Dark Life

Dark Life
episode 4



Ravi hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua temannya. Rasanya sudah tak sabar untuk pertunjukan nanti malam.


***


Manda berjalan dengan cepat untuk mengumpulkan tugas menuju ruang guru dan menemui Pak Dana. Karena terlalu fokus Manda sampai tak memperhatikan jalannya.


Dia menabrak seseorang di depan ruang guru.


"Aduh!" rintihnya.


Buku-buku yang di bawa Manda jatuh.


Manda jongkok,"maaf Manda gak sengaja. Aku bantu."


Manda membantunya berdiri.


"Kamu gak papa?" tanya Manda khawatir.


"Gapapa ," jawabnya. Dia melihat Manda dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu berlalu pergi.


Pak Harto keluar dari ruang guru. "Kamu ngapain bengong di situ?"


Manda berbalik," eh, pak guru. Manda mau kumpul tugas pak."


"Buku kamu itu di bawah semua kenapa gak kamu ambil," tunjuk pak Harto ke arah buku yang berceceran.


Manda baru ingat. Ia segera mengambil buku-bukunya.


"Yasudah bapak duluan, setelah itu kamu segera ke kelas. Bapak akan masuk kelas kamu."


"Baik pak." Manda mengangguk.


***


Untungnya tak ada drama dari Pak Dana. Tugas Manda langsung di terima tanpa babibubo.


Manda bersyukur,"alhamdulillah urusan sama Pak Dana selesai."


Handphone Manda berdering,"hallo Mel kenapa?"


"Pak Harto gak jadi masuk kelas man," jawab Melly dari seberang telepon.


"Makasih Mel infonya." Manda memutus sambungan telepon.


"kalau gitu ke kantin aja dulu deh." Manda pergi ke kantin.


***


Ruang kelas XI IPA D.


Pak Harto berdiri di depan kelas dengan seorang perempuan berambut cokelat sebahu.


"Maaf bapak mengganggu waktu istirahat kalian. Hari ini kita kedatangan siswi baru. Silahkan perkenalkan diri kamu." ucap pak Harto pada murid barunya.


Tok tok tok


Pintu kelas di ketuk. Manda masuk.


"Maaf pak Manda telat."


Pak Harto berjalan ke arah Manda. "Darimana saja kamu, kenapa telat?"


"Maaf pak tadi saya keruangan pak Dana untuk mengumpulkan tugas. Dan tadi ada yang bilang ke saya kalo jam bapak kosong. Makanya saya ke kantin dulu pak buat makan." Manda menjelaskan dengan detail.


"Walau begitu kamu gak seharusnya ke kantin saat jam pelajaran berlangsung. Itu salah Manda." Pak Harto memperingatkan Manda agar tidak mengulanginya lagi.


"Iya pak, Manda salah. Manda minta maaf."


" Ya sudah untuk kali ini kamu bapak maafkan. Silahkan masuk."


"Sabrina silahkan di lanjutkan," ujar pak Harto.


Sabrina tersenyum lalu menyapa semuanya."hai guys, kenalin nama gue Sabrina. Gue pindahan dari sekolah Tirta. Semoga ke depannya kita bisa berteman dengan baik."


"Sudah?"


Sabrina mengangguk.


"Silahkan duduk di sana." Pak Harto menunjuk kursi kosong yang berada di dekat tembok sebelah Manda.


***


Marina sedang sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun yang ke 17 untuk putranya.


Dia sibuk mendekor taman dan kolam renang di rumahnya untuk acara kali ini.


Marina tersenyum bahagia melihat semuanya telah selesai.


"Mama," panggil Ravi.


Marina segera menghampiri putranya lalu memeluknya.


"Happy birthday anak mama. Gak nyangka kamu udah gede ya." Marina mencium kening Ravi.


"Ayok sini ikut mama." Marina menarik lengan Ravi.


Ravi menatap takjub taman dan kolam renang yang telah di hias dengan indah.


"Mama yang lakuin ini?"


"Iya, mama yang siapkan semua ini. Tapi mama gak sendiri kok. Di bantu sama mamang dan bibi juga."


Mereka berdua berjalan menuju ruang makan.


"Kita makan dulu ya, habis itu kamu ganti baju terus siap-siap buat malam nanti. Untuk undangan mama udah suruh Dino. Jadi kamu terima beres aja."


"Papa bisa ikut 'kan ma?" tanya Ravi.


Marina menghela nafas,"papa gak bisa hadir karena masih ada urusan di luar kota."


