
"London bridge is, Falling Down... Falling Down ♪"
"London bridge is, Falling Down... My Fair Lady ♪"
"Lalala... Lalala ♪"
Sosoknya rapuh berdiri diatas kursi, dipegangnya tali bersimpul yang sudah terikat dilangit-langit ruangan. Sekitarnya hanya ada sampah berserakan dan sangat kotor.
"London bridge is, Falling Down... Falling-"
Dia melompat.
Dengan cepatnya ia tak ragu mengalungkan tali tersebut diantara lehernya. Nafasnya semakin sesak tak karuan, tubuhnya membiru tak menarik udara masuk kedalam paru-parunya.
"Mama, Papa, Kakak. Mati ternyata sakit ya... tunggu sebentar saja, aku akan menyusul kalian."
Dia membeku tak bergerak lagi. Tak ada nafas yang ia hembuskan, begitu pula dengan wajahnya yang berwarna biru pucat.
Dia mulai berhalusinasi, didepannya keluarganya yang telah tewas kecelakaan beberapa waktu lalu menyambutnya dan mengelilinginya. Dia bisa tersenyum. Meskipun ilusi, itu artinya ia tak begitu mempedulikan realitas lagi.
"Selamat datang, Ruel." Ucap mereka serentak.
"Kalian semua... Aku datang, Ugh."
Sesaat sebelum dia menggapai mereka, sebuah tombak menusuk jantungnya. Ilusi tadi pudar menjadi serpihan debu yang semakin menjauh setiap waktunya. Tombak yang tadinya tak terlihat, semakin terlihat panjang dan panjang.
Di ujungnya, makhluk raksasa dengan tanduk melemparkan tubuhnya ke dalam kubangan lahar panas yang mengalir deras. Disekitarnya banyak teriakan dan jeritan yang memekakkan telinga. Namun, Ruel tetap diam dan menampakkan raut wajah kosong.
Dia tak mempedulikan rasa sakit yang menimpanya. Sebab, yang lebih penting ialah dimana keluarga yang sebelumnya menyambut kepulangannya. Mengapa di tempat itu hanya terlihat seperti neraka, atau memang itu neraka.
"Loh?, Semuanya hilang."
Emosinya semakin meluap, dia mengingat jelas rupa semua keluarganya dan ucapan mereka saat masih dalam kehidupan dunia. Yaitu ucapan membekas yang selalu Ruel ingat dan simpan di relung hatinya.
"Kita akan selalu bersama, Ruel."
Siksaan neraka tidak menganggu pikiran Ruel. Dia bergelut dengan fakta dan realitas yang tertawa diatas penderitaan dirinya. Hanya satu jenis emosi yang ruel rasakan.
Emosi negatif.
" Bajingan. "
Emosinya semakin meluap seiring waktu, dia melanjutkan sumpah serapah nya dan mengulangi terus menerus. Andaikan emosi Ruel diukur dalam sebuah bar, maka pasti akan langsung menembus batas yang telah ditentukan.
...•••...
Sementara itu, dilain tempat yang megah nan bernuansa merah pekat. Seseorang memakan anggur yang ungunya menggugah selera. Disekitarnya iblis dan sejenisnya berkerumun menyanjung dirinya.
"Membosankan, setiap hari melihat hal yang sama membuatku muak. Apakah ada hiburan yang menarik hari ini?"
"Tuan, anda tidak diperkenankan untuk keluar dari neraka hingga masa inkubasi telah selesai."
"Cih, merepotkan."
Dia terduduk diam, memanggul rahangnya dengan tangan kiri kemudian menghela nafas panjang. Sesaat setelahnya, hidungnya bergerak-gerak mengendus aroma yang familiar.
"Ini, mungkinkah."
Dia berdiri dari duduknya menuju balkon dari kastil tersebut. Tubuhnya membusung kedepan sembari kedua matanya yang tertutup lalu mengambil nafas panjang. Dia benar-benar tertarik pada sesuatu kali ini huh.
"Tuan, anda tidak diperkenan-"
Sesaat setelah berbicara, Iblis itu kehilangan wajahnya. Kepalanya terpental akibat bogem mentah sang Raja iblis. Dialah diablo, Raja iblis penguasa neraka yang selalu merasa bosan setiap saat. Oleh karena itu hiburan sekecil apapun pasti bisa memikat hatinya.
"Berisik, buruan mati sana. Hei kau!"
"Pergi ambil jiwa yang berbau sedap ini."
"Siap dilaksanakan tuan."
Dia terbang dari balkon secara langsung dan menghampiri jiwa yang Raja iblis maksudkan. Secara, perintah darinya selalu mutlak, Jadi apapun ucapan yang ia katakan maka para iblis hanya bisa menurutinya saja.
