
Akhir pekan tanpa ada aktivitas apapun seperti hari-hari kerja membuat lucia kebosanan. ia tinggal di apartemen seharian penuh. Apalagi dengan, kekasihnya itu yang selalu sibuk walaupun akhir pekan seperti ini.
Ia melihat jam dindingnya, Sore. kemudian, ia berjalan malas kedapur kecilnya dan melihat isi kulkas miliknya hampir kosong bahkan beberapa kotak susu yang tersisa telah menunjukkan tanggal kadaluarsanya dan beberapa sayuran yanb telah mengering. menghela nafas karena kecerobohannya sendiri. ia langsung bergegas pergi keluar ke minimarket.
Jarak supermarket dari apatermennya agak sedikit jauh. dan jika menaiki taksi memakan waktu hampir 1 jam itupun jika ia bersantai atau terjebak macet akan lebih lama lagi.
Di dalam taksi, Lucia kini tengah kembali melihat daftar barang yang ia butuhkan di dalam list handphone miliknya. setelah merasa bahwa tak ada lagi barang yang ia butuhkan, tatapan mata lucia melihat kearah luar jendela kaca mobil. ia melihat banyak pasangan dengan berbagai jenis umut tengah berkencan dan bergandengan tangan ditaman kota ataupun didalam cafetaria.
Tanpa sengaja, ia menangkap siluet yang familiar dimatanya. ia dengan cepat langsung memberhentikkan taksinya dan langsung turun dari mobil taksi. ia diam-diam mendatangi siluet itu untuk menuntaskan rasa penasaran di pikirannya.
Kaki-kaki jenjang berbalut sepatu kets putih memasuki sebuah restoran mewah mengikuti kedua pasangan yang bergandengan tangan mesra tengah memasuki restoran mewah.
Duduk tak jauh dari mereka berdua, Lucia melihat dengan jelas bagaimana Mark yang duduk dengan seorang gadis cantik bergaun seksi. interaksi antara mark dan wanita itu terlihat mesra layaknya pasangan alami yang sudah lama mempunyai hubungan.
Lucia mengambil handphone nya dan menghubungi mark dengan gelisah tapi panggilannya tak diangkat, mencoba sekali lagi dan lagi akhirnya panggilannya diangkat oleh mark.
"Mark, kau dimana ?", tanya lucia langsung. ia melihat mark yang mengangkat teleponnya.
"Aku di restoran saat ini aku sedang makan bersama adik sepupu ku... kau dimana ?", tanya mark santai. Tangannya dengan santai menggenggam jari jemari lentik wanita dihadapannya, ia terlihat tersenyum manis pada wanita dihadapannya ini. dan Lucia tak bisa melihatnya.
"Ohh... aku sedang di supermarket berbelanja", jawab lucia yang masih melihat mark. Untuk kali ini, ia akan mempercayai lelaki itu. sepintas terlihat tak ada rasa sakit dihatinya apalagi pikiran negatif yang datang kepikirannya tapi hatinya berdenyut was-was. Ia kemudian diam-diam pergi tanpa menoleh lagi atau tanpa tau ketika kekasihnya itu menggenggam mesra tangan wanita seksi tersebut dan bahkan mengecupnya dengan mesra. tak terbesit dipikirannya bahwa kekasihnya akan menduakan atau meninggalkannya mengingat semua hal yang sudah mereka lalu bersama. Bagi Lucia, mark adalah cahaya dan penopang yang berarti untuk hidupnya karena mereka juga sudah mengenal satu sama lain sedari sekolah dasar dulu serta kedua orangtua mereka juga dulu berteman erat dan mempunyai kerjasama bisnis tapi itu dulu sebelum kejadian itu bahkan karena hal itu juga hubungan ku dengan ayah dan ibu mark sudah tak sedekat dulu tapi mungkin saja aku terlalu banyak berfikir, pikir Lucia kosong.
