Coffee Nation

Coffee Nation
My Longing For You Is Great



Bos Rizal, Farid, dan Alfie berbondong-bondong keluar dari tempat persembunyiannya. Aku yang masih bengong dalam penyesalan karena lupa meminta kontak WhatsApp Nisrina, sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka bertiga. Aku hanya bisa terduduk lesu di depan coffee bar, dikelilingi peralatan dan perlengkapan manual brewing. Aku merasa seolah-olah semua peralatan dan perlengkapan itu menertawakanku. Aku tertunduk lesu seraya mencengkeram sebuah kain napkin dengan sekuat-kuatnya.


"What the hell. Why do I can forget to ask her WhatsApp contact? This is such an useless acquaintance." aku mengumpat.


Bos Rizal menepuk pundakku. "Gimana bro?"


"Payah Bos." jawabku lesu.


"Payah gimana maksudnya? Dia udah nikah?" Bos Rizal bertanya penasaran.


"Apa jangan-jangan dia udah punya calon mungkin dan sebentar lagi dia mau nikah?" Farid dan Alfie menambahi.


"Bukan Bos, bro. Dia masih single." jawabku.


"Lalu, kenapa payah?" tanya Farid.


"Aku cuma lupa bertanya dan meminta kontak WhatsApp-nya. I simply forgot to ask it. What was I thinking of?" jawabku menyesal.


"Tapi kamu sudah tahu namanya kan? I wish you didn't forget to ask her name as well." tanya Alfie.


"Ya ga lah. Masa gua lupa nanya nama orang yang gua ajak kenalan. Bahkan aku sudah tahu pekerjaan dan dimana dia bekerja. Tapi aku terlalu gugup, sampai-sampai lupa bertanyab dan minta kontak WhatsApp-nya." jawabku agak sewot.


"Ga apa-apa bro.. Anggap saja ini baru permulaan. Easy going brother." ucap Bos Rizal menghiburku.


"Thanks Boss. Thanks bro. Kalian semua udah nyemangatin gua. Gua beruntung punya rekan-rekan yang baik seperti kalian." kataku.


"That's what friends are for..." ucap mereka bertiga hampir bersamaan.


Diskusi singkat itu pun berakhir. Kami pun bubar, kembali ke tempat dan pekerjaan masing-masing. Aku segera membersihkan cangkir dan piring yang tadi dipakai oleh Nisrina. Aku membersihkan cangkir itu di wastafel sambil membayangkan percakapan kami berdua tadi pagi. Aku pun senyum-senyum sendiri dibuatnya. "Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Ah, aku tidak percaya. Mungkin perasaan ini datang karena aku belum pernah jatuh cinta atau bahkan berkenalan dengan seorang wanita sebelumnya." pikirku dalam hati.


Jam digital di dinding kedai menunjukan pukul 06:50 a.m. Di luar, gerimis semakin deras. Kedai masih tampak lengang. Mungkin hujan deras membuat sebagian pelanggan merasa malas untuk mengunjungi kedai. Mungkin pagi ini mereka lebih memilih langsung menuju ke tempat kerjanya. Aku hanya bisa berharap yang terbaik. Toh, waktu turunnya hujan adalah salah satu waktu yang baik untuk berdoa.


"Semoga hari ini dan seterusnya, Kedai Kopi Nusantara selalu ramai, supaya Bos Rizal tetap semangat mengembangkan usahanya ditengah persaingan yang semakin ketat. Semoga aku, Farid, dan Alfie selalu dalam kebaikan. Dan tentunya jika Nisrina itu baik bagiku, semoga kita dimudahkan untuk berjodoh. Aamiin." doaku.


"Nisrina, I am desperately in love with you." ucapku dalam hati.


"Bro, stock Arabica Wamena, Arabica Toraja, sama Robusta Dampit Malang masih ada ga di gudang?" tanyaku pada Farid.


"Masih aman bro. Nanti aku ambilin." jawab Farid.


"Thanks bro." ucapku.


Farid melambaikan tangan sambil berlalu ke gudang mengambil stock kopi.


Aku lalu duduk di salah satu kursi pelanggan untuk istirahat karena belum ada pelanggan yang datang lagi setelah Nisrina. Aku membuka kunci smartphone milikku untuk sekadar browsing atau stalking beranda di akun Facebook dan Instagram. Aku langsung menuju ke kolom pencarian. Lalu, aku ketik nama "Nisrina" di sana dengan harapan bisa menemukan akun media sosial miliknya. Namun, yang muncul begitu banyak akun dengan nama "Nisrina" dan aku tidak tahu yang mana akun milik Nisrina yang tadi pagi mampir dan ngobrol denganku di kedai. Aku pun menghela nafas.


"Why I can be so stupid? Why I can miss a chance? That's all applesauce." gerutuku.


Aku melihat ke arah coffee bar. Kulihat Alfie tampak buru-buru menuju ke sana sambil membawa keranjang penuh berisi bermacam jenis buah-buahan, lalu menaruh dan menatanya di rak dekat coffee canister. Memang, selain menyajikan berbagai jenis kopi dan camilan, kedai tempat kami bekerja juga menyediakan Tutti Frutti. Alfie yang bertugas membuat dan menyajikannya bila ada pelanggan yang memesan.


Sesaat kemudian, Farid muncul dari gudang dengan membawa sembilan karton kopi yang aku minta. Aku segera berdiri dari tempat duduk, menghampirinya yang tampak kewalahan.


"You look so overwhelmed bro. Sini gua bantuin." aku mengambil empat karton kopi dari tangannya.


"Thanks bro." sambut Farid.


Sesampainya di coffee bar, aku dan Farid membuka karton-karton berisi biji kopi tersebut dan memasukkannya ke dalam coffee canister sesuai dengan spesifikasinya. Suara gemerincing biji-biji kopi yang telah disangrai oleh salah satu coffee roastery langganan kami terdengar riuh mengisi ruangan kedai yang lengang seolah-olah memanggil para pelanggan untuk mencicipinya.


Jam menunjukkan waktu makan siang. Satu per satu para pelanggan mulai berdatangan. Kami bertiga mulai disibukkan oleh aktifitas kami sehari-hari, menyajikan kopi, camilan, dan Tutti Frutti kepada mereka dengan penuh ketulusan hati. Bos Rizal pun juga tidak tinggal diam. Beliau ikut berbaur dengan para pelanggan, menanyakan tentang kesan-kesan selama mereka menjadi langganan Kedai Kopi Nusantara. Sesekali tampak canda tawa beliau bersama para pelanggan.


Suasana yang demikian secara tidak langsung mengurangi kekecewaanku tadi pagi. Namun, rasa penasaranku kepada Nisrina semakin besar. "My longing for you is great sista." kataku dalam hati.


Di tengah suasana kedai yang semakin ramai, Nathalie King menyanyikan lagu American Boy dari speaker aktif. Menambah suasana hangat di musim hujan bulan Januari ini.


"Would you be my love, Nisrina?"


"Could you be my love, Nisrina?"