Coffee Nation

Coffee Nation
Rahasia Farid



Time flies. Waktu berlalu dengan sangat cepat. Setelah seharian yang melelahkan, malam pun tiba. Di luar, hujan masih tampak belum mau reda. Kedai Kopi Nusantara biasa close order pukul 10:00 p.m. Namun di musim hujan, situasi kedai tidak seperti hari-hari biasanya. Pelanggan terakhir, telah meninggalkan kedai sekitar pukul setengah sembilan malam tadi. Mungkin hari ini kita akan tutup lebih awal.


Bos Rizal tampak sibuk menghitung pendapatan kedai hari ini. Farid dan Alfie tengah sibuk membalik kursi pelanggan dan menyapu lantai kedai, membersihkan sisa camilan yang mungkin jatuh ke lantai atau sekadar mengelap noda kopi di atas meja dan kursi pelanggan. Sedang aku sendiri masih sibuk mencuci dan membersihkan peralatan dan perlengkapan manual brewing serta puluhan cangkir dan piring yang telah dipakai oleh para pelanggan. Aero Press, French Press, V60, Siphon, Dripper, coffee bar, dan lain-lain semuanya sudah bersih, aku lalu mengambil tempat duduk tepat di samping mesin coffee maker. Aku berusaha untuk tidak menampakkan rasa lelahku di depan rekan-rekan.


Tiba-tiba, Farid menghampiriku.


"Sudah selesai bro, bersih-bersihnya?" tanya Farid kepadaku.


"Oh, udah nih. Baru aja selesai. By the way, mau kopi bro? Aku buatin ya? Kamu mau kopi apa? Cappucino, Cafe Latte, Vietnam Drip?" aku mencoba menawarkan kepada Farid.


"Ah, ga usah repot-repot bro. Nanti kamu bersih-bersih lagi." jawab Farid.


"Ah, ga apa-apa bro. Relax.. Nothing is wrong.." balasku santai.


"V60 aja deh bro. Kopinya Robusta Dampit Malang." pinta Farid.


"Oh iya. Alfie, mau kopi juga ga?" tanyaku agak sedikit keras.


Dari sudut kedai yang lain, Alfie tampak melambaikan tangan tanda tidak mau. Dia lebih memilih sibuk dengan smartphone miliknya. Mungkin dia sedang main online game.


Aku kemudian membuat dua cangkir V60. Lalu menyajikannya untuk kami berdua saja. Maka, mulailah timbul percakapan di antara kami.


"Bro, kamu pernah jatuh cinta ga sama seseorang? Gimana rasanya jatuh cinta untuk yang pertama kali?" tanyaku kepada Farid.


"Pernah bro. Tapi dulu. Dulu banget waktu aku masih SMA." jawab Farid.


"Sama teman seangkatan atau adik kelas?" tanyaku lagi.


Farid berhenti sejenak. Lalu menjawab, " Sama Bu Cindy, guru Matematika dan juga Wali Kelasku."


"Uhuk, uhuk, uhuk." aku batuk karena tersedak ketika mendengar jawaban Farid. Aku sama sekali tidak percaya dengan pengakuannya tersebut. Setahuku, kisah cinta antara guru dan murid cuma ada di FTV saja. "What? Are you fucking joke brother?" aku menatap Farid dengan penuh penasaran.


"Aku serius Theo. Aku akan ceritakan rahasia ini sama kamu Theo. Karena ini sudah terjadi sangat lama hampir sepuluh tahun yang lalu. Jadi tidak ada gunanya untuk terus dipendam." jawabnya tegas.


Farid mulai bercerita:


Dulu, ketika SMA, aku (Farid) memiliki seorang guru Matematika. Bu Cindy namanya. Beliau seorang guru Matematika yang baik. Tidak seperti guru-guru Matematika yang lain, yang terkesan seram dan angker. Walaupun beliau usianya tujuh tahun lebih tua dariku. Tapi wajahnya tidak kalah cantik dengan teman seangkatan atau bahkan adik-adik kelasku.


Setiap beliau mengajar di kelas, aku selalu berusaha mengerjakan soal-soal di papan tulis dengan baik (padahal aku sebenarnya lemah di Matematika) supaya dia terkesan kepadaku. Namun, sebaliknya, ketika ulangan harian atau semester, aku sengaja menjawab soal-soal itu dengan sembrono agar mendapatkan nilai yang jelek. Agar aku bisa remidi, dan mengerjakannya di kantor guru atau perpustakaan, berdua dengan Bu Cindy.


Tapi akhirnya, aksiku ketahuan juga oleh beliau. Suatu ketika saat mengerjakan remidi soal-soal ulangan harian di perpustakaan, Bu Cindy mengungkapkan kecurigaannya kepadaku.


"Farid, di kelas kamu bisa mengerjakan soal-soal di papan tulis dengan baik. Tapi ketika ulangan, kenapa kamu selalu dapat nilai buruk? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Bu Cindy.


Aku hanya diam. Kepalaku tertunduk. Aku tidak berani menatap wajah beliau.


"I.. iya Bu.. Aku mengaku. Aku sengaja melakukan itu semua supaya aku bisa remidi dan mengerjakannya berdua saja sama ibu." jawabku.


"Maksudnya?" tanya Bu Cindy penasaran.


"Aku suka sama ibu. Aku sayang sama ibu. Aku cuma pengen dekat sama ibu." akhirnya aku berani berterus terang kepada Bu Cindy.


