
Tubuh Rumina ambruk, seketika Ruel menangkapnya sembari terkejut. Pikirannya kosong tak terpikir bahwa Rumina akan melindunginya.
"Rumina!"
"Ma-af, Ruel. Sepertinya, ja-nji kita untuk ke-lu-ar dan be-bas ber-sa-ma tidak terwu-jud."
Ruel menitikkan air matanya. Dia terkejut dengan kondisi Rumina yang secara mendadak kritis ini. Bahkan sebelumnya, dia masih melihat Rumina tersenyum. Ruel sangatlah merasa kehilangan selain karena mereka berada di sel yang sama, juga karena Rumina adalah teman pertama Ruel.
"Sudahlah, jangan katakan apapun lagi. Aku sudah menutup lukanya bertahan lah."
"Hei, apa yang kau lakukan bunuh saja prianya!"
"Mana kutahu perempuan bodoh ini akan melindunginya."
Ruel kehilangan kendali atas dirinya, sekali lagi emosi menguasai tubuhnya. Dia amat marah mendengar mereka menghina Rumina, dengan begitu Ruel bangkit dan berdiri.
"Perempuan bodoh?" Ucapnya dengan nada berat.
Prajurit disana merinding, namun ia tahu bahwa Ruel tak bersenjata. Mereka masih bisa melawan Ruel dengan jumlah dan senjata.
"Bunuh dia cepat!"
Salah seorang Ksatria maju kedepan bersiap menebas Ruel. Dengan cepat Ruel menghindari serangan lambat tersebut dan memegang tengkuk Prajurit yang menyerangnya.
"Matilah!"
Hii!!!
Sihir dari semua elemen dasar keluar dari tangannya. Ruel terus menyerang dan menyusuri tempat ia di penjara, dia telah dikuasai instingnya untuk membunuh setiap Prajurit yang mengurung mereka di tempat itu.
"Dia monster!, Lari!"
"Tidak ada manusia yang bisa mengendalikan seluruh Elemen."
Api, air, angin, tanah, dan petir saling bersautan. Saking banyaknya sihir yang dikeluarkan olehnya membuat Ruel hanya bisa melihat efek dari serangannya yang membabi buta. Ruel benar benar tenggelam dalam emosinya kembali, bagaikan insting predatornya bangkit ketika pemicunya di picu.
Ruel berjalan menyusuri tiap lorong penjara hingga ia menemukan pintu keluar. Dia langsung menyambar ketika melihat setiap Prajurit yang berlarian seperti semut ketika sarangnya hancur. Lucu sekali mereka ketakutan hanya karena kematian, mereka tidak berpikir untuk hidup selamanya, kan.
Serangan Ruel berlangsung beberapa saat, bahkan ia tanpa sadar membuat Golem maupun Prajurit yang terbuat dari elemen-elemen yang digabungkan menjadi satu tubuh. Mereka mengincar Prajurit-prajurit Kekaisaran hingga mereka tak bersisa.
Ruel telah sampai di kastil Kerajaan, disana gerombolan Prajurit membentuk barikade dan menghadang Ruel untuk masuk. Dibelakangnya, seorang yang menunggangi kuda dan berzirah beda berteriak kepada Ruel. Dia adalah seorang komandan? dengan posisinya yang berada dibelakang pasukan?.
"Jangan maju lebih dari ini!, Bila kau tetap bersikeras maju, atas nama count Rimerez akan ku jatuhi hukuman mati atas dirimu," Teriaknya mengangkat pedang.
Ruel memiringkan wajahnya, sekelebat petir menyerang dan melubangi dahi komandan tersebut. Tubuhnya terjatuh ke tanah, membuat formasi pasukan tercerai berai. Dengan cepat golem buatan Ruel langsung melaksanakan tugasnya, memusnahkan Prajurit Kekaisaran.
...•••...
Sudah beberapa saat berlalu, ia telah membumi hanguskan seluruh pasukan Kekaisaran tanpa ampun. Ia belum puas, hanya dengan kematian mereka masih belum cukup. Harus lebih banyak penderitaan, lebih banyak hukuman.
