama pucatnya seperti darahnya sendiri yang tak sudi mengalir dipembuluhnya.


Lingkaran mata panda hitam jelas tercekung tajam dikedua matanya yang tanpa emosi kehidupan terlihat sangat hampa dan kosong.


apakah ini aku ??, tanyanya pada pantulan dirinya sendiri.


Setelah membersihkan semua kekacauan dikamarnya sendiri ia bergegas mandi. Dengan hanya memakai baju longgar dan juga celana rumahan pendek longgar ia berjalan keluar kamarnya menuju dapur mungil minimalis.


Menyeduh sepoci teh dan memanggang roti ia duduk sendiri dimeja makan menikmati sarapan paginya sendiri.


Kringg


Kringgg


kriingggg


Drrttt


Drrttttt


"Dimana dirimu ??..."tanya si penelepon.


"Aku ? Di apartemen ku... mark, ada apa ?"jawabnya lembut dengan suara yang sedikit parau.


"Ohh maafkan aku sayang hari ini kita tidak bisa makan bersama dan pergi kencan ..."jawab suara lelaki diseberang sana lembut.


"Kenapa ? Apakah ada urusan kantor mark ?"tanyanya lagi.


"Tidak... Lucia dengarkan aku !! investasi perusahaan kali ini lebih penting dari apapun... maafkan aku sayang"jawab lelaki tersebut meluluhkan hati lucia.


Mark adalah kekasihnya sekaligus atasan dan CEO di perusahan tempat dirinya berkerja.


"Tidak apa-apa... selamat bekerja"jawab lucia sedikit kecewa.


"Hmm"jawab mark lagi.


Klik


Sunyi.


Tanpa ucapan sayang atau sampai jumpa lelaki itu langsung mematikan handphonenya, dan untuk kesekian kalinya mark mengingkari janjinya. sejak kapan hal seperti ini terjadi, ia sudah tak ingat lagi ataukah mungkin kesibukan mereka karena perusahaan yang dikelola mark semakin maju dan berkembang. tapi sejak kapan terakhir kali ia merasakan rasa hangat disisi lain hati dinginnya ??


Lucia hanya menatap hampa layar gelap handphonenya. ia mengambil roti bakarnya yang sudah matang ia langsung mengolesinya dengan selai dan memakannya dengan tenang.