Dark Life

Dark Life
episode 3



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Manda masih menunduk, tak berani menatap keduanya. Berita yang akhir-akhir sedang hot kini menyeretnya juga.


Manda berbalik ingin keluar kelas. Langkahnya terhenti. ketika seorang lelaki berdiri tepat di hadapannya.


Ravi menatap datar ke arah Manda. Lalu dia berjalan melewati Manda begitu saja. Manda sedikit menghela nafas. Tumben sekali Ravi tak mengusiknya. Segera Manda pergi dari tempat itu menuju toilet.


***


Manda mengambil baju di lokernya yang berada tak jauh dari toilet.


"Manda kamu kenapa? Apa kamu habis di kerjain lagi sama Ravi," seorang siswi perempuan yang sedang berada di sana bertanya pada Manda.


"Bukan Ravi tapi temennya," jawab Manda seadanya. karena memang bukan Ravi penyebabnya.


"yaudah aku duluan ya." Manda hendak pergi namun di hentikan.


"Aku gak suka man liat kamu di giniin terus sama mereka. Apa kamu gak mau laporin mereka?"


"Aku mau kok Mel, tapi aku ini bukan siapa-siapa. Aku gak punya hak Mel." Manda menjawab tanpa melihat Meli.


Meli memutar tubuh Manda agar berhadapan langsung.


"Aku bantu ya. Aku gak mau kamu gini terus."


"Makasih Meli, tapi itu gak perlu. Aku sadar posisi aku saat ini." Manda tersenyum.


"Aku salut banget sama kamu deh, kalo kamu butuh bantuan kamu bisa dateng ke aku kapanpun itu."


"Iya Meli. Aku bersyukur masih ada yang peduli sama aku." Manda memeluk sahabat semasa kecilnya itu.


Meli dan Manda berteman sejak usia mereka 8 tahun. Sampai akhirnya Meli harus pindah bersama kedua orangtuanya. Dan kali ini takdir mempertemukan mereka kembali. Berada di sebuah sekolah yang sama. Meskipun sudah lama berpisah tanpa ada komunikasi, tapi Meli dan Manda tetap menjalin hubungan yang baik. Meskipun tidak sedekat dulu.


___


Tristan dan Dino menghampiri Ravi yang sudah duduk.


"Kenapa bro?" tanya Dino.


"Tumben Rav, biasanya Lo paling semangat ngerjain Manda," ucap Tristan.


Ravi melihat mereka berdua dengan malas.


"Ogah gue. Lagi males."


'ada yang lebih menarik buat di lakuin,' batin Ravi.


"sayang!" teriak Sabrina berlari dan langsung memeluk Ravi.


Ravi terkejut melihat pacarnya berada di sini.


"Kamu di sini, kok bisa."


Sabrina melepas pelukannya,"ish kamu gak suka ya aku ada di sini."


"Seneng lah, seneng banget malah." Ravi langsung memeluk Sabrina. Untung saja guru mereka belum masuk.


"Kamu pindah. kenapa?" tanya Ravi karena melihat Sabrina mengenakan seragam yang sama dengannya.


"Iya. Aku tuh pengennya selalu di deket kamu. Emang gak boleh?" Sabrina balik bertanya.


Tristan dan Dino yang malas mendengar mereka berdua pun segera pergi.


***


Manda kembali ke kelas dengan pakaian yang bersih dan rapi. Beruntung seragam Manda ada dua. Jadi ia tak perlu khawatir lagi.


Manda mempercepat langkahnya. Lagi dan lagi. Sampai di depan kelas pintu telah tertutup. Manda menarik nafas dalam-dalam. Setelah merasa lebih baik lalu mengetuk pintu membukanya perlahan.


"Permisi pak,"


Pak Dana menoleh. Sepersekian detik ia melanjutkan menulis di papan tulis.


"Maaf pak saya telat," ucap Manda lagi.


Manda diam bagai patung. Tetap berdiri di depan pintu tanpa berani mengatakan apapun lagi.


sepuluh menit berlalu.


"Manda sini kamu," panggil pak dana.


Manda yang sedang melamun pun terkejut. Buru-buru dia menghampiri pak dana.


brugh


Seisi kelas langsung menertawakan Manda. Kecuali Luna dan Falisha. Justru mereka berdua ingin membantu Manda. Tapi tak berani. Karena di hadapan mereka ada Pak Dana salah satu guru killer. 'Kan ngeri kalo sampe ikut campur dan beliau marah.


Manda terjatuh karena menginjak tali sepatunya yang terlepas.


"duh sial banget sih Manda," batin Manda.


"diam!" ucap pak dana cukup keras yang mampu membuat mereka seketika diam.


Manda berdiri dan berjalan menuju pak dana.


"Kenapa kamu telat di jam saya. Kamu tau kalo saya paling tidak suka dengan murid yang tidak taat aturan."


"Maaf pak."


Pak dana berusaha tenang, "sudah tiga kali kamu terlambat di kelas saya. Sebenarnya kamu kenapa?"


"Ma--"


"Maaf pak, maaf pak, berhenti mengatakan hal yang sama Manda. Saya tanya kenapa kamu telat! Bukannya menjelaskan tapi kamu malah minta maaf." Pak Dana berdiri.


"Temui saya di kantor jam istirahat nanti, jelaskan semuanya. Dan untuk kalian semua kerjakan tugas yang tadi saya berikan." Pak Dana mengambil buku dan spidol.


"Sekarang kamu kerjakan dulu tugas ini. Jangan lupa buat kalian semua tugas di kumpul hari ini. Kumpul sama Manda biar dia yang bawa ke kantor. Selamat pagi."


***


Tepat pukul 12.00 WITA tugas yang di berikan pak Dana selesai. Ruangan kelas sudah sepi sejak lima menit yang lalu. Manda selesai terakhir karena tugas ganda akibat keterlambatannya.


Luna dan Falisha menghampiri Manda yang bersiap mengumpul tugasnya dan anak-anak kelas.


"Manda," panggil Luna.


"Luna, Falisha. Kalian kok ada di sini, bukannya lagi persiapan buat pentas."


"Awalnya sih gitu Man, tapi sekarang gue males," ucap Falisha.


"Biasalah man, gara-gara Ravi cs," timpal Luna.


"Astaga!" Manda menepuk jidatnya.


"Aku duluan ya, Pak Dana pasti udah nunggu." Manda berlalu meninggalkan Falisha dan Luna.


***


Ravi, Tristan, dan Dino kini berada di rofftop menonton video terbaru yang mereka dapatkan.


"Gila! gak nyangka gue dia kek gitu," ujar Dino.


Ravi menyimpan ponselnya.


"Ntar malam gue punya kejutan buat kalian berdua."


Tristan menaikkan sebelah alisnya, "kejutan? Kenapa gak sekarang aja?"


Dino merangkul pundak Tristan,"berarti ini spesial bro!"


Ravi hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua temannya. Rasanya sudah tak sabar untuk pertunjukan nanti malam.


bersambung


......................