Davin-Alda

Davin-Alda
Chapter 6 Diner! [Part 3]



"Huft..." Ucap Alda sambil mehela nafas. Dan seketika Ekspresi wajahnya tiba tiba berubah secara drastis, ketika pria itu datang menghampirinya. Jantungnya berdegup kencang, tangannya berkeringat, lidahnya kaku, bahkan kakinya sampai gemetaran, tak mampu ia melangkahkan kaki untuk berpaling dari pria itu. Ia mencoba untuk menenangkan diri dan sampai akhirnya pria itu benar benar datang menghampirinya.


"Hai Ka." Sapa pria itu lembut kepada sang Kakak (Davin).


"Hai." Balas Davin sambil menoleh kearah pria tampan itu.


"Lho, kok tumben kesini, emangnya lo mau ngapain?" Tanya Davin heran + terkejut.


"Gak ngapa ngapain kok Ka, cuman gua mau kesini aja gitu, buat nyamperin kaka disini. Lagian dirumah sepi banget, kan guanya jadi bosen." Sahut pria tampan itu.


"Oh gitu. Yaudah, sana duduk."


"Iya ka, makasih atas tawarannya, aku duduk disebelah sana aja ya ka."


"Iya iya."


"Wah wah.. ternyata dia ramah juga ya, apa lagi sama kakanya sendiri. Hm.. Ramah banget, Baik lagi, ganteng. Wuih.. idaman banget deh pokoknya." Ucap Alda dengan memujinya senang sambil memandangi wajah pria tampan itu dengan tajam. Ketika itu, Davin memperhatikan Alda, karena pandangannya sudah tidak terpokuskan lagi padanya, melainkan ia hanya tertujukan oleh satu orang, yaitu pria tampan itu.


"Eh eh.. lagi liatin siapa tuh?" Tanya Davin sambil mengkibas kibaskan tangan kananya didepan wajahku.


"Iiih.. apa sih! Ganggu-in gue aja deh lo. Gue itu lagi bahagia tau gak." Ucapnya keceplosan, dan tersontak, saat itu Davin sangat terkejut saat Alda mengucapkan hal tsb. "Upss.. eee.. maksud gue.. eee.. bukan gitu, tapi.." Ucap Alda terbata-bata dan semakin gugup.


"Hayo ngaku aja lo sekarang, lo tadi liatin siapa?" Tanya Davin ketus.


"Gak liatin siapa siapa kok. Lo salah liat kali!" Jawab Alda santai.


"Gak!! Gua gak salah liat, jelas-jelas gua liat lo yang terus terusan memperhatikan adek gua!"


"Hm..Dia beneran adek lo?" Tanya Alda sambil mengubah topik pembicaraan.


"Iya. Emangnya kenapa? Lo suka ya sama dia?" Jawab Davin merasa tidak senang, dan ditambah lagi dengan beberapa pertanyaan konyol darinya.


"Hm.. suka?" Ucap Alda sambil mengerutkan jidat.


"Iya? Lo suka sama adek gua?" Tanya Davin ulang.


"Hah? Hahaha.. Davin, Davin, lo itu ya aneh banget. Gue aja baru kali ini liat Adek lo, masa gue langsung tertarik dan terpikat gitu aja sama dia. Ya mana mungkin lah."


"Oh.. gua kira lo bakalan suka sama Adek gua."


"Hm.. kalo gue beneran suka sama Adek lo? Gimana?" Ucapan Alda membuat Davin semakin terkejut.


"Hah? Ya.. eem.. iya.., gak apa apa lah, itu kan Hak lo buat menyukai siapa saja." Sahut Davin sedikit gugup.


"Ee.. iya juga ya. Haha.. mending kita gak usah bahas itu lagi, gak penting juga kan?" Ucap Alda cengar cengir dan dibalas Davin dengan anggukan pelan.


"..." Davin pun terdiam, dan termenung sambil memikirkan ulang topik pembicaraan yang telah dibicarakannya bersama Alda tadi.


"Vin.." panggil Alda.


"Hah? Ada apa Al?" Sahut Davin terkejut.


"Lo kenapa bengong sih? Lo ada masalah ya? Atau, lo masih mikirin soal yang tadi?"


"Ee--nggak Enggak, gua gak mikirin apa apa kok Al."


"Oh bagus deh kalo gitu. Tapi..., lo gak cemburu kan ya sama gue?" Tanya Alda kepada Davin.


"Hah? Cemburu sama lo? Haha.. enggak, gua gak sedikit pun cemburu sama lo." Sahut Davin berbohong. Padahal dalam hatinya begitu sakit. Dan rasa sakit itu tidak akan bisa untuk diucapkan. Begitulah adanya, bagaikan hati yang dibelah menjadi beberapa bagian. Sakit bukan? Hm... sakit banget lah. :V (eee.. authornya jadi curhat deh, ehe maaf.. oke next👇)


"Oh.. gue kira lo bakalan cemburu."


"Hm.. ya gak kali Al, gua mana mungkin cemburu sama lo."