"Oh ya udah ma. Gapapa," jawab Ravi.


"Rencana gue bakal kacau kalau papa gak bisa datang. Mending gue batalin dulu," batin Ravi.


***


Ravi dan kedua temannya sedang berada di kamar. Tristan bertanya,"kejutan apa yang lo siapin?"


"Batal."


Tristan juga terkejut. Mereka berdua menanyakan alasan batalnya kejutan yang akan di berikan Ravi.


Ravi tak menjawab. Dia berjalan ke arah meja mengambil sebuah flashdisk.


Lalu menyimpannya di laci.


***


Feli, Luna, dan Manda datang bersama. Feli menghampiri Marina lalu menyalaminya.


Begitupun Manda dan Luna.


"Maaf ya tan, mama gak bisa datang karena masih ada urusan bisnis." ujar falisha.


"Gapapa sayang, kamu datang aja Tante udah seneng banget." Marina memeluk Feli.


Mata Marina tak sengaja menatap Manda yang memperhatikan interaksinya dengan Feli.


"Andai ibu masih ada," batin Manda saat melihat Marina begitu dekat pada Feli.


Marina merasakan sesuatu yang aneh saat melihat Manda.


Ia melepaskan pelukannya.


Ingin menghampiri Manda.


"Maa," panggil Ravi.


Langkah Marina terhenti. Ravi langsung memeluknya.


"Anak mama manja banget."


Ravi hanya tersenyum menanggapi ucapan Marina.


Ravi bahagia melihat Marina seperti ini.


batin Ravi,"aku gak mau mama sedih gara-gara papa."


***


Marina mendapat kabar bahwa pesanan untuk pakaian yang akan di kirimkan hari ini di batalkan begitu saja.


Marina bingung. Tidak ingin mengecewakan Ravi, tapi ini juga sangat penting.


Ravi mendekati ibunya yang terlihat bingung,"mama kenapa?"


"Ada masalah di butik mama. Dan Mama harus ke sana sekarang juga. Kamu gak papa 'kan mama tinggal."


Ravi tersenyum,"gapapa ma. Ravi tau itu penting. Mama pergi aja."


***


Mereka semua menari mengikuti alunan musik yang di putar. Lampu disko berkelap-kelip menambah suasana gembira. Manda tak ikut menari. Ia memilih duduk sendirian di tepi kolam renang.


Meli memberikan segelas jus pada Manda. Manda menerima dengan senang hati. Meli lalu ikut duduk di samping Manda.


"Luna dan Feli di mana?" tanya Meli melihat ke sekeliling.


"Lagi ke toilet." jawab Manda. Ia meminum jus yang diberikan Meli.


"Galau banget kayaknya man, yuk nari bareng aku," ajak Meli.


Manda menggeleng,"engga Mel. Aku pengen sendiri dulu di sini."


"Yaudah aku duluan ya man." Meli pun pergi.


Byurrr


Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah kolam renang.


"Tolong! tolong!" teriak Manda.


Meli membelalakkan matanya.


"Manda!"


Ia berlari mendekat ke kolam renang. Namun di cegah oleh Tristan.


"Gak ada yang boleh nolongin dia," ucap bara penuh penekanan.


Tristan mengeluarkan ponselnya lalu merekam Manda yang tenggelam. Tak ada niatan untuk menolongnya. Justru ia merasa bahagia melihat Manda tersiksa.


Tristan kembali teringat kejadian satu bulan yang lalu. Sebuah taman yang telah di hias dengan indah. Tristan memegang bunga mawar merah. Lalu berlutut di hadapan Manda.


"Maukah kau menjadi pacar ku?" tanya Tristan.


Manda terdiam sejenak.


"Manda," panggil Tristan.


"Maaf Tan, Manda gak bisa." Senyum di wajah Tristan memudar. Tristan berdiri.


"Manda gak bisa," ucap Manda sekali lagi.


Tristan menatap wajah Manda. Memegang kedua tangan Manda. Berharap Manda mengubah jawabannya.


Manda tetap menggeleng.


___


Nafas Manda mulai tak beraturan. pandangan kabur.


"to-tolong!"


Bahkan suara Manda mulai melemah.


"ya Allah Manda gak kuat," batinnya.


Feli dan Luna baru kembali dari toilet. Mereka berdua saling tatap begitu melihat kerumunan di tepi kolam renang. Mereka berdua berlari mendekat.


"Manda!!" teriak keduanya saat melihat Manda tenggelam.


bersambung


......................