Don'T Kill My Reality

Don'T Kill My Reality
Pengunduran Diri



Keesokan harinya, Lucia dengan wajah kuyu pucat sudah bertekad mengurus surat pengunduran dirinya dengan apa yang sudah ia alami beberapa pekan ini. Semalam ia langsung menghubungi Sia, sahabatnya dan langsung membuat surat pengunduran diri.


Ketika ia berjalan memasuki perusahaan yang dipimpin mantan kekasihnya ini banyak tatapan iba yang dilontarkan teman-teman satu kantornya. apalagi ketika melihat lucia melihat tatapan teman-teman satu kantornya ia hanya tersenyum lemah meyakinkan seakan tak terjadi apa-apa walaupun kenyataannya terpampang jelas didepan mata.


Lucia melihat kearah lift dari lantai atas yang turun dan berdenting terbuka memperlihatkan Mark dan Jessie yang bergaun merah seksi berbanding terbalik dengan dirinya yang hanya memakai setelan santai jeans hitam dan sweeter pink lusuh kedodoran dibadannya ditambah lagi dengan rambut yang ia cepol asal serta jangan lupakan kacamata jadul kunonya. Perlahan ia menegarkan hati nya, berjalan perlahan sembari menyerahkan lembar surat pengunduran diri dirinya mengingat bagaimana ia dan mark berjuang dulu untuk membangun perusahaan yang hampir hampir bangkrut menjadi sebuah perusahaan yang berkembang pesat ini hanya akan membuatnya sesak saja.


"Ohh hayy Lucy...", sapa sok ramah Jessie bergelayutan manja di lengan Mark.


"Apa itu...", ucapnya lagi dengan sedikit mengejek map kuning ditangan Lucia.


Lucia mengacuhkan jessie yang hanya ingin membuat masalah ini. ia memilih langsung memberikan berkas nya kepada Arle tangan kanan mark.


Mark yang melihat hal itu menjadi marah.


"Ada diriku disini kenapa kau menyerahkan berkas itu kepada arle !!!", kata Mark menahan emosinya.


"Ada apa sir ?? Maaf sir, tapi anda sedang sibuk jadi saya tidak berani merusak privasi anda lagipula saya sudah mengundurkan diri sir ... maafkan saya sir saya masih ada sedikit urusan", jawab Lucia dengan suara acuh yang sedikit bergetar.


"Siapa yang menyuruhmu untuk pergi Luu", ucap Mark yang tak terima diperlakukan lucia dengan acuh.


Lucia langsung bergegas pergi menghiraukan kata-kata mark dan langsung menuju ruangan kantornya untuk mengambil barang-barangnya untung semalam dia sudah meminta tolong Sia sahabat karibnya jadi ia hanya tinggal datang dan mengambil barang-barangnya.


Sembari membawa satu kardus besar berkas-berkasnya, Lucia bergegas pergi ketika mencapai lobby ia dihadang jessie. Berusaha mengacuhkan perempuan tersebut lucia cepat-cepat pergi melewatinya tapi yang terjadi berikutnya adalah jessie dengan sengaja menabrak bahunya dengan keras hingga berkas-berkas yang ia bawa berhamburan sontak mereka menjadi pusat perhatian.


"Uppss sorry ...", ucap jessie dengan senyum mengejek.


"Heyy apa yang kau lakukan !! Dasar perempuan jahatt ... Luu kau tidak apa-apa ???", ucap Sia berlari membantu Lucia


"Emm ti...tidak apa-apa", jawab Lucia yang menunduk mengambil berkas-berkasnya.


Melihat Lucia yang mengabaikannya sontak saja Jessie langsung menginjak serta menendang beberapa berkas hingga semakin kacau berantakan. Melihat hal yang ia perbuat membawa dampak yang sangat cantik menurutnya, ia sangat senang dan tersenyum mengejek berjalan menginjak-injak kertas-kertas berkas Lucia. Melihat sahabatnya yang semakin geram dengan tingkah arogan jessie, Lucia langsung menenangkannya.


"upss aku tidak sengaja ... bye bye hihihi", ucap jessie dengan suara centil menutup bibir merahnya dengan kuku-kuku panjangnya yang terawat dengan baik kemudian berjalan pergi dengan langkah kaki seperti berjalan diatas karpet merah catwalk.


"Sudahlah Sia, come on lagipula aku sudah bukan bagian dari perusahaan ini", kata Lucia menenangkan sia dan lebih fokus mengumpulkan barang-barangnya.


