
Ruel terbangun di tempat antah berantah. Dilihatnya sekelilingnya reruntuhan bangunan yang masih terdapat banyak mayat tergeletak disekitar Ruel.
Suasana mendung dan gerimis kecil membuat banyak genangan darah tercipta.
"Apa-apaan, ueghh."
Dia memuntahkan isi perutnya dan segera berdiri. Satu tangan memegangi kepalanya sedangkan satu lainnya menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dia menggeram kesakitan saat isi otaknya serasa meleleh dalam kepala.
"Aku tidak mengingat apapun, hanya Ruel dan kemampuan membangkitkan orang mati yang ada di otak ku ini."
Dia terhuyung menahan agar tidak terjatuh dari sakit kepala yang masih tak kunjung reda. Dilihatnya pasukan berzirah tengah bergerombol di salah satu tempat disana. Ruel bermaksud meminta pertolongan agar mereka memberi bantuan terhadapnya karena kondisinya yang buruk saat ini.
"Permisi. Bisakah anda membantu saya?"
Prajurit itu terdiam, mereka mencermati mulai dari pakaian maupun wajah Ruel, kemudian salah satu diantara mereka mendekat. Mengira bahwa itu merupakan pertolongan membuat Ruel juga menghampirinya.
"Dasar rakyat jelata!"
Prajurit itu melayangkan tinju memaksa Ruel terpental mundur ke belakang. Sekali lagi kepalanya terserang pusing yang tidak masuk akal. Ruel bertanya-tanya, apa kesalahan yang telah ia lakukan hingga membuatnya berakhir menerima pukulan dari setiap orang yang ada disana hingga membuatnya pingsan.
...•••...
Perlahan, Ruel menggerakkan tubuhnya. Ia membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya berada dipenjara. Dia menjumpai seorang yang sepertinya juga tertahan disana dan berada di sel yang sama dengan Ruel.
"Kau sudah bangun, apakah lukamu sudah mendingan?"
"Ah, maaf. Aku Rumina, tadi kau pingsan ketika dilemparkan kemari aku merawatmu dengan bahan seadanya."
Ruel memandang heran wanita itu, dia terlihat kikuk dan sulit berkomunikasi. Ruel tertawa ringan, dia terkejut dengan sikap wanita yang mungkin saja lebih tua beberapa tahun darinya itu.
"Pfft hahaha.ah, maaf aku baik saja, terimakasih banyak atas bantuan mu."
"Syukurlah."
"Omong-omong aku Ruel. Oh benar juga,kenapa kau di penjara. Sebenarnya aku juga tidak mengerti mengapa aku berada disini."
Rumina, seorang wanita yang merawat Ruel terlihat terkejut. Ia sulit mengendalikan ekspresinya membuat Ruel paham bahwa perkataannya ada yang keliru.
"Begini, sebenarnya aku kehilangan ingatan ku. Aku tidak begitu ingat apa yang sebenarnya terjadi."
"Kasihan sekali, kalau begitu biar ku ceritakan... "
Rumina berbicara banyak hal mengenai sotau yang sedang terjadi, terutama alasan mengapa mereka berakhir di penjara ini. Mereka ternyata berasal dari Kerajaan kecil bernama Ashdom, di Kerajaan ini mereka hidup secara sederhana dan tentram.
Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu Kekaisaran tetangga yaitu Kekaisaran Holy Unicorn mengajukan perluasan wilayah hingga memaksa agar Kerajaan tunduk dibawah kekuasaan mereka. Namun, Kekaisaran yang berada di tenggara ini telah dikenal akan kebusukannya. Termasuk pematokan standar pajak yang mencekik.
Alhasil protes para penduduk berhasil, membuat sang Raja menolak perluasan wilayah Kekaisaran. Hingga tindakannya membuat Kekaisaran menggunakan jalur perang yang mana hal tersebut merugikan Kerajaan Ashdom.
Akhirnya, mereka menang telak dan membuat Kerajaan hancur hingga ke akar-akarnya. Kini mereka hanya menunggu hingga pasukan Kekaisaran tiba untuk membawa mereka menjadi seorang Budak.
"Dingin sekali ya, disini andaikan aku bisa menggunakan sihir, " Rumina mendekap tubuhnya sebab udara yang memang membekukan kulit.
"Begini saja."
Ruel mendekap Rumina dengan tujuan mereka berbagi suhu badan untuk mengurangi udara dingin disekitar mereka. Rumina yang mendadak didekap juga terkejut hingga akhirnya ia menyerah sebab hangatnya suhu tubuh Ruel yang nyaman.
"Kau tahu Ruel, ayahku seorang penyihir hebat. Bahkan dia diakui oleh seluruh Kerajaan. Akan tetapi diperang kemarin, dengan bangganya ayahku mengatakan, berjuang! hingga akhir hayatnya."
"Aku penasaran ayahmu orang seperti apa."
"Dia orang dengan wajah yang mengerikan!, hehe itu karena dia punya bekas luka di mata kirinya."
"Wah."
