
Setelah itu, Alda pun langsung menuju motornya Davin. Dan Davin pun memintanya untuk menaiki motor miliknya.
"Yaudah ayo naik." Kata Davin ketus
"Iya iya sabar kali, lo pikir ini gampang apa? naik keatas motor make baju kayak ginian!" Balas Alda sedikit sabar
"Iya gua tau kok. Makanya, siapa yang suruh lo make baju kayak ginian!" Ucap Davin sambil menunjuk pakaian Alda
"Ya suka suka gue lah? Emangnya kenapa? Lo gak suka ya? Oke, fine... brarti diner kita hari ini batal? Ya kan?" Sahut Alda kesal
"Gak!! Diner kita hari ini tetap berjalan, dan aku harap diner pertama kita hari ini adalah diner yang paling menyenangkan."
"Au ah! Bodo!!"
"Al.." panggil Davin lembut.
"Apa!" Sahut Alda dengan nada tinggi.
"Lo masih ngambek?" Tanya Davin.
"Tau!" Jawabnya singkat.
"Senyum dikit dong, please. Buat gua aja?"
"Gak ah, mood gue lagi gak bagus, dan itu semua gara gara lo."
"Yaudah.. kalo gitu gua perbaikin lagi deh pake lem."
"Hah?? Emangnya lo pikir mood gue kayak kertas apa? main di lem lem aja."
"Haduh.. gua salah ngomong lagi." Ucap Davin dalam hati sambil menggaruk kepala bagian belakangnya
"Ma.. mak.. sud.. gua bukan gitu, cuma gini lho--" Ucapan Davin pun terpotong karna Alda menyahutinya terlebih dulu.
"Au ah. Buang buang waktu gue aja lo! Gue gak butuh penjelasan dari lo!"
"Oke.. gua paham kok. Yaudah, kalo gitu, gua bantu lo naik ya?" Kata Davin peka
"Nah gitu dong, bantuin gue! Kan gue gak perlu make akting ngambek segala ke-lo. Dan ya, satu hal lagi, lo itu ya jadi cowok, Gak peka banget! Gue gak suka tipe cowok yang kayak lo." Bisik Alda
"Hm.." Davin mendeham sambil mehela nafas
"Gua peka kok Al, cuman semua itu perlu proses. Dan gua juga belajar untuk memahami lo." Ucapnya lirih
"Hah.. memahami gue lo bilang? Mending lo pahami diri lo sendiri ketimbang memahami gue!!"
"..." Davin pun terdiam karna ia tak ingin berdebat panjang dengan Alda.
"Udah udah.. mending kita jalan sekarang aja. Entar waktu diner kita malah kebuang sia sia."
"Bodo amat!! Emang penting gitu buat gue?"
"Iya." Jawab Davin tegas
"Au ah!! Dari pada gue nambah enek sama lo, mending gue naik motor lo aja sekarang!"
Alda pun langsung mencoba untuk menaiki motornya Davin, dan lagi lagi dia gagal untuk menaiki motor miliknya. Karna pakaian yang ia kenakan, dan ia menjadi kesusahan saat merangkak naik keatas motor.
"Mau gua bantu?" Tawar Davin
"Hm.." Alda mendeham, dan seketika itu juga dia menjadi diam seribu bahasa. Karna bingung harus menjawab iya atau tidak.
"Yee.. malah diem. Mau gak nih?"
"Eee.. iya iya gue mau."
Lalu Davin pun mengulurkan tangannya dan disambut oleh Alda dengan baik. Dan akhirnya, Alda dapat menaiki motornya Davin.
15 menit menempuh perjalanan yang menyenangkan, Dan akhirnya Davin dan Alda tiba di-cafe dekat sekolah mereka.
"Hm.. ternyata naik motor enak juga ya. Adem adem gitu rasanya. Mana anginnya sepoi sepoi lagi. Sejuk banget." Ucap Alda senang.
"Baru pertama kali naik motor ya?" Sahut Davin disela sela kesenangannya Alda.
"Ee.. nggak! Udah sering kok." Jawab Alda berbohong.
"Hm.. yakin? Udah sering?"
"Iih.. apaan sih."
"Haha.. ngaku aja kali Al, kalo lo itu baru pertama kali naik motor."
"..." Alda pun terdiam.
"Ciah.. malah diem, entar kesambet lo!"
"Apa apa!"
"Yee.. ditanyain malah nyolot, yaudah deh kita langsung masuk aja kedalem."
"Iya."
"Selamat sore." Sapa pelayan Cafe.
"Iya mba, sore." Sahut Davin. Sedangkan Alda? dia hanya bisa terdiam dan melamunkan hal yang tidak jelas.
