Don'T Kill My Reality

Don'T Kill My Reality
Di Tinggalkan



Pergi ...


Dia pergi ...


Tuhan kenapa sesakit ini ...


Tuhan apa .... apa salahku ??!!...


Satu persatu mereka meninggalkanku disini ....


Sendiri ....


Ini sangat menyakitkan ....


Tes ....


Tess ....


Tesss ....


Tessss ....


Tetes air mata gadis berkacamata itu berjatuhan dengan sangat deras dan menyakitkan beberapa berkas dan tas hitam kerja yang ia bawa hanya teronggok lesu disampingnya, dirinya terduduk lemah di pinggir trotoar jalan melihat kepergian satu-satunya orang yang ia percayai didunia ini...


Pandangan iba dari orang-orang sekitar yang melewati tak membuat dirinya kesal karena lelah sudah akan masalah yang terjadi saat ini ...


Hanya dengan kata maaf kekasih masa kecilnya pergi meninggalkan dirinya layaknya membuang sampah tak berguna di pinggir jalan.


Hatinya remuk redam menahan luapan emosi kesedihan yang sangat miris.


Apa yang kurang darinya ??...


Semua hal dalam hidupnya sudah ia berikan pada sosok yang sangat ia cintai ....


Apa salahnya ???...


Ataukah karena satu hal yang paling ia jaga dalam tubuhnya tak ia berikan padanya ?!...


Ia bukan wanita murahan tapi dia juga bukan wanita suci !!...


Sekalipun ia sangat mencintai sosok mark tapi ia masih punya sisi waras dan prinsip diotaknya.


Perlahan dirinya bangkit menghembuskan nafas perlahan dan mengelap sisa air mata nya dibalik kacamata yang menutupi mata sembamnya melihat kebawah tepat di depan kakinya teronggok sebuah surat undangan...


Acara pertunangan ...


Yaa, kekasihnya itu lebih memilih wanita yang cantik dan mungkin kaya raya sederajat dengan dia ...


Miris memang, berfikir tentang fakta dibelakang mereka mungkin dirinya takkan kuat menahan luapan emosi dan air mata yang mulai berkumpul lagi dipelupuk matanya ...


Betapa bodohnya ia selama ini dibohongi dengan membabi-buta ...


Percaya dengan semua perkataannya...


Seharusnya ia tau ... seharusnya ia menampar mencaci lelaki itu saat direstoran ...


Tapi sejak kapan ???!!


Pikirannya buntu.


Ia kacau.


Berjalan sempoyongan seperti orang linglung ia berjalan pulang menuju apartemen sederhananya menghiraukan tatapan orang disekitarnya yang melihat dandanan dirinya yang super berantakan terlihat kemeja kerja longgar putih yang terlihat kumuh dan kotor karena insiden tadi dengan rambutnya yang acak-acakan.


Dari kejauhan dipinggir jalan terlihat sebuah mobil mewah hitam di dalamnya duduk seorang lelaki dengan jas formal melihat kearah wanita tersebut, Kemudian tersenyum miring melihat keadaan yang dialami wanita mungil itu, dirinya melihat kejadian yang dialami wanita itu dari awal hingga akhir.


kenapa para wanita selalu bodoh jika berhadapan dengan rasa menjijikan itu ?!!..


dan entah kenapa lelaki itu merasa kesal melihat wanita itu karena respon yang diberikannya pada lelaki yang jelas-jelas menyakiti hati wanita itu. melihat bahu mungil yang bergetar kemudian berjalan dengan kosong, lelaki itu hanya menatap dingin kepergian sosok wanita itu yang tenggelam dalam tubuh-tubuh yang berlalu lalang lewat.


"Ck wanita bodoh ... cari identitas nya ... buat dia datang kepadaku ...", perintah dingin lelaki tersebut yang membuat bawahannya berkeringat dingin.


Bawahannya terlihat mengasihani wanita itu.


.


.


.


.


.


.


Ia dengan santai masuk kedalam taksi.


Tapi, dipertengahan jalan. kembali, ia melihat mobil mark yang terparkir dipinggir toko pakaian wanita bergensi.


