
*How long distance I've left.
My longing for home is great.
How long time I've left.
My longing for family is great.
For you all guys who have left your home and family for years.
Please, come back home.
Even if you do that for a split second.
Because your parents and family really miss you.
They completely don't need your money.
They utterly don't need your wealth.
They are just want to look at your coming.
Perhaps, they're not up to snuff today.
And, there's no cure other than your coming*.
A poem by Theo.
Malam ini, aku pulang dari kedai lebih awal. Hujan seharian tadi sudah reda. Menghasilkan kubangan-kubangan kecil di sepanjang jalan aspal Kota J. Aku mengayuh sepeda fixie-ku seorang diri. Teman-temanku yang lain mengambil jalan yang berbeda karena memang rumah kami tidak searah.
Aku melewati deretan bangunan-bangunan tua peninggalan zaman Kolonial Belanda yang masih tampak terawat dengan baik, ruko-ruko dengan gaya arsitektur modern berdiri kokoh di antara lampu-lampu kota berwarna kuning keemasan. It's so quaint.
Suasana jalanan Kota J tampak sepi dan lengang. Tak ada seorang pun pejalan kaki, atau kendaraan yang melintas. Mungkin udara dingin di musim hujan memaksa orang-orang untuk malas keluar rumah dan lebih memilih untuk tidur di balik selimut hangat mereka.
Aku terus mengayuh sepedaku dengan kecepatan standar. Aku tidak berani mengayuh lebih cepat. Itu akan membuat udara malam yang dingin menjadi lebih dingin saat menerpa tubuhku. Lagi pula aku cuma memakai celana jeans, T-shirts, dan jaket parasit. Aku tidak mau masuk angin ketika sampai di rumah nanti. Aku tidak mau merepotkan kedua orang tuaku. Ditambah kondisi jalanan yang licin. Risiko untuk jatuh pun besar.
Sepanjang perjalanan, bayangan Nisrina selalu muncul. "Ah... The moment is creeping in my mind anymore. I wish it would be happened over and over again." aku tersenyum-senyum sendiri dibuatnya.
Tiba-tiba, aku mengerem sepedaku secara mendadak ketika aku melewati gerbang sebuah sekolah menengah, tepat di sebelah kanan jalan. Aku berhenti sejenak. Aku ingat, tadi pagi Nisrina mengatakan kalau dia mengajar Bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah di Kota J. "Mungkinkah dia mengajar di sini? Entahlah. Besok saja kalau dia mampir lagi ke kedai akan aku tanyakan." pikirku.
Aku lalu melanjutkan perjalananku untuk pulang ke rumah karena udara malam semakin dingin saja. Jarak dua kilometer antara rumah dan kedai, begitu pun sebaliknya, sudah biasa aku tempuh dengan bersepeda. Ingin rasanya aku memiliki sebuah sepeda motor untuk lebih memudahkan mobilitas. Tapi, aku urungkan niatku itu. Ada yang lebih penting dari hanya sekadar membeli sepeda motor, yaitu membantu menopang biaya hidup kedua orang tuaku dan Yeyen, adik perempuanku yang masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar yang bertitel agama.
"Kreeekkk..." aku membuka pintu pelan-pelan. Aku sudah paham, jam segini ayah, ibu, dan Yeyen, adik perempuanku sudah tidur dan aku tidak mau mengganggu mereka. Aku lalu melangkah pelan menuju dapur setelah menaruh sepeda fixie kesayanganku di ruang tamu dan mengunci pintu rumah kembali. Aku hendak merebus air di dapur agar aku bisa mandi air hangat. Mandi dengan air dingin di cuaca yang dingin pula bisa membuat tulangku pegal-pegal.
Namun, langkahku terhenti saat melewati kamar adikku. Lampu kamarnya masih menyala, tanda bahwa dia belum tidur. Aku mencoba mengetuk pintu.
"Tok, tok, tok." aku mengetuk pintu.
