
Semua karakter, insiden, dan latar dicerita ini adalah fiktif. Kemiripan dengan cerita tertentu, baik alur maupun tokoh hanya kebetulan dan tidak disengaja.
HAPPY READING
...----------------...
Saat itu, pintu diketuk dengan keras. Christopher menatap Rachel. "Penguasa akan datang."
Rachel refleks tahu kalau Owen pasti terlibat dalam hal ini.
Rachel tidak memandang Christopher lagi. Dia pergi dan membuka pintu, tetapi dia tidak melihat pria kecil gemuk yang berdiri di luar pintu.
Owen berkedip polos dan siap memeluk kaki Rachel.
Pada saat itu, Rachel tidak sabar untuk memukul pantat kecil kelinci itu, dia bergerak ke samping menghindari sentuhannya, dan turun ke bawah.
Owen langsung memandang Christopher dengan jahat.
Matanya dengan jelas berkata, 'lihat apa yang telah kamu melakukan.'
Christopher mengulurkan tangannya dan menyelinap ke Owen. "Apa aku terlalu baik padamu di saat-saat seperti ini? Beraninya kamu bermain denganku?"
Owen mendengus dari hidungnya yang kecil dan mengira itu adalah sebuah ancaman.
Christopher tidak mau repot-repot berbicara omong kosong bersamanya, jadi dia mengambil pantat kecilnya yang miring dan menamparnya.
Kemudian, melemparkan dia seperti sampah ditempat tidur yang besar, dia bergegas turun.
Rachel menyeret tubuhnya yang jatuh dan berjalan cepat. Setiap langkah datang dengan rasa sakit yang canggung.
Ketika angin dingin bertiup, kepalanya yang panas menjadi sangat tenang.
Rachel, seorang wanita dewasa, dijebak oleh seorang anak berusia lima tahun dan kehilangan keperawanannya.
Hukuman apa yang pantas diberikan padanya?
Di belakangnya terdengar suara roda menekan jalan, dan Rachel mempercepat langkahnya.
Tapi bagaimana kakinya bisa berjalan lebih cepat dari pada empat roda mobil itu?
Christopher mengemudikan mobil tidak jauh didepan Rachel, lalu dia berhenti.
Langkah Rachel berhenti, tidak maju ataupun mundur.
Christopher membuka pintu mobil dan melangkah menuju Rachel.
Rachel tanpa sadar melangkah mundur.
Christopher menarik dirinya ke dalam pelukannya dan mengenakan mantelnya di tubuhnya.
Baru setelah kehangatan pada mantel mencapai Rachel, barulah dia sadar bahwa dia tidak mengenakan mantel sama sekali.
Christopher menyentuh wajah kecilnya yang putih karena kedinginan dan berkata, "Hentikan, oke?"
"Lepaskan aku, aku ingin pulang!"
"Aku akan mengantarmu pulang. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian dalam situasimu saat ini."
"Christopher, kamu pikir aku ini siapa?" Rachel menatap Christopher dengan mata merah. “Karena ulahmu dan anakmu, kamu sudah membuat hidupku dan pekerjaanku berantakan. Sekarang aku tidak ingin bergaul denganmu lebih jauh, kalian telah menjebakku. Apa kalian sedang mempermainkan aku?"
Rachel melepas mantel ditubuhnya yang berharga dan melemparkannya ke tanah. Dia berkata dengan emosi, "Aku tidak ingin ada hubungan lagi dengan mu, dan aku tidak tertarik dengan keluarga mu. KAMU, menjauhlah dariku!"
Pada saat itu, Rachel mendorong Christopher tanpa rasa kasihan, tetapi dia tidak bisa mendorongnya jauh.
Christopher menatap mata Rachelnya yang mulai berair dan marah, tidak seperti penampilannya biasa, dan dia benar-benar marah hingga berkata seperti itu.
Dengan lengan panjang yang terulur, dia dengan kuat menarik tubuh ramping itu kedalam pelukannya, dan berkata dengan jahat, "Siapa bilang aku main-main? Apa menurutmu aku adalah tipe orang yang membawa wanita ke tempat tidur ketika aku melihatnya? apa kamu pernah melihatku berhubungan intim dengan wanita diluar sana, dan kapan aku mengatakan kalau aku sudah memiliki tunangan di depan umum? Aku hanya mengatakan ini kepadamu."
Rachel berusaha keras melepaskan diri, dia berhenti perlahan, dan menatap Christopher tak percaya.
Christopher memandang wajah manisnya yang tidak pernah membosankan. "Tidak percaya?"
Rachel mengangguk dengan polosnya.
Christopher tidak tahu apakah harus mengatakan bahwa wanita itu jujur atau meragukan pesonanya. "Ayo kita bicara baik-baik."