Dengan kacamata jadul yang menutupi sebagian wajahnya, lucia telah sampai di supermarket yang ia tuju. kakinya langsung melangkah masuk kedalam dan ia memilih-milih bahan-bahan untuk isi kulkasnya karena pekerjaannya dan proyek serta laporan-laporan yang harus ia kerjakan, dirinya tak lagi mempunyai waktu untuk sekedar melihat isi kulkas contoh kecilnya.
Ada banyak belanjaan yang tak sanggup Lucia bawa sendiri. ia menelepon Mark tapi karena tak kunjung diangkat, ia hanya bisa meminta jasa pengantar barang langganannya untuk membawa barangnya terlebih dahulu ke apartemen miliknya.
Di dalam taksi, Lucia menatap hampa pemandangan yang terpancar jelas diluar jendela mobil kuning ini, bagaimana raut bahagia dari orang-orang yang menghabiskan waktu akhir pekan mereka dengan orang terkasih atau mungkin keluarga mereka.
Betapa bahagianya itu, pikirnya sembari tersenyum.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke apartemen, dan ketika ia membuka pintu apartemennya yang menyambutnya hanyalah keheningan bisu di setiap sudut ruangan ini.
Lucia menggelengkan kepalanya pelan tak mau banyak berfikir lagi ia langsung bergegas masuk dan mengganti bajunya menjadi baju rumahan.
Seakan roda takdir berjalan dengan kecepatan cepat yang siap menabrak hatinya yang sangat rapuh walau ia berusaha sekuat apapun hasilnya tetap sama menghancurkannya hingga remuk sedemikan rupa lagi.
Secuil harapan yang selalu ia simpan didalam hatinya dari orang yang paling ia cintai tak pelak membuatnya merasa ia manusia paling menyedihkan yang haus akan belaian hangat sebuah kasih sayang dan perlindungan.
Tapi bukankah hal yang paling menyakitkan itu adalah di khianati orang yang paling kau percayai didunia ini ??....
Bukankah lebih menyedihkan jika kau berharap tapi tak ia harapkan ...
Biarkan ...
Biarkan takdir yang berjalan mengikatnya pada takdir kehidupan.
Ia hanya ingin menjalani kehidupan dengan tenang. seperti biasa lucia kembali menghabiskan waktu monotonnya dengan hal-hal monoton lainnya. ia tak bisa berhenti untuk tidak berfikir bahwa jika hari ini ia tidak mengeluarkan ide-ide cemerlang lainnya, mark akan kesusahan dan ia tidak ingin mark mengalami hal buruk karena ia akan merasa putus asa dan tak berguna baginya, hanya cara itu cara yang bisa ia berikan sebagai salah satu cara dirinya menunjukkan perasaan cintanya.
Ia yang masih duduk di meja kerjanya hanya bisa terdiam, melihat kesamping jendela kamarnya yang tepat disisi lain menghadap kearah kota.
Ketika matahari beranjak sore, lucia baru pergi keluar dari dalam ruang kerjanya. ia pergi menuju ke samping balkon kamar miliknya.
"hey, Pluto, Bigboy, Babypink ", sapa lucia pada tanaman yang ia tanam dibalkon kamarnya.
Nama aneh itu adalah hal yang terlintas dipikirannya saat melihat kaktus kecil berbunga ungu, pluto. dan yang lainnya hanya karena mendapat inspirasi lainnya.
Ia menyirami tanaman-tanaman yang ia rawat, sembari bersenandung ringan tanpa menyadari ada sosok lain di ujung gedung yang juga tak sengaja memperhatikan gerak geriknya.
Lria itu sedikit mendengus saat melihat bagaimana wanita asing disisi lain gedungnya tengah memanggil tanamannya dengan nama konyol, hal itu terlihat dari gerak bibir wanita itu.
"Konyol", ucapnya sembari mendengus.
Lelaki itu menutup kasar kain jendela balkon miliknya dengan kasar. Ia tak biasa berada dalam sinar terang matahari senja. segala hal baginya adalah hal yang menjijikan.