
Keesokan jam istirahat cilla segera menuju kantin untuk mencari orang yang dia cari, dan ya sesuai tebakan cilla orang yang dia cari berada dikantin dengan santainya.
Cilla pun berjalan dengan cepat menuju ke arah meja orang yang dicarinya ya siapa lagi kalau bukan Alfero Arga Winata orang yang menabraknya 3hari yang lalu.
“Kenapa cil? Nyari siapa?” Ucap kenzie yang melihat cilla yang sudah berada di meja makan geng nya
“Gue nyari temen lo, mau nanyain motor gue dimana” ucap cilla sambil memberi tatapan tajam ke arah fero
“Motor lo rusak parah hingga 75% dan fero gak mau ribet jadi di ganti sama yang baru” jawab Arnav meyakinkan cilla
“Terus gimana dong? Gue gak mau makai barang yang bukan milik gue dan gimana caranya gue ngasih tau ortu gue aghh” ucap cilla sambil memegang dahinya yang pusing
“Gue aja yang ngomong sama ortu lo soal motor lo” ucap kenzie
“Aghh yauda deh” ucap cilla yang udah pusing, dirinya yang hendak pergi pun tiba tiba seseorang datang mendorongnya hingga mundur punggungnya pun membentur meja yang ada di belakangnya.
“Gatel banget sih lo jadi cewek, ada urusan apa lo sama cowok gue, gila sih berani berani nya ngomong sama temen temennya cowok gue, cantik lo?” Maki Anya ke cilla, cilla yang makin pusing pun segera mendongak kan wajahnya dan melihat siapa orang yang mendorongnya sekaligus me makinya.
“Cantik boleh, tolol jangan” ucap cilla sambil memegang kepalanya yang sangat pusing dan berusaha berlalu pergi dari sana, ya mereka seketika menjadi pusat perhatian di kantin
“Yang nyuruh lo pergi dari sini siapa” ucap anya geram sambil menarik rambut belakang cilla, cilla yang rambutnya ditarik kuat pun seketika terhuyung ke belakang hendak jatuh, fero pun menangkapnya, cilla seketika pingsan tidak kuat menahan kepalanya yang sakit
Fero pun segera menggendong cilla ke Uks, dirinya sedikit berlari diikuti ke tiga temannya, fero melihat wajah cilla yang pucat pun segera mempercepat langkahnya
"Cewe gila" umpat fero ke anya sebelum berlari membawa cilla ke uks, anya yang dikatain gila sama fero tidak terima ingin membalas perkataan fero tapi segera ditatap tajam oleh ke tiga teman fero
Sampaila fero didepan pintu uks dengan nafas yang masih tersenggal senggal.
“Buka” titah fero, kenzie pun segera membuka pintu Uks, fero pun meletakkan tubuh cilla disalah satu brankas Uks
“Minum, Makan, Perawat” titah fero singkat yang dimengerti ke tiga kawannya, kenzie mengambil minum, Arnav memanggil perawat, Atta membeli makanan
Dahi cilla yang luka bekas tabrakan mengeluarkan banyak darah, ternyata lukanya masih basah dan fero segera membuka perban yang ada didahi cilla
“CEPAT” Ucap fero sedikit berteriak, membuat sang perawat Uks yang awalnya lamban menjadi tergesa gesa
“Keluar dulu ya biar saya aja yang ngurus” Ucap sang perawat, meyakinkan fero sambil membersihkan darah yang ada didahi cilla
“Fer lengan baju lo kenak darah cilla, ayok kita bersihin” ucap Kenzie tapi tak di gubris fero, fero pun berjalan ke arah kantin dan diikuti oleh kenzie dan arnav
Menemukan orang yang sedang dicarinya, fero segera menuju meja cewek tersebut dan menghampirinya.
“Jablay, gak usah ngaku ngaku pacar gue lo, tipe gue bukan janda kayak lo jadi gak usah ngarep, bangsat di diamin nge lunjak harga diri lo dimana?” Ucap fero emosi sambil menarik keras lengan anya hingga terjatuh, fero pun segera berbalik menuju Uks, anya yang masih berada diposisinya pun jadi pusat perhatian dan tontonan se isi kantin
Sebelum masuk ke Uks fero memutar badannya dan melihat ke arah Atta sambil mengadahkan tangan seseolah bertanya mana makanannya.
Atta yang paham pun segera memberi plastik putih yang berisi bubur ayam yang di belinya tadi, fero pun segera masuk ke dalam Uks dan menutup pintunya, ketiga temannya pun terbengong melihat sikap fero mereka yang paham pun tersenyum dan berlalu meninggalkan Uks menuju kantin
Fero yang melihat perawat masih memberi minyak kayu putih ke hidung cilla, fero segera duduk dikursi sebelah kasur cilla, perawat uks yang paham pun memberi tahu
“Pendarahan nya sudah berhenti, jangan di bikin pusing lagi ya soalnya kepalanya seperti habis terbentur, dan ini minyak kayu putih taruh dihidungnya biar dia lebih rileks, nanti kalau udah bangun dikasih makan ya dan di nakas ada obat penambah darah dikasih minum juga” Ucap perawat Uks panjang lebar dan langsung berlalu keluar dari ruangan Uks
Fero yang paham pun segera mengangguk dan tak lupa menutup gorden yang menutupi kasur cilla, tinggal lah mereka berdua fero pun segera melakukan apa yamg disuruh sang perawat
“Cantik” ucap fero pelan sambil memandangi seluruh wajah cilla dari bulu mata yang panjang nan lentik, bibir merah ranum yang tipis dan tangan kiri fero sedikit menggeser poni cilla yang menutupi dahinya yang tertutup perban, tangan kanannya masih memegang minyak kayu putih
1jam kemudian cilla pun membuka mata nya perlahan dan mengedarkan pandangannya melihat dirinya yang sedang berada di Uks, cilla yang merasakan tangannya di genggam sesuatu pun segera melihat ke arah tangannya, betapa terkejut dirinya melihat siapa yang menggengam tangannya
Ternyata fero ikut tertidur dengan posisi duduk kepala berada di kasur tempat cilla berbaring dan tangannya menggenggam tangan cilla, cilla yang hendak menarik tangannya pun mengurung niatnya dan melihat wajah fero dengan seksama
Alfero Arga Winata, memiliki postur badan yang tinggi tegap dan memilikki hidung mancung, Rahang tegas, alis tebal yang rapi, mata coklat terang dan bulu mata yang panjang melentik, jika dilihat lihat dia lah makhluk tuhan yang paling sempurna, satu kata dari cilla yang mendeskripsi kan seorang Fero yaitu “Tampan”
Fero yang merasakan pergerak cilla pun sebenarnya sudah terbangun tapi dirinya tetap diam karna dirinya sedang ditatap oleh cilla ya dia merasakannya
Cilla asik menatap wajah fero hingga tak sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan juga oleh fero, cilla yang sadar pun segera menarik tangannya dan duduk dikasurnya, fero pun sedikit merenggang kan punggungnya yang sedikit pegal, fero pun segera memberi cilla minum dan membuka kan sterofom yang berisi bubur ayam kepada cilla
Cilla yang pahampun segera mengambilnya dan memakannya, terakhir cilla diberi obat berwarna merah oleh fero, dirinya pun memandangin obat tersebut dengan ragu
“Obat penambah darah, dahi lo berdarah” Jelas fero ke cilla, dan cilla meminum obat tersebut
Bersambung