"Aku ingin sendiri." Rachel berhenti dan berkata, "Pinjamkan aku mobilmu dulu."
Christopher tidak habis pikir dengan wanita itu.
Rachel tidak berkata apa-apa lagi, dia melewati Christopher, duduk di Maserati, dan menyalakan mobil, lalu pergi.
Christopher memandangi mobil yang menghilang oleh kabut dan mengangkat kedua alisnya.
Apakah dia tidak mencintai uang?
Namun, dia lebih tidak percaya ada wanita yang menolaknya.
Kemudian dia menuangkan beberapa teguk air dingin.
Air dingin membeku dari tenggorokan ke perutnya, yang membuatnya sedikit gemetar.
Rachel membungkuk di samping tempat sampah dan melihat sebuah mobil berhenti di dekatnya orang tersebut menoleh kearahnya.
"Di mana kamu lari tadi malam?"
Rachel terbatuk beberapa kali sebelum dia membuang kotak obat dan air ke dalam tong sampah.
Tanpa melihat orang itu dan meninggalkan Maserati yang dibawanya, dia buru-buru naik taksi dan pergi.
Rachel telah sampai dirumahnya, dan ibunya Amelie sedang sibuk di dapur.
"Bu, apakah putrimu terlihat seperti gadis di bawah umur? Yang perlu melaporkan semuanya padamu?"
Amelie melihat wajahnya yang pucat. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa, aku menangani operasi kecelakaan dalam semalam, dan aku sangat kelelahan. Bu, aku akan istirahat."
" Makanlah sesuatu sebelum tidur."
"Aku sudah makan di luar. Jangan ganggu aku." Setelah Rachel menyerbu, dia naik ke atas dan memasuki kamarnya.
Dia mengambil baju ganti dan pergi kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Melihat jejak lebam ditubuhnya, Rachel marah dan merasa malu.
Selain kedua emosi itu, masih ada getaran yang tersembunyi.
Rachel menggelengkan kepalanya dan menggosok tubuhnya dengan sabun agar bekas sialan itu sirna.
Rachel beristirahat di rumah sepanjang hari, setelah bangun pagi keesokan harinya, dia menyadari bahwa mobilnya masih di rumah sakit.
Jadi, terpaksa pagi itu dia memesan taksi untuk pergi bekerja.
Saat dia tiba di rumah sakit, perhatian dan bisikan masih jelas terdengar, membuat Rachel sangat kesal.
Dia memasuki ruangan nya, dan mengusap dahinya. "Lira, buatkan aku kopi."
"Hah? Ooh." Lira meletakkan ponselnya dengan panik dan melompat untuk membuatkannya kopi.
Rachel menatapnya dengan wajah dingin, dan matanya tertuju pada ponsel Lira.
Lira yang melihat arah tatapannya, langsung bergegas datang mengambil ponselnya.
Rachel berkata, "Apa ada sesuatu di dalamnya yang tidak boleh aku lihat?"
"Tidak, tidak ada."
"Lalu, kenapa kamu begitu cemas?"
"Rachel ..." Wajah Lira sedih.
"Berikan aku ponselmu."
"Kamu tidak boleh marah."
"Berikan padaku!."
Lira menggigit bibirnya, menyerahkan ponselnya kepada Rachel, lalu kabur untuk membuat secangkir kopi.
Rachel menatap layar ponsel, dan wajahnya tiba-tiba berubah warna.
Terdapat sebuah Vidio para staf rumah sakit UCLA, dan mereka sedang mengobrol, bergosip kecil seakan sebagai sebuah hiburan.
Jelas Vidio yang tertera disana merupakan foto dirinya yang sedang jongkok dijalan sambil minum air.
Rachel membuka postingan itu dengan jari gemetar.
Banyak juga foto dalam postingan tersebut, di antaranya sederet foto dirinya turun dari mobil dan memasuki apotek, memegang kotak obat dalam keadaan linglung, meminum obat, melempar obat, dan lain sebagainya, bahkan saat dirinya membuang kotak obat.
Mata Rachel berubah gelap menatap foto-foto itu, dan dia sama sekali tidak bisa melihat kata-kata disana dengan jelas.
Kemudian, sambil menarik napas dalam-dalam, dia meletakkan ponsel itu di atas meja Lira, dia kembali ke posisinya dengan ekspresi yang tidak berperasaan, dia duduk dalam pikirannya yang berkecamuk.
Lira kembali dengan secangkir kopi, menatap wajah Rachel, dan berkata, "Saudari Rachel, aku tidak percaya kamu adalah orang seperti itu. Kamu dan aku jelas bukan seperti yang mereka katakan, mereka sama sekali tidak mengenalmu."
Rachel tersenyum lelah dan tidak berkata apa-apa.
Pada saat itu, ponsel Rachel berdering dimejanya.
______
TBC