"Siapa itu..." tanya adikku dengan suara terisak-isak, seperti sedang menangis.
"Iya, masuk saja kak.." sahut Yeyen dari dalam.
Aku kemudian masuk ke kamar Yeyen. Aku melihat dia sedang duduk di kursi menghadap meja belajar yang sebenarnya tidak pantas disebut sebagai meja belajar. Meja tulis tua yang telah dimodifikasi seadanya sehingga menyerupai sebuah meja belajar. Di meja belajar ini pulalah, dulu, ayah dan ibu bergantian mengajariku membaca, menulis, dan berhitung. Sungguh sebuah kenangan masa kecil yang indah, di tengah kesederhanaan.
"Kamu kenapa menangis dik.." tanyaku kepada Yeyen.
"Ga ada apa-apa kok kak.. Everything is okay." jawab Yeyen sambil mengusap air matanya.
"Kamu jangan bohong dik.. Kalau ada masalah, cerita sama kakak. Kita ini satu keluarga. Harus saling menguatkan satu sama lain. Sudah.. jangan menangis lagi.. Cerita sama kakak." nasihatku pada Yeyen.
Yeyen mengusap air mata di wajahnya dengan selimut yang membalut tubuhnya. Sementara, udara dingin mulai masuk ke dalam rumah melalui celah-celah jendela, di bawa oleh angin malam yang berhembus semakin kencang pertanda bahwa hujan mungkin sebentar lagi turun kembali.
Yeyen mulai bercerita:
Tadi siang, di saat jam pelajaran berlangsung, Bu Guru mengatakan bahwa jika kita mau pintar dan cerdas, kita harus makan makanan atau minum minuman sisanya "guru spiritual". Dengan itu kita akan mendapatkan berkah dari "guru spiritual". Aku tidak sepenuhnya percaya dengan pernyataan Bu Guru. Aku merasa ada yang aneh dengan pernyataan beliau.
Lalu, saat jam istirahat siang, aku menemui Bu Guru di kantor untuk menanyakan tentang apa yang dikatakan tadi di kelas. Aku memang sengaja memilih jam istirahat, ketika suasana kantor sepi, untuk menjaga adab.
Aku pun bertanya kepada beliau, "Bu, aku mau tanya."
"Iya, silahkan." jawab beliau.
"Ibu tadi di kelas mengatakan bahwa kalau kita ingin pintar dan cerdas, maka kita harus makan makanan atau minum minuman sisanya 'guru spiritual', apakah pernyataan Ibu ada dasar ilmunya? Bukankah ilmu itu didapatkan hanya dengan belajar dan berdoa." tanyaku kepada Bu Guru.
Mendengar pertanyaanku tersebut, Bu Guru hanya diam. Namun, aku tahu, ada kemarahan di sorot matanya. Lalu dengan nada keras, beliau mengatakan bahwa aku terpengaruh dengan pemahaman radikal. Aku tidak tahu apa itu radikal. Aku hanya ingin bertanya tentang dasar hukum yang mendasari pernyataan beliau.
Setelah kejadian itu, tiba-tiba saja seluruh teman-temanku satu kelas bersikap aneh kepadaku. Mereka seperti memusuhiku. Hanya satu dua orang dari mereka yang masih mau berteman denganku.
#####
Mendengar cerita adikku, aku hanya bisa tertunduk lemas. Aku tidak habis pikir, ternyata fanatisme terhadap tokoh, kelompok, organisasi, atau apalah yang bersifat keduniawian tapi dibungkus dengan titel agama bisa membuat manusia menjadi jahat. Tanpa melihat bagaimana latar belakang manusia itu. Bahkan saking jahatnya, fanatisme akan membuat manusia memusuhi manusia lain yang masih anak-anak yang dianggap memiliki pemikiran dan pemahaman yang bertentangan dengan pemikiran dan pemahaman tokoh, kelompok, organisasi, atau apapun yang bersifat keduniawian tapi dibungkus dengan titel agama.