Namun, tubuhnya telah mencapai batas. Kesadarannya kembali ke tubuhnya, mengingat yang baru saja terjadi tidak membuatnya lebih baik. Pada akhirnya, kurangnya pasokan mana dan tenaga membuat ia tumbang dan pingsan tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, nampaknya Ruel terbangun dari tidurnya. Dia masih belum menerima kenyataan bahwa Rumina telah tiada, sulit baginya merelakan orang pertama yang berlaku hangat kepadanya. Meskipun Ruel merasa familiar dengan hal tersebut, dia tetap saja tidak bisa mengingat kapan terjadinya hal tersebut.
Ruel memutuskan mengambil mayat Rumina yang tergeletak disekitar penjara. Dia memangkunya dan sekali lagi meneteskan air matanya ke wajah beku Rumina, dia sangatlah merindukan sosok 'kakak' pada diri Rumina.
"Benar juga!, aku bisa membangkitkan dia, kan.
Aku bisa membangkitkan nya, dengan begitu kami bisa saling bercerita lagi, kan.
Harusnya seperti itu, tapi kenapa terasa ada yang salah. hiks~ kenapa?"
Rusl tenggelam dalam kesedihan, ia tak bisa membangkitkan Rumina lagi. Bukan karena ia tak bisa, namun karena hatinya tak mengizinkan dirinya melakukan hal tersebut. Dari awal memang ia merasa suatu kesalahan untuk memiliki kemampuan sihir tersebut.
Rumina telah tiada, Ruel berusaha merelakannya agar sosok penting baginya tersebut bisa beristirahat dalam damai. Memang dia tak bisa membangkitkan Rumina kembali, namun tak ada salahnya untuk menggunakannya selain kepada Rumina bukan?.
Ia telah membulatkan tekadnya, akan ia bangun Kerajaan yang telah runtuh ini dari awal. Meskipun hanya Kerajaan kecil yang bahkan tidak diketahui ada atau tidaknya oleh benua ini, suatu saat ia akan berdiri di puncak kekuasaan. Bukan karena tahta yang menggiurkan, tetapi mencegah terjadinya hal serupa dalam kehidupannya.
Mulai sekarang, ia paham akan banyaknya duri yang akan dirinya tapaki. Namun bila dengan begitu tujuan akhirnya terwujud, tak peduli duri, paku, kawat, maupun pedang pasti akan dilangkahi olehnya. Setidaknya itulah yang ia pikir sebelum melihat kondisi Kerajaan yang sangat buruk akibat ulahnya.
Restorasi seorang diri akan membutuhkan banyak waktu yang terbuang. Oleh karenanya, pertama dia akan menambah jumlah rakyatnya. Rakyat Kerajaan sebelumnya sebagian besar telah dibunuh akibat melawan, itu juga merupakan keputusan mereka daripada tunduk dibawah Kekaisaran Holy Unicorn yang tidak bermoral.
"Banyak yang harus kulakukan, mulai dari penambahan rakyat. Hingga kekuatan tempur yang harus ditingkatkan."
Ruel berjalan ke arah penjara, sebagai langkah pertama ia akan membebaskan semua tahanan untuk memperoleh kepercayaan rakyat. Ditengah jalan sekelebat kenangan mengenai Rumina kembali terlintas, dia berpegangan pada dinding disebelahnya dan menyadari cincin yang asing baginya.
"Sebuah cincin, sedari tadi aku tidak menyadarinya."
Awalnya ia belum mengerti fungsi dari cincin di jarinya hingga ia mengalirkan mana secara tidak sengaja kedalamnya. Seketika dia semacam berteleportasi, namun yang tak diduga adalah ia berada di ruangan luas yang mirip seperti sebuah perpustakaan.
Setiap rak disana tersusun rapi buku dan kategori mengenai ilmu yang akan ia pelajari. Mulai dari ilmu sihir hingga berpedang, kijutsu maupun kenjutsu, dan banyak hal terkait informasi meramu ramuan maupun obat-obatan tersedia lengkap disini.
Saat Ruel melangkahkan kakinya, sebuah kacamata 1 lensa yang kiranya kerap dipakai bangsawan era modern berada di genggaman tangannya. Ruel saat itu sedikit tidak memahami fungsi dari kacamata lensa tersebut, hingga dia memilih menyimpannya di saku celana miliknya.
Dan buku yang pertama kali ia ambil merupakan buku dasar bagi seorang Raja, apalagi bila bukan dalam bidang Politik. Ia membawa hingga 12 buku kedalam genggamannya, hingga ia duduk di lantai dan mulai membaca buku tersebut satu persatu.
TBC