Coffee Nation

Coffee Nation
Kedai Kopi Nusantara



Namaku Theo. Aku bekerja sebagai seorang barista di sebuah kedai kopi yang berlokasi di pinggiran Kota J, tepi Jalan Jawa No. 28.


Kedai Kopi Nusantara, kedai kopi sederhana. Namun di sinilah aku belajar apa itu arti kehidupan, kerja keras, persahabatan, beserta suka dukanya, yang mungkin tidak pernah diajarkan di lembaga pendidikan formal.


Di kedai ini, aku tidak bekerja sendiri. Ada Farid, Alfie, serta Bos Rizal.


Farid dan Alfie adalah rekan kerja sekaligus sahabat sejak pertama kali aku bekerja di sini sampai sekarang. Farid, alumni fakultas Teknik Informatika di sebuah Universitas Negeri di Kota S. Kecintaannya terhadap kopi, membuat dia memutuskan untuk resign dari pekerjaan sebelumnya sebagai seorang staf IT di sebuah perusahaan swasta di Kota P. Namun, aku tidak sepenuhnya percaya dengan alasannya itu. Suatu saat, Farid bercerita kepadaku bahwa sebenarnya dia resign dari pekerjaan sebelumnya karena ada masalah dengan salah seorang Staf IT senior. Staf IT senior memperlihatkan sikap tidak suka terhadap kehadiran Farid di kantor itu. Dan puncaknya adalah ketika sebuah MacBook milik perusahaan tiba-tiba menghilang dan tahu-tahu benda itu telah ada di dalam ransel milik Farid, padahal Farid sama sekali tidak pernah mengambil MacBook tersebut. Dan aku pun percaya dengan cerita Farid. Karena selama empat tahun bekerja bersamanya di kedai ini, dia adalah orang yang jujur.


Sedangkan Alfie, dia adalah seorang fresh graduate sebuah Sekolah Kejuruan di Kota J. Usianya belum genap dua puluh tahun. Dia mengambil jurusan Analis Kimia. Setelah lulus, dia berusaha keras mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya sewaktu di sekolah. Tapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan tersebut. Sempat hampir frustasi karena hal itu. Sampai akhirnya, dia datang ke kedai, melamar pekerjaan, dan Bos Rizal menerimanya. "Mungkin, Alfie tertarik bekerja di kedai kopi karena menganggap Dripper, Aero Press, French Press, Siphon, V60, serta peralatan Manual Brewing yang lain seperti botol-botol mainannya di laboratorium kimia, hahaha." pikirku dalam hati.


Tak lupa juga Bos Rizal, seorang atasan yang, bagiku, lebih pantas menjadi teman sebaya daripada seorang pemberi gaji. Kepiawaiannya dalam membaca dan memanfaatkan peluang bisnis tidak sepiawai ketika terjun ke dunia percintaan. Yaaahhh, walaupun dia sering menasihati kami bertiga tentang masalah percintaan. Tapi itu kan cuma teori, hehehe. Buktinya, sampai sekarang, dia sendiri masih menjomblo, meskipun pendapatan kedai kopi milik lebih daripada cukup untuk membuat para wanita jatuh hati padanya. ("Semoga dia tidak mendengar ucapanku ini.")


Dan aku sendiri. Sebenarnya, nasibku tidak jauh berbeda dari Bos Rizal dalam masalah percintaan. Cuma kita berbeda status sosial saja. Beliau pengusaha, aku karyawannya. Sejak duduk di bangku SMP sampai sekarang, aku sama sekali belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita pun. Bukan karena aku tidak normal. Aku ini pria normal. Hanya saja, aku kurang begitu beruntung dalam masalah penampilan. Aku biasa kemana-mana naik sepeda fixie. