
"Lira, pinjami aku ponselmu."
"Oke." Lira segera menyerahkan ponselnya. "Apa untuk menelepon Christopher?"
Rachel sedikit merasa cemas dan terhibur oleh pertanyaannya. "Benar."
"Kalau begitu jangan lupa menghapus pesannya. Kalau tidak, aku tidak akan dapat menahan untuk melanjutkan chatting an dengannya nanti."
Rachel memasukkan nomor Owen sambil tersenyum, namun, hanya terdengar nada sibuk beberapa kali berturut-turut.
Rachel mengerutkan kening dan mengembalikan ponsel Lira. "Direktur akan mencariku nanti. Katakan padanya kalau aku akan keluar dan kembali menemuinya lagi."
"Kakimu masih sakit. Kamu mau pergi kemana? Aku akan membantumu pergi."
"Tidak, katakan saja pada direktur pesanku tadi," Kata Rachel dan berjalan tertatih-tatih. Setelah berjalan lebih dari sepuluh meter, cedera kakinya semakin menjadi lebih parah, dan rasa sakitnya jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Rachel tidak dapat menahan rasa khawatir ketika pikiran nya tertuju pada Owen yang sama sekali tidak dapat dihubungi. Apalagi lingkungan tempatnya tinggal tidak sesuai dengan Owen.
Dia hanya bisa menyeret kakinya yang terluka sampai ke lantai bawah apartemen para staf rumah sakit.
Ketika dia turun, dia berkeringat padahal saat itu sedang musim dingin.
Banyak dokter yang baru keluar saat istirahat makan siang dan melihat wajah pucat Rachel. Mereka bertanya-tanya, "Dr. Rachel, ada apa dengan Anda?"
"Tidak apa-apa. Saya akan kembali ke apartemen dan melihat-lihat situasi disana."
Sementara mereka berbicara, ada beberapa dokter turun dari tangga.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi dilantai empat. Saya mendengar teriakan anak-anak."
"Aku juga mendengarnya. Sepertinya masih ada suara barang pecah, dan tidak ada yang berani mengetuk pintu."
Ketika Rachel mendengar percakapan mereka, wajahnya tiba-tiba berubah. "Dr., saya akan naik dulu, dan kita akan bicara nanti."
Rachel pun berlari ke atas tanpa menoleh ke belakang, berusaha mengabaikan luka di kakinya. Di seberang koridor, dia bisa mendengar teriakan dari suara lembut itu.
Rachel memutar knok pintu dan membukanya.
Ketika dia melihat pemandangan didalam apartemen dengan jelas, hatinya sakit seperti tertusuk jarum.
Owen mengenakan pakaian dan celana musim gugur yang tipis dan berdiri di lantai yang penuh dengan puing-puing kaca dengan kaki telanjang.
Kakinya lecet di beberapa bagian, dan masih berdarah.
Saat Owen mendengar pintu terbuka dan dia langsung menoleh, wajah mungilnya yang merah jambu dan halus bercampur dengan kepanikan dan keluhan, yang sama sekali tidak seperti anak berusia lima tahun.
Rachel menginjak pecahan kaca itu dan tertatih-tatih menghampiri Owen.
Owen memandangnya dengan hati-hati dan melangkah mundur.
Rachel takut kaki kecilnya akan terluka lagi, jadi dia memeluk tubuh kecilnya dengan keras dan membujuk dengan lembut, "Sayang, maafkan aku. Ponselku dirusak oleh keluarga pasien, dan aku tidak bisa menerima teleponmu. Apa kamu takut?"
Rachel membawanya ke tempat tidur dan mulai memeriksa luka-lukanya. Ia menemukan ada beberapa luka di kaki dan punggung tangan mungilnya.
Dia mengeluarkan kotak obat kecil dari laci di samping tempat tidur dan dengan cepat mengobati lukanya.
Owen melihat cara berjalan Rachel yang sedikit berbeda dari biasanya dan mengetik kalimat di mini padnya.
"Apa yang terjadi dengan kakimu?"
Rachel tahu bahwa Owen jauh lebih cerdas dan lebih dewasa dari pada anak-anak seusianya dan Rachel pun tidak berniat menyembunyikannya lagi darinya.
"Siang tadi, ada anggota keluarga pasien yang membuat sedikit masalah. Aku terluka dalam proses penanganannya, tetapi tidak ada masalah serius. Kamu tidak perlu khawatir."
Owen memandangi ekspresi senyum Rachel dan terus mengetik baris di mini padnya.
"Kenapa tidak biarkan ayahku yang menanganinya?"