"Haha.. Vin, Jawabnya serius amat sih, gue aja santai ngejawab semua pertanyaan dari lo. Ini pas gue berbalik nanya ke-lo, Lo malah terlihat tegang banget, jadi lucu gue liatnya."


"Hm.. iya."


"Eh, Vin." Panggil Alda sambil melirik jam yang melingkar ditangannya.


"Iya? Ada apa Al?" Sahut Davin.


"Anterin gue pulang dong, udah jam 6 lewat nih, entar keburu gelap lagi. Mana bentar lagi mau Azan Magrib, tugas gue masih numpuk dirumah. Jadi gue mau pulang aja sekarang. Boleh kan?"


"Iya iya, boleh kok. Tunggu bentar ya, gua bayar dulu kekasir."


"Yaudah buruan!" Desak Alda


"Iya iya sabar."


"Hm.. mba, berapa harga Es jeruk dan Es stoberi yang saya pesen tadi." Tanya Davin ramah kepada si pelayan cafe.


"Hm.. tunggu bentar ya mas."


"Iya mba."


3 menit pun berlalu..


"Total semuanya jadi 30.000,- mas."


"Oh.. oke, saya ambil dompetnya dulu ya mba."


"Iya mas."


Setelah itu, Davin pun merogoh kantung belakang celananya dan mengambil sebuah dompet didalam kantungnya itu.


"Ini mba uangnya. Makasih ya mba."


"Iya mas, sama sama. Kapan kapan kembali ke Cafe ini lagi ya mas."


"Iya mba, Insha Allah nanti saya akan balik ke Cafe ini lagi."


Setelah membayar 2 cangkir cembung yang berisikan Es jeruk dan stoberi tadi dari kasir, Davin pun langsung menghampiri Alda. Dan mengajaknya pulang bersamanya. Tak di sangka, Hal yang sama terulang kembali, Alda tidak bisa menaiki motor milik Davin. Dan dengan terpaksa ia harus meminta bantuan lagi kepada si pemilik motor tsb.


"Hm.. Vin." Panggil Alda tersipu malu.


"Iya?" Sahut Davin ramah.


"Boleh minta tolong gak?"


"Boleh. Emangnya mau minta tolong apa?"


"Ee.. bantuin gue naik motor lho."


"Hm.. yaudah iya. Sini-in tangan lo." Balas Davin sambil tertawa kecil didalam hati.


"Iya."


Akhirnya, berkat bantuan Davin, ia pun berhasil menaiki motornya Davin. Setelah itu, mereka berdua langsung berangkat dan meluncur menuju rumahnya Alda. Dengan kecepatan yang stabil, angin yang sepoi sepoi, dan ditambah lagi dengan pelukan hangat dari Alda, hm.. bisa dibilang; [Ia sedang melingkarkan kedua tangannya diperut Davin, karena ia takut jatuh, atau enggak Davin akan mengusili dirinya (mengerem motornya secara mendadak) eee.. kasihan juga sih ya, kalo Aldanya digitu-in sama Si Davin, tapi kalo dipikir pikir ulang, mana mungkin Davin setega itu sama Alda. Oke next👉] Setelah menempuh perjalanan yang menyenangkan, akhirnya mereka pun tiba dirumahnya Alda.


"Al.." Panggil Davin.


"Iya?" Sahut Alda.


"Kita udah nyampe."


"Oh.. udah nyampe ya, kira-in belom, hm.. maaf ya, gue tadi gak pokus."


"Hm.. pasti lo mikirin gua kan? Makanya lo gak pokus kayak gitu."


"Dih.. pede amat sih lo, ya nggak lah. Gue gak lagi mikirin lo, ish.. amit amit deh, kalo gue sampe mikirin lo."


"Halah.. lo-nya aja yang gak mau ngaku, padahal lo mulai menyukai gua kan?"


"Iiih... apaan sih, ENGGAK!" Sahut Alda sambil meninggikan suaranya.


"Oke oke. Jangan nge-gas gitu dong ngomongnya. Gua hanya bercanda."


"Au ah! Lo itu bercandanya udah kelewatan banget, dan sebaiknya gue langsung masuk aja kedalem dari pada gue ngeladenin lo terus."


"Iya, lo langsung masuk aja kedalem, entar ada setan lagi yang ngikutin kamu, lagi pula kan, cewek gak boleh keluar rumah terlalu malem."


"Iya iya gue tau kok. Dan Setan yang lo maksud itu adalah kamu!"


"Hm.. terserah lo aja deh Al, yang penting lo jaga diri baik baik. Kalau ada apa-apa atau lo ada masalah, telpon gua aja. Gua siap kok ngebantuin lo dan gua juga akan slalu ada buat lo."


"Iya iya."


"Hm.. kalo gitu gua balik dulu ya. Bye.."


"Iya, bye.."


Lalu, Davin pun langsung pergi pulang kerumahnya. Sedangkan Alda? ia hanya bisa memandangi Davin yang sendari tadi jejak bayangannya sudah mulai menjauh.


***