"Hishh kapan kau mau tegas dengan dirimu sendiri Luu apakah kau tidak sakit melihat mereka berdua seperti itu.... dan ohh lihat penyihir itu membuat keadaan jadi kacauu", kata sia lagi dengan kesal, Lucia hanya tersenyum melihat sahabat karib satu-satunya diperusahaan ini yang mau menerima dirinya dengan apa adanya.


Setelah selesai mengumpulkan berkas-berkasnya Lucia berpamitan kepada sia kemudian berjalan keluar berpas-paaan dengan beberapa orang berjas hitam yang ditengah-tengah mereka ada seorang pria tinggi tegap.


Pria yang berada ditengah-tengah rombongan tersebut secara diam-diam melirik Lucia yang hanya fokus pada jalan didepan dari ekor matanya yang tajam.


Lucia berjalan sembari memikirkan lamaran pekerjaan yang ia kirim ke beberapa perusahan besar dikota ini menjadi sedikit berfikir mungkin ia memang harus memulai kehidupan baru nya daripada ia memikirkan Mark yang jahat dan kejam padanya hanya membuat hati lucia menderita saja. Menarik nafasnya perlahan Lucia bergegas pulang menuju apartemen sederhananya.


Lucia terduduk diam sendirian kesepian ....


Menatap kosong keramaian kota yang tak pernah tidur, kota New York dari balik kaca balkonnya.


Malamnya bertambah gelap dan gelap dengan kepergian orang terakhir yang ia percayai dan sayangnya ia dilukai sama seperti keluarga pamannya dulu yang suka menganiaya dirinya.


Lucia memeluk kakinya dan menundukkan kepalanya terisak-isak menangis pilu menyedihkan, punggung ringkihnya bergetar hebat sembari menggigit bibirnya menahan isakan air matanya.


Terlihat sebuah botol kecil putih yang berisikan butiran obat ia buka dan ia teguk langsung dengan tubuhnya yang gemetaran hebat ketakutan.


Akhirnya dirinya mulai tenang dan tanpa sadar tertidur sendirian dengan efek butiran obat yang ia makan.


Entah takdir apa yang akan ia hadapi esok ....


Disatu sisi, mark pusing memikirkan kontrak perusahaannya dengan XIA CORP. yang tiba-tiba saja di batalkan tanpa ada penjelasan dari kedua belah pihak.


Akibatnya perusahaannya menjadi sedikit berantakan dengan saham perusahaan yang hampir terjun dengan bebas kebawah dalam hitungan menit karena hal itu.


Bajingan !!!...


Ia seperti biasa mulai menghubungi kontak lucia, tapi tak ada sahutan disana.


Cih, kenapa wanita jelek itu tidak mengangkat panggilanku !!!..


Lagi, mark menelepon kontak lucia tapi tetap saja, lucia untuk pertama kalinya tak mengangkat panggilan darinya.


Mark marah, ia memanggil sekertarisnya.


"Kenapa Lucia tak bisa dihubungi ?!", tanya mark dingin.


"maafkan saya, Mr. tapi Mrs. Lucia telah mengajukan pengunduran dirinya", jawab Arle.


Mark diam.


"Dimana suratnya ?!", tanya mark. ia terlihat menahan amarah besar.


Arle dengan cepat membawa berkas pengunduran diri milik lucia. saat mengambil berkas itu, mark tersenyum dingin.


"keh, kau ingin pergi dengan meninggalkan masalah besar untuk perusahaan ini ?!... jangan harap !!!", desis mark dingin.


"Arle, jangan biarkan perusahaan manapun untuk menerima surat kontrak kerja wanita ini !... katakan, wanita ini masih terikat kontrak pada perusahaan ini", desis dingin mark.


"Tutup rapat mulut mereka, dan jangan biarkan siapapun mengetahui hal ini", desis mark.


"Baik, Mr.", jawab arle.


"Mr. kenapa anda sangat ingin mempertahankan Mrs. Lucia ?", tanya arle.


"Aku ??.. hahaha bukan mempertahankan tapi lebih tepatnya memanfaatkan sumberdaya yang tersedia gratis didepan mataku", ucap mark santai. ia tanpa malu mengungkapkan hal yang mungkin sangat memalukan bagi seorang pemimpin perusahaan sepertinya ucapkan.


arle terdiam.


"Ia juga salah satu sumber terbesar dari perusahaan ini dan lagi kita harus memenangkan kontrak dengan perusahaan itu ?!", ucap mark ambisius.


Ia tak ingin karena saham perusahaannya, jessie akan meninggalkannya. jadi, berita tentangnya dan jessie harus naik kembali agar perusahaan miliknya juga ikut naik.