"Hm.. ini menunya. Silahkan dipilih, kalian mau pesan apa?" Ucap pelayan Cafe.
"Kamu mau pesan apa Al." Tanya Davin ke Alda.
"Gue terserah lo aja." Jawab Alda tanpa memandang wajahnya Davin.
"Lho kok terserah sih, ini kan gua yang bayarin lo, jadi lo boleh pesen makan dan minuman sepuasnya."
"Gak ah, gue udah kenyang."
"Emang lo habis makan apa, jadi udah kenyang duluan."
"Makan angin!"
"Huft... dia ini memang susah ditebak! Apa apa ngambek duluan, gak bilang bilang lagi, apa yang dia mau sebenarnya." Keluh Davin dalam hati.
"Al.."
"Apa!"
"Udahan dong ngambeknya. Entar kalo ngambek terus kecantikkannya jadi luntur lho." Ucap Davin yang ingin mencoba untuk membujuk Alda.
"Bodo amat!!" Sahut Alda
"Huh.. yaudah deh iya. Gua aja yang pesen makanan dan minumannya buat lo."
"Gak usah. Gue mau dipesenin minuman aja."
"Oke oke. Brarti makanannya gak kan?"
"Iya."
"Hm.. mba, kalo gitu saya pesen es jeruk sama es stoberi ya."
"Baik mas, tunggu bentar ya."
"Iya mba."
Tak lama kemudian, Pelayan Cafe yang tadi pun datang lagi menghampiri Davin dan Alda sambil membawakan 2 cangkir cembung yang berisi kan Es jeruk dan Es stoberi yang telah dipesankan oleh Davin.
"Ini minumannya mas."
"Oh.. iya iya. Taro ini disini aja ya mba, makasih."
"Iya mas, sama sama."
"Nih Al mimumannya." Ucap Davin sambil menyodorkan sebuah cangkir cembung yang berisikan Es stoberi ke Alda.
"Iya makasih." Ucapnya dengan wajah cemberut. Setelah Davin memberikan Minuman itu kepada Alda, ia hanya memandanginya saja tanpa mencicipi dulu, rasa Es Stoberi yang telah diberikan oleh Davin.
"Lho kok, minumannya cuma dipandangin aja. Gak diminum tuh sekalian?"
"Gak ah. Gue lagi gak mood buat minum."
"Hm.. kalo gitu gua suapin aja ya, biar lo mau minum Es stoberinya."
"Hah? Disuapin? Gak ah! Gak perlu! Gue bisa sendiri kok. Lagi pula gue bukan anak kecil lagi."
"Iya iya, gua tau kok. Kan gua cuman bilangin aja ke-lo dan lebih baik minumannya diminum aja sekarang dari pada diliatin kayak gitu. Ya gak?"
"..." Alda hanya terdiam sambil menikmati Es stoberi miliknya.
"Makin deket liat dia kayak gitu, makin manis, imut + cantik juga ya ternyata. Tapi sayang sih, galak banget, apa lagi orangnya suka ngambekan." Ucap Davin dalam hati, sambil tersenyum tipis, dan tiba tiba saja, saat Davin asik memandangi wajahnya Alda, ia pun langsung kepergok olehnya.
"Apa! Lo liat liat gue!"
"Eng, enggak kok. Siapa bilang yang liatin lo. Gua aja dari tadi cuma minum Es jeruk ini. Mana mungkin gua liatin lo."
"Halah! Itu cuma alasan lo aja. Padahal lo mau modus kan sama gue. Bilang aja kalo lo itu liatin gue dari tadi."
"Hm.. terserah lo aja deh Al, yang penting lo bahagia."
"..." Seketika suasana riuh di dalam Cafe itu pun menjadi hening tanpa ada satu keributan. Dan ternyata keheningan itu disebabkan oleh kedatangan seorang pria tampan yang masuk kedalam Cafe tsb.
"Kok aneh ya? Tiba tiba cafe nya jadi hening. Tadi kan ribut banget kayak pasar malem." Kata Alda heran.
"Tau tuh. Mending lo habisin aja minumannya terus kita ngobrol ngobrol bareng deh." Sahut Davin tak peduli.
"Huft.." Ucap Alda sambil mehela nafas. Dan seketika saja, Ekspresi wajahnya menjadi berubah secara drastis ketika pria itu datang menghampirinya. Jantungnya berdegup kencang, tangannya berkeringat, lidahnya kaku, bahkan kakinya sampai gemetaran, tak mampu melangkahkan kaki untuk berpaling dari pria itu. Lalu Alda pun mencoba untuk menenangkan diri dan sampai akhirnya....
🌺Bersambung🌺