
Ruel berjalan sepulang dari rapat para pimpinan. Dia harus segera mencari puluhan ribu orang dalam waktu singkat ini, dia mencari cara dan menjumpai bahwa ia bisa menteleportasi seseorang dengan sihir yang harus ia pelajari dan latih terlebih dahulu.
"Memang benar tujuan utama ku adalah mencari rakyat, tetapi bila ingin membebaskan budak. Hmm, aku akan berurusan dengan bisnis bangsawan besar kah, belum lagi harus melawan balik Kekaisaran."
Alhasil, setelah beberapa kali ia memikirkannya ia akan mengundang para warga desa yang hidup tanpa berada di wilayah Kerajaan maupun Kekaisaran, dengan kata lain mereka sendirian. Akan sulit untuk membawa mereka kedalam Kerajaan bila hanya menggunakan iming-iming memperbagus kehidupan.
Oleh karena itu, hal yang paling ia butuh kan saat ini bukanlah janji manis, paksaan, ataupun undangan semata, melain kan hasil nyata!. ia harus membeli banyak hasil panen mereka dengan harga sedikit lebih mahal. Dan juga, ia harus menjalin koneksi dengan membuat suatu bidang ekonomi yang bernilai tinggi kepada Kerajaan tetangga.
"Alfaro!"
"Ya?! Tuanku." Seseorang dengan tubuh besar menyautnya, dialah komandan pasukan yang mengatur prajurit Kerajaan yang tersisa.
"Sebarkan pasukan dengan membawa emas Kerajaan, Akford dampingi ia untuk jaminan pengambilan emas pada bendahara Kerajaan."
"Siap! Tuanku." Seru mereka berdua bersamaan.
Mereka meninggalkan Ruel yang tengah tenggelam dalam pikirannya. Saat ini, Kerajaan miliknya tersebut tak lebih baik dari sebuah kota. Selain karena wilayahnya yang benar-benar sempit, juga karena hanya terdapat 3 kota yang mendukung wilayahnya.
Tentu saja tuan tanah tiap kota tersebut merupakan orang-orang yang terpilih sebagai bidaknya. Oleh karena itu ia bisa tenang mengurus ibu kota tanpa cemas berlebih pada kota-kota tersebut. Selain itu, bila ada masalah Ruel yang telah ahli dalam politik bisa menyelesaikannya dalam sekejap mata.
"Saat ini, di Kerajaan hanya memiliki 100 penjaga."
Ruel memikirkan ide untuk membuat sebuah pasukan khusus. Dengan segera ia mengumpulkan pasukannya dan membawa mereka ke lapangan Kerajaan. 100 orang berbaris rapi tanpa ada suara sedikit pun, mereka bagaikan boneka hidup yang dijalankan oleh Ruel.
"Kalian, latih lah fisik kalian semaksimal mungkin. Aku akan menjumpai kalian lagi dalam 3 minggu, selama itu gunakan waktu kalian sebaik mungkin untuk melatih tubuh."
Tak ada jawaban, tentu saja lagipula mereka juga hanya boneka hidup. Kemudian, untuk beberapa waktu kedepan Ruel akan berlatih sembari menunggu komandan pasukan kembali dari tugasnya dan membawa berita baik maupun buruk olehnya.
Beberapa hari telah berlalu, Ruel telah menyelesaikan latihannya dan telah menambahkan kekuatan sihirnya secara signifikan. Ia juga mendapatkan beberapa kemampuan baru yang akan bermanfaat baginya dalam jangka waktu mendekat.
Setelah itu, Ruel menghampiri para pasukan yang akan ia latih untuk menjadi pasukan khusus Kerajaan. Dia menjelaskan secara rinci mengenai pelatihan yang harus mereka lakukan, sebab mereka tidak memiliki emosi, maka Ruel tidak perlu berlama-lama menjelaskan kepada para prajurit rinciannya.
Begitu ia akan melangkah pergi, seseorang menghentikannya. Dialah Alfaro, Komandan pasukan yang ia tugaskan mencari rakyat yang mau tunduk dibawah kepemimpinan Raja Ruel.
"Maaf menyela Tuanku!"
"Katakanlah apa yang akan kau katakan."
"Baik!, saya telah kembali dari tugas. Kemudian untuk laporannya dari 29 desa yang sudah kami datangi, hanya ada 17 yang menerima untuk pindah kemari. Selebihnya, mereka masih enggan akibat ragu akan permintaan yang... sedikit aneh ini."