"Biarkan dia memukuli keluarga pasien? Masalah ini tidak sesederhana itu, tetapi juga tidak rumit. Masih bisa untuk menanganinya dengan benar." Rachel tertawa.
Dia mengambil mantel kecilnya dan mengenakannya satu per satu.
"Aku harus bekerja nanti. Bisakah aku menelepon ayahmu untuk menjemputmu dulu?"
"Kakimu terluka, dan mudah terinfeksi di rumah sakit. Selain itu, aku tidak bisa melindungimu hari ini, jadi aku perlu memberitahu ayahmu agar ayahmu tidak perlu khawatir."
Owen menundukkan kepalanya, menyelipkan jari kelingkingnya pada mini-pad, dan menulis, "Jadi ayahku akan membencimu."
"Ayahmu dan aku sama-sama dewasa dan tidak akan membenciku karena ini."
"Sebelumnya, dia membenci wanita seperti ini." Setelah Owen selesai menulis kalimat ini, dia segera menghapusnya.
Rachel sudah melihatnya. Dia tersenyum dan berkata, "Kamu tidak perlu khawatir tentang orang dewasa. Bisakah aku memeluk mu sekarang?"
Owen mengangguk dengan kaku dan membiarkannya memeluknya dengan patuh.
...----------------...
Rachel membawa Owen ke ruangannya dan menepuk dahinya ke belakang.
Ponselnya rusak. Dia baru saja menelepon Christopher di ponsel Owen.
Begitu Rachel meletakkan Owen di ranjang klinik, Lira masuk dan berkata, "Saudari Rachel, direktur sedang mencarimu."
Rachel mengucapkan selamat tinggal pada Owen dengan dua kalimat itu selesai dia pun pergi.
Owen mengeluarkan mini padnya setelah Rachel pergi dan mengirim pesan kepada Christopher.
Owen: Das, sepertinya aku tidak sengaja menggali lubang untukmu.
Christopher: Kelinci kecil, apa yang telah kamu lakukan lagi?
Owen: Hari ini, Rachel diintimidasi oleh salah satu keluarga dari pasien, kakinya terkilir, dan ponselnya juga rusak. Aku tidak bisa menghubunginya, jadi aku bertengkar hebat di apartemen kecilnya di rumah sakit. Kemudian dia berlari untuk menghibur ku yang terluka, dan aku sudah memaafkannya. Lalu tanpa sengaja aku mengatakan kalau kamu dulu membenci seorang wanita karena dia tidak bisa merawatku dengan baik.
Christopher tidak membalas pesannya.
Owen memandang mini padnya dengan ketakutan dan gemetaran dan berpikir negatif dalam hatinya tentang bagaimana perasaan ayahnya saat itu.
Jadi, dia dengan cepat mengetik sebuah kalimat di mini padnya.
"Jika kamu membencinya, katakan padanya dengan jelas. Saat aku besar nanti, aku akan menikahinya!"
"Persetan! Diusia mu sekarang, kamu sudah berani menyaingi ayahmu."
"Jadi apa yang akan kamu lakukan padanya? Jika kamu berani menggertaknya dan memperlakukannya dengan buruk, aku akan muak denganmu setiap hari!"
"Sepertinya kamu tidak membenciku sekarang. Cepat temui peri ajaib Barbara kecilmu itu dan tinggalkan aku sendiri!"
Owen membaca kalimat itu dan merasa IQ-nya telah dihina.
Dengan cepat, dia mematikan mini pad miliknya dan melakukan perang dingin dengan Christopher di ujung sana.
...----------------...
Rachel mengira dia akan disemprot air liur oleh sang direktur, ditambah lagi pendidikan ideologis sore hari. Tanpa diduga, sang direktur hanya memahami situasinya dan kemudian membiarkannya untuk fokus dengan lukanya.
Ketika Rachel kembali ke ruangannya, dia menemukan kalau Christopher juga ada di sana. Dia melirik Owen dan berpikir seharusnya pria kecil ini yang mengirimkan pesan pada Christopher.
Christopher memandangi wanita kecil yang berjalan pincang itu dan bertanya, "Apa kakimu sakit parah?"
"Untungnya, berjalan tidak masalah. Kamu harus mengantar Owen pulang dulu. Resistensi anak-anak relatif buruk, dan tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama sangat berisiko."
"Aku akan menjemputmu malam nanti, jadi jangan mengemudi sendiri."
"Oke."
Christopher tidak mengulangi apa pun dan pergi dengan Owen di pelukannya.
Lira merasa dipenuhi dengan bintang-bintang saat melihat ke arah kepergian Christopher dan Owen. "Rachel, aku sangat iri padamu!"
_______
TBC