
Byurrr!
Seseorang menyiram Ravi.
Falisha berdiri tepat di samping Ravi. Masih dengan memegang botol air mineral ditangannya. Ia menatap Ravi tajam.
"Beraninya sama cewek doang," ucap falisha datar.
Ravi memutar tubuhnya, menghadap ke arah falisha.
"Gak ada urusannya sama lo!"
"Terus?" Falisha menaikkan sebelah alisnya.
Ravi mendekat ke falisha, memegang dagu falisha kasar. "Gak usah ikut campur urusan gue," ucap Ravi lalu pergi. Dino dan Tristan hanya mengikuti Ravi.
"Lo gak papa, 'kan?" tanya falisha.
"Gak papa, makasih ya," ucap Manda.
"Mau lanjut makan," ucap falisha canggung menatap Luna dan Manda bergantian.
Manda menggeleng.
"Gak papa man, ada gue. Lo pesen aja lagi," ucap Luna.
"Ada gue juga," ucap falisha tersenyum pada Manda dan Luna.
Mereka bertiga akhirnya memesan makanan dan makan bersama.
***
Ravi memasuki sebuah rumah kosong tak berpenghuni. Sorot matanya menunjukkan ia sedang marah besar.
"Huahhhhhh!!!" teriak Ravi, ia menjambak rambutnya frustasi. Ravi terduduk lemas, pikirannya sedang kacau.
_____
"Assalamualaikum," manda membuka pintu rumahnya.
"Sepi. Kak Vina belum pulang ya?"
Manda langsung menuju kamarnya yang berada diatas. Manda lalu mengganti pakaiannya.
Manda menuruni tangga,
"Kak Vina kemana sih? Dari kemarin belum pulang-pulang."
***
Manda membuka kulkas, hendak mengambil sayuran untuk memasak.
Ia memutar bola matanya malas. Kosong. Lalu Manda menutup pintu kulkas kasar. Manda mengambil hoodie serta tasnya.
Manda berjalan menuju supermarket yang tak jauh dari rumahnya. Selesai berbelanja. Kini tangan Manda sudah penuh dengan kantong plastik yang berisi sayuran dan bahan masak lainnya.
_____
Segerombolan cowok memerhatikan Manda dari kejauhan.
"Bro, bukannya itu anak SMA Bright Sky?" tanya cowok dengan rambut pirang. Dia menunjuk ke arah Manda.
Randra melihat ke arah yang ditunjuk oleh temannya itu. "Samperin," ucap randra sambil tersenyum smirk.
Randra cs menyalakan motornya dan menghampiri Manda.
"Cuit, cuit," cowok dengan rambut pirang bersiul saat motornya tepat berada di samping Manda.
Randra langsung menghadang jalan depan Manda. Sedangkan sebelah kanan kiri Manda sudah ada dua cowok.
Seketika Manda menghentikan langkahnya menatap tiga cowok yang mengelilinginya.
"Kalian siapa?" tanya Manda.
Randra cs turun dari motor dan mendekat ke arah Manda.
"Lo anak Bright Sky," randra menaikkan sebelah alisnya.
"Kalo i-iya," jawab Manda ragu.
Entah apa yang ada dipikiran Elga--cowok berambut pirang. Sedari tadi ia tersenyum dan terus menatap Manda dari atas sampai bawah. Bahkan sampai tak mengedipkan matanya.
"Sikat ndra," barra memecah keheningan diantara mereka.
Randra mencekal lengan Manda dan menariknya untuk naik ke motornya.
"Lepasin! Aku gak kenal kalian." berontak Manda.
Barra ikut mendekat dan...
Plakkk
"Diem!"
Kantong plastik yang di bawa Manda sudah berjatuhan sejak ia dipaksa naik ke motor oleh randra.
Randra menjambak rambut Manda hingga gadis itu mendongak. Raut wajah Manda menahan sakit terlihat jelas, ia menggigit bibir bawahnya. Meringis kesakitan.
"Cantik juga Lo, gimana kalo kita main dulu." Tatapan randra berubah menjadi tatapan n*fsu, saat melihat Manda seperti itu.
Keringat mulai membasahi wajah Manda ditambah lagi ia menggigit bibir bawahnya. Sangat membangkitkan n*fsu seorang randra.
Sementara itu, Elga hanya memerhatikan ketiganya.