Lokasi yang dimaksudkan merupakan tempat Ruel berada. Ia masih tak menghiraukan siksaan yang terjadi pada tubuhnya berulang kali dan tenggelam pada kenangannya. Ruel, seorang yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat kematian keluarganya membuatnya bunuh diri dan berakhir disini.
Tak perlu waktu lama, iblis yang diperintahkan pergi oleh Raja iblis telah tiba dan langsung menyambar Ruel disana. Dia memegangi lengan Ruel yang tengah beregenerasi kembali. Sebab, bila tidak maka Ruel akan kehilangan tubuhnya dan tidak merasa tersiksa lagi sama sekali.
Beberapa waktu kemudian Ruel maupun iblis yang membawanya telah dibawa menuju kastil yang sebelumnya dihuni oleh Raja iblis. Sampai tiba disana Ruel masih enggan membuka mulutnya dan memikirkan mengenai ia yang terpisah dari keluarganya.
Melihat kondisi mengenaskan itu, Raja iblis yang sebelumnya ingin menyambut Ruel sedikit kecewa. Pasalnya ia berpikir bahwa ia mungkin akan beradu mulut dengan jiwa fana tersebut, sebelum akhirnya beradu pukulan.
Meski jelas terlihat pemenangnya siapa, namun akan menarik bila sesuatu seperti itu terjadi, bukan. Oleh karena itu ia menyembuhkan mental Ruel dengan sihirnya dan sekejab membuat Ruel tersentak dan kembali ke dunia nyata.
"Wah kau benar-benar menggila ya."
Ruel menatap acuh sang Raja iblis. Dia berdiri dan mendekati Raja iblis secara langsung. Tentu saja iblis lain bereaksi, namun Raja iblis menghentikan gerakan mereka dan sedikit menunduk akibat perbedaan ukuran tubuh antara ia dan Ruel.
"Hei kau, apakah aku telah dibohongi?" ucap Ruel parau.
"Hmm?... Aku tidak mengerti tapi, ayo buat kesepakatan!"
Ruel mengangkat sebelah alisnya menandakan bahwa ia tertarik. Sebuah kesepakatan apa yang akan dibuat oleh orang yang mungkin saja penting di hadapannya. Selain untuk kenyamanan, kesepakatan ada untuk keuntungan, bukan.
"Aku akan menghidupkan mu kembali ke dunia yang berbeda. Sebagai gantinya, aku ingin seluruh ingatan mu!"
"Ingatan?, apakah ini sejenis bila kau ingin sesuatu kau harus mengorbankan sesuatu?"
"Entahlah."
Ruel berpikir sejenak, di otaknya terisi apa yang akan ia lakukan meskipun dapat dihidupkan kembali? tak ada untungnya baginya untuk hidup kembali selain memiliki keluarganya disisinya.
"Kenapa, aku harus repot-repot hidup, kembali." Ruel sudah lelah dengan kehidupan, baginya itu merepotkan.
"Kukuku, sudah kuduga kau menarik!. baiklah, aku akan memberimu kemampuan yang sangat kau inginkan."
"..."
"Kemampuan untuk menghidupkan orang mati!"
Mata Ruel berkilau, ia mengingat saat sedang berada di kuburan keluarganya. Dia selalu berbicara mengenai dirinya akan membangkitkan mereka dengan cara apapun. Namun, hasilnya kosong. Semua riset yang berhubungan dengan ilmu Hitam miliknya berujung kegagalan.
"Akan kulakukan, cepatlah."
"Jangan terburu-buru. Tenanglah, ini juga hiburan bagiku untuk melihat akan menjadi seperti apa kau bila mendapat kemampuan ini."
Raja iblis membuat relief sihir yang aneh. Ia sungguh memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat sihir yang mampu membawa jiwa kembali hidup ke dunia. Meski begitu, ia melakukannya tanpa kesulitan apapun.
Sebuah kolam tercipta di lantai, Ruel menunggu intruksi oleh Raja iblis untuk memasukinya.
"Dengan masuk kemari kau telah menerima persyaratan ku untuk menghilangkan ingatan mu, Kau setuju untuk hidup lagi?"
"Tak perlu berbasa-basi."
Raja iblis terdiam, ini pertama kali dia dibentak oleh seorang manusia. Pengalaman yang tidak buruk juga pikirnya. Ruel langsung melangkah maju dan masuk kedalam kolam buatan tersebut, perlahan tubuhnya menghilang hingga ujung kakinya tak terlihat.
"Nah, mari lihat apa gunanya kekuatan milikmu tanpa orang yang penting bagimu? sebagai hadiah, mungkin akan kuberi cincin pengetahuan ini untukmu."
"Kekuatan Necromancer milikmu yang hanya sebuah kemampuan untuk menghidupkan mayat dan hanya akan ingatan pemiliknya dan bukan jiwanya. Akan menjadi seperti apa ditanganmu. Sial! aku tidak sabar."
TBC