Sembari menyerahkan dokumen, Alfaro menjelaskan juga alasan mengapa desa sisanya tidak menerima undangan dari Ruel. Dan itu adalah sebab permintaan aneh yang meminta seisi desa pindah menuju ibukota.
Memang ia seharusnya membawa penduduk dari kota dibawah kepemimpinannya. Namun, bila dengan begitu artinya sama saja mengurus banyak dokumen yang terkait dengan pemindahan indentitas maupun pengulangan cap Kerajaan. Singkatnya, tugas Ruel akan bertumpuk.
Selain itu, bila membuat rakyat kota semakin disanjung, mereka hanya akan berakhir menjadi besar kepala dan bertingkah sembrono. Tentu saja itu sangatlah merugikan pendatang baru nantinya, sedangkan bila memilih warga desa untuk menjadi bagian ibukota, mereka akan lebih sungkan dan terkesan bermoral tinggi ketimbang warga kota.
Bagaimanapun, akan banyak pengunjung dari luar Kerajaan yang sering berkunjung. Mereka harus memiliki adat dan tata krama yang mumpuni agar dipandang sebagai orang beradat. Bila Kerajaan sudah mendapat kesan buruk diawal kebangkitannya, itu sama saja bunuh diri.
Tentu Ruel tak ingin mengulanginya lagi, oleh karena itu ia lebih memilih pilihan rasional ini.
"Siap dilaksanakan!"
Ruel meninggalkan tempat, ia masih disibukkan dengan setumpuk dokumen yang menunggunya di kantor Raja. Selama beberapa waktu kedepan, Ruek akan berfokus pada ekonomi agar lebih dikenal oleh banyak Kerajaan. Dan itu semua dengan catatan, bahwa ia tidak boleh memberatkan masalah pajak dan harus tetap pada visinya, untuk membangkitkan seluruh Kerajaan.
...•••...
Dilain tempat, seorang dengan pakaian mewah menyeduh teh yang terlarut dalam air panas. Ia meneguk seteguk teh tersebut dan menghela napas.
"Jadi, yang ingin kau laporkan adalah bahwa kau kehilangan kendali atas Kerajaan kecil tersebut?"
"Ma-maafkan tuan."
Dia berdiri dari duduknya, memandang keluar dari jendela kaca di ruangan gelapnya tersebut. Mereka berdiam diri untuk beberapa waktu dan menelan mereka kedalam keheningan.
"Nah, lihat lah. Sebuah kota damai dan tentram."
"Bunga tidak kenal kotoran yang menyuburkan nya. Itulah istilah yang tepat bagi para bangsawan ini."
Orang yang melapor padanya bercucuran keringat. atmosfer ruangan serasa berat bagaikan tak ada udara yang tersisa disekitar mereka.
"A-akan tetapi tuan, se-seorang penyihir muncul dan seorang diri membinasakan kami semua."
"Hoo!?, lalu yang ingin kau katakan bahwa ada penyihir yang setingkat Akford hidup kembali kemudian membalas dendam kepada orang orang kita."
Dia menyeruput tehnya kembali, kali ini dengan ritme yang lebih cepat dari sebelumnya, dia terlihat terburu-buru. Apakah ada sesuatu yang akan terjadi pada hal yang bersangkutan dengannya?.
"Kau hanyalah seorang baron!, beraninya menentang ku dengan membuat alasan konyol tak berguna seperti itu!
kau pikir berapa biaya yang ku keluarkan untuk menjamin Kerajaan Ashdom?, itu lebih dari 2 juta emas!, 2 juta emas!.
Kau mengerti? bahkan tubuhmu tidak cukup untuk membayarnya.
Sekarang, bila kau masih sayang nyawa. Akan kuberi waktu 7 bulan hingga musim panas berakhir. Setelah itu tidak ada kegagalan yang menunggu ku dalam laporan."
"Mengerti?"
" APA KAU MENGERTI! " dia sungguh mengulangi ucapannya dua kali.
"sa-sa-saya me-mengerti, tuan."
Orang suruhannya pergi keluar dari ruangan membuatnya menatap kosong langit malam, dia duduk di meja kerja dan memejamkan matanya.
"Hmm, yang mengerikan dari ular bukanlah taringnya, tetapi bisanya."
"Menarik!"
TBC