Apakah pakaian itu untukku ??, pikir lucia senang. senyuman manis terbentuk dibibirnya. Ia memberhentikan taksi miliknya, bermaksud untuk ikut mencarikan pakaian untuk mark juga.


Tapi, ia harus terdiam saat melihat mark keluar dari toko itu bersama dengan wanita lain.


Tas belanja, senyum bahagia dan tatapan kagus serta iri dari para pegawai disana. Ia tak ingin pikiran negatif mengotori pikirannya, bertanya pada salah satu pegawai disana.


"siapa dua orang itu ??", tanya lucia.


"mereka ??.. hahah sepasangan kekasih, lihatlah sangat jarang aku melihat ada seorang pria seloyal itu pada wanitanya, mereka juga sudah menjadi tamu VIP tempat ini, Mrs. apa yang anda butuhkan ??", tanya pegawai itu.


" Tidak, tidak ada", jawab lucia kaku.


Dan sampai lah ia pada insiden itu, ia terlalu lelah untuk mencerna segalanya.


.


.


.


.


.


.


.


Sebuah apartemen minimalis sederhana terlihat rapi dan nyaman dengan benda-benda yang ditempatkan ditempat yang pas dan tidak berlebihan itu. Lucia lewati begitu saja, ia berjalan menuju kamarnya. setelah menaruh semua barangnya, dirinya mandi membersihkan diri.


Keluar dari kamar mandi, wajah fresh terlihat dari wanita mungil ini dengan hanya memakai sepotong handuk yang melilit di badannya berbeda jauh dengan penampilannya saat memakai kacamata.


Kulit wajah yang lembab kemerahan karena terkena uap air hangat saat mandi membuat pipinya terlihat sangat kenyal dan muda dengan bulu mata yang lebat alami serta alis willownya yang terbentuk dengan rapi jika setiap hari ia tak menutupinya dengan kacamata jadul yang hambir menutupi sebagian atas wajahnya, tanpa ia sadari mungkin pandangan manusia lain akan berbeda.


Semua itu terjadi karena racun ucapan yang telah ia terima dari kecil.


Lucia mengambil acak baju kaos oblong yang menenggelamkam tubuhnya dan langsung memakainya kemudian menyisir santai rambut hitam panjangnya.


Ia berjalan perlahan menuju dapur mini nya memanaskan sedikit makanan kalengan siap saji.


Tubuh mungil nya perlahan membawa mangkuk makanan dan membawanya ke ruang tamu.


Sembari menonton tv dia memakan makanannya ....


Sampai sebuah berita trending yang sontak membuat nya menjadi lebih syok dan lemah , melihat berita itu sudah tak ada lagi nafsu makan untuk lambungnya.


Dalam siaran berita gosip itu terlihat kekasihnya ahh tidak mantan kekasihnya Mark mencium mesra Jessie artis yang sedang naik daun itu.


Mereka terfoto paparazzi saat berkencan beberapa pekan yang lalu disebuah restoran dengan mesra dan terlihat tangkapan kamera yang memperlihatkan mereka berdua juga berciuman disamping mobil, melihat latar tempat sepertinya mark yang mengantar pulang jessie dan seakan mereka berdua membiarkan paparazzi memfoto kegiatan mesra tersebut tanpa malu-malu.


Lucia meringkuk sendirian di sudut gelap. Semua barang-barang yang ada didalam kamarnya telah berantakan termasuk satu botol obat putih kecil yang isi nya berceceran kemana-mana.


Ia menatap ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya.


Ia berharap ponsel itu berdering.


Ia berharap ponsel itu segera menyala.


Tapi, ia tetap tak menerima apapun darinya.


Lucia semakin memeluk dirinya sendiri. Ia ingin meraih kaki mark, ketika lelaki itu pergi meninggalkannya tapi yang ia dapatkan hanyalah tamparan keras dipipinya. bahkan rasa ngilu dan lebam di sudut bibirnya masih ada. Tapi, ia akan tetap meraih kaki lelaki iti bahkan ia akan memintanya untuk tetap tinggal...


Kosong...


Kepalanya berdenyut sakit...


Dingin, terasa sangat mengerikan bahkan segalanya tidak lebih baik.


Lagi.


Butiran-butiran putih penenang itu masuk kedalam tubuhnya.