Mendengar jawabanku, Bu Cindy langsung berdiri. "Farid, kamu jangan kurang ajar sama ibu ya."


Aku pun berdiri. Aku sudah tidak peduli lagi dengan lembaran soal-soal ulangan di atas meja perpustakaan di depanku. "Aku ga kurang ajar Bu. Aku cuma ngungkapin perasaan aku sama ibu."


"Ga! Kamu udah gila Farid." Bu Cindy mulai emosi.


"Iya! Ibu benar! Aku memang sudah gila! Aku gila karena ibu! Setiap hari ibu selalu muncul di pikiranku! I love you so much Ma'am. I completely can't live without you." aku menaikkan nada suaraku seraya memegang erat tangan kanan beliau.


Wajah Bu Cindy memerah, antara marah dan malu. Beliau mengangkat tangan kirinya, hendak menamparku. Tapi tidak jadi. Aku pun refleks, menghindari tamparan yang mungkin saja mendarat di wajahku. Bu Cindy meneteskan air mata, melepas genggaman erat tanganku, lalu melangkah pergi keluar perpustakaan. Aku mendengar isak tangisnya. Aku kembali duduk. Seluruh tubuhku gemetaran. Aku takut kalau nanti beliau melaporkan kejadian ini ke pihak guru yang lain. Aku khawatir. Mungkin ini rasanya jika seseorang yang tidak pernah jatuh cinta sedang mengungkapkan perasaannya. Terkesan terlalu agresif. Untunglah, saat itu, perpustakaan sepi, sehingga tidak ada orang lain yang melihat keributan itu.


Malamnya, aku mencoba menelepon Bu Cindy beberapa kali. Namun, sama sekali tidak diangkat. Aku lalu mengirimkan pesan WhatsApp berisi permintaan maaf kepada beliau. Aku menyesali kejadian tadi siang di perpustakaan. Aku mengirimi beliau lebih dari 30 pesan WhatsApp. Tapi, tak satupun dari pesan itu beliau balas.


Setelah kejadian di perpustakaan itu, hampir sepekan Bu Cindy tidak pernah terlihat lagi di sekolah. Proses belajar mengajar mapel Matematika diambil alih oleh guru lain. Aku semakin khawatir.


Tiba-tiba, Pak Kepala Sekolah masuk ke kelas kami, dan mengabarkan bahwa Bu Cindy sudah tidak bisa lagi mengajar di sekolah kami. Beliau harus meneruskan studi S2 nya di London. Dan beliau tidak sempat berpamitan secara langsung.


Mendengar kabar tersebut. Aku langsung keluar dari kelas, menuju ke tempat parkir, mengambil sepeda motor custom-ku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan reaksi kawan-kawan serta guru-guru atau bahkan Kepala Sekolah ketika mereka melihat tindakanku itu. Aku gas sepeda motorku menuju rumah Bu Cindy. Tapi sesampainya di sana, suasana tampak lengang. Ibu penjaga rumah mengatakan bahwa Bu Cindy baru saja berangkat ke bandara. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke Bandara A. Sesampainya di bandara, aku mencari kebenaran beliau. Dan aku menemukan beliau sedang duduk di kursi tunggu di salah satu lobby bandara. Aku menghampiri Bu Cindy. Aku berjongkok di hadapannya seraya meminta maaf.


"Farid, ngapain kamu ke sini? Kamu bolos ya? Please, jangan bersikap seperti ini Farid.. Malu dilihat orang.." ucap Bu Cindy.


"Bu, maafin Farid ya Bu.. Farid salah. Farid janji ga akan kurang ajar lagi sama ibu." ucapku menyesal.


Aku lihat Bu Cindy meneteskan air mata. "Iya, ibu maafin kamu Farid. Ga Farid. Kamu ga salah. Kamu cuma mau ngungkapin perasaan kamu aja. It's normal if a man love a woman and try to express his conscience. It's okay dude. Please, wipe your tears. Maaf jika kemarin Ibu terlalu bersikap berlebihan sama kamu. Ibu paham kok, mungkin kamu masih terlalu muda sehingga belum mampu mengendalikan perasaan. You are my best student. Despite your beautiful teacher (Bu Cindy sedikit tertawa.) stay abroad, we can still connect to each other through the social media. Please, keep my WhatsApp contact. I will tell you if I have already arrived in London dude. Give me your words."


"Iya Bu. Makasih udah maafin Farid." ucapku lega.


"Enough is enough. Sudah-sudah. Berdiri Farid. Ibu harus ke pesawat sekarang. Sudah waktunya berangkat." Bu Cindy tersenyum kepadaku.


Kami pun berdiri. Bu Cindy memelukku. Aku hanya diam dalam pelukannya. Kemudian, Bu Cindy pun melangkah bersama calon penumpang yang lain, memasuki pesawat Bussiness Class. Kami pun berpisah seiring dengan terbangnya pesawat itu ke London.


######


"Setelah Bu Cindy tiba di London, dia kasih kabar ga bro?" aku bertanya.


"Iya. Beliau mengirimkan pesan sesampainya di London. Dan sampai sekarang, kita masih berkomunikasi dengan baik. Beliau sekarang sudah lulus S2 dan memutuskan untuk meniti karir di sana." jawab Farid.


Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah saatnya Kedai Kopi Nusantara tutup.