Mereka akhirnya terlelap dengan posisi yang sama hingga pagi hari menjelang. Ruel yang terbangun menyadari bahwa Rumina telah menghilang dari dekapannya, hal itu tentu membuatnya panik karena trauma masa lalu yang mirip dengan kejadian saat ini.
"Rumina!!" Teriak Ruel terbangun dari tidurnya.
"Maaf, kupikir kau pergi menghilang."
Wajah Ruel sayu, ia terlihat kesepian dan Rumina sigap mendekat dan mengelus rambut Ruel perlahan. Ruel merasa lebih tenang sekarang, ia tidak merasakan lagi perasaan pahit yang ia benci sebelumnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, terimakasih."
Rumina hanya tersenyum melihat Ruel, terkadang ia bisa bersikap seperti anak kecil juga ya pikirnya. Kesan awal rumina pada Ruel adalah orang berkepribadian teguh dan serius, namun hal itu lantaran ia menilai dari wajah Ruel yang benar-benar tegas.
Tak lama kemudian sebuah dentingan besi menggema di penjuru ruangan. Beberapa orang mulai keluar dari sel lalu berjalan pergi beriringan. Hal itu diikuti oleh dibukanya sel rumina oleh salah seorang Ksatria penjaga disana.
Mereka berdua keluar, mengikuti kumpulan orang yang sudah lebih dahulu pergi didepan mereka.
Ruel ingin bertanya, namun melihat kesatria di belakangnya membuat ia mengurungkan niatnya.
Bisa jadi ia curiga dengan identitas Ruel, dan membuat kondisinya lebih sulit dari ini.
Mereka berakhir di sebuah lapangan luas. Didepan mereka ada meja yang di atasnya tertumpuk piring menjadi beberapa bagian. Ruel menyadari bahwa itu merupakan waktu sarapan mereka, kebetulan Ruel sudah tidak memakan apapun belakangan. Mereka mengambil piring dan mengantri untuk mengambil makanan.
Setelah selesai, Ruel hanya bisa mengekor pada Rumina hingga mereka berakhir di sebuah kelompok orang yang terdiri dari seorang pria tua, seorang wanita yang sudah berumur sekitar 40 tahunan, dan gadis kecil dipangkuannya yang kemungkinan besar anak dari wanita itu.
"Ruel, perkenalkan mereka ini kenalan ku. Kakek Gru, tante Ola, dan anaknya Lucy."
"Selamat pagi, saya Ruel."
"Salam kenal,Ruel." Sapa wanita bernama Ola disana.
Sedangkan untuk pria tua itu hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Ruel maupun rumina duduk dan ikut memakan makanan tak layak di perut tersebut. Ruel sendiri memaksakan dirinya agar bisa menelan setiap suapannya hingga tak terasa piringnya telah kosong tak bersisa.
"Tante, kau baik saja?. Kemarin aku melihatmu dibawa pergi oleh prajurit."
"Aku baik saja Rumi, untuk sekarang mari kita tidak berpikir tentang hal yang tidak perlu."
Mereka menyelesaikan makannya dan mengembalikan piring mereka. Hingga saat ini Ruel masih belum mengungkapkan kekuatannya pada Rumina. Sebab, dia masih harus mencari waktu yang tepat agar tidak dicurigai oleh sipir penjara.
...•••...
Ruel sudah kembali pada sel penjaranya. Bersama Rumina, mereka berdua kembali berbincang- bincang mengenai hal-hal yang tidak Ruel ketahui. Mengenai dunia ini juga misalnya.
Beberapa waktu berlalu, tak terasa waktu sudah berlalu hingga senja sudah tiba. Mereka sekali lagi keluar dari sel untuk makan malam dan sama seperti sebelumnya hal itu ditandai dentingan besi hingga Ruel maupun Rumina kembali menuju lapangan luas sebelumnya.
Ruel sekali lagi menyapa kenalan Rumina, yaitu kakek Gru, Ola, maupun anaknya Lucy. Mereka menyelesaikan makan malam dengan diisi oleh percakapan kedua wanita disana.
Hingga waktu makan telah habis, Mereka kembali menuju sel penjara. Akan tetapi, ketika mereka akan kembali Rumina ditarik oleh beberapa orang prajurit disana dan bermaksud dibawa pergi.
"Hei! jangan melawan." Perintahnya saat Rumina mengelak.
Ruel yang melihatnya juga ikut membantu melawan Prajurit tersebut.
"Apa-apaan kau ini!" Bentak Ruel marah.
"Sudahlah Ruel tinggalkan saja aku."
"Tidak!, aku tidak akan meninggalkan mu." Ucap Ruel serius.
"Kurang ajar, padahal hanya rakyat jelata. Berani beraninya kau bertingkah." teriak Prajurit lainnya tak menyukai ucapan Ruel.
Prajurit itu mengeluarkan pedang dari sarungnya, dan menebas ke arah Ruel, dengan cekatan Ruel menghindar tanpa mengetahui dari belakang seorang prajurit bersiap menghunus kan pedang.
"Ruel!"
Darah menetes dibalik bilah nya, Ruel secara reflek menangkap tubuh Rumina yang ambruk, ia terkena tusukan pedang itu.
TBC