Randra dan barra menarik Manda menuju ke gang sepi.
Randra mendorong Manda kasar hingga membentur dinding. Randra mendekat dan mengunci pergerakan Manda. Menatapny beringas.
Randra mendekatkan wajahnya ke arah Manda. Manda hanya menunduk ketakutan, percuma saja berontak kekuatannya tak sebanding dengan randra.
Bugh!
Seseorang menendang Randra dari belakang hingga jatuh. Randra mendongak melihat siapa yang telah berani mengganggunya.
Randra berdiri, "berani sama gue."
Tanpa menjawab Randra pria bertopi serta mengenakan masker dan jaket hitam itu pun menghajar Randra. Barra yang masih berdiri di dekat Manda pun langsung mendekat ke arah mereka berdua dan ikut menghajar pria itu. Elga yang berada agak jauh dari mereka pun berlari untuk membantu dua temannya.
Akhirnya Manda bernafas lega. Bisa terlepas dari Randra dan Barra. Manda melihat ke empat pria itu sedang baku hantam tak jauh dari tempat dia berdiri. Ingin membantu tapi Manda tak tahu harus berbuat apa. Ia juga tak bisa beladiri. Akhirnya Manda memilih berdoa agar orang yang menyelamatkannya selamat.
Randra, Barra, dan Elga bersama menyerang pria itu secara bersamaan. Bara dan Elga berhasil memegang kedua lengan. Randra yang memiliki kesempatan pun langsung memukul perut pria itu.
bugh
bugh
tinjuan demi tinjuan di layangkan oleh Randra. Pria itu tampak kewalahan. Melihat ada celah yang bisa di gunakan, Pria itu menendang sel*ngkang*n Barra hingga tangan kanannya terlepas dari cekalan barra. Kakinya langsung menendang Randra yang hendak meninjunya lagi. setelah itu ia memukul Elga dengan tangan kanannya.
Randra, Barra, dan Elga terkejut.
"Gila hebat juga ternyata!" teriak Elga.
"Goblok Lo nendang barang berharga gue!" Barra tak terima dan akan memukul pria itu. Namun di hentikan oleh Randra.
"Cabut! Gak guna kita berurusan sama dia!" Randra meludah di hadapan pria itu. Mereka bertiga pergi tempat tersebut.
___
Manda menghampiri orang yang menolongnya tadi.
"Makasih ya," ucap Manda.
Pria itu mengangguk.
"Maaf, kalo boleh tau mas namanya siapa?" tanya Manda.
Tak ada respon dari orang yang di tanya. Justru pria itu langsung pergi meninggalkan Manda.
"Lho mas kok pergi! Mas black makasih ya!" Manda melambaikan tangannya untuk orang yang telah menyelamatkannya. Meskipun tidak kenal dan tidak tau dia siapa tapi Manda sangat berterimakasih untuk pertolongannya hari ini.
***
Manda memarkirkan sepedanya di parkiran. Lalu menuju kelasnya. Pintu kelas masih tertutup padahal sudah siang. Manda mendorongnya perlahan.
byurrr
Sebuah adonan kue cair menyiram tubuh Manda. Bau telur busuk memenuhi ruangan kelas. Beberapa siswa-siswi yang sudah berada di kelas tak ada yang
mendekat ke Manda untuk membantunya.
Tristan dan Dino menghampiri Manda.
Tristan menyingkirkan rambut Manda yang menutupi wajah Manda, "aduh kok masam gini sih mukanya."
"padahal kita niat baik lho, mau ngerayain ulang tahun kamu Manda," ucap Dino. Dino mengeluarkan tisu dari sakunya.
"Nih masih sisa satu, buat bersihin diri."
Tristan menoleh ke Dino. "emang anak kayak dia jago di ranjang ya?"
"Menurut berita yang gue denger sih iya, kakaknya aja jago. Adiknya pasti jago juga 'kan."
"Lima puluh!!" teriak Tristan dan Dino bersama tepat di hadapan Manda. Siswa-siswi yang berada di dalam kelas pun tertawa bersama Dino dan Tristan.
Manda masih menunduk, tak berani menatap keduanya. Berita yang akhir-akhir sedang hot kini menyeretnya juga.
Manda berbalik ingin keluar kelas. Langkahnya terhenti. ketika seorang lelaki berdiri tepat di hadapannya.
...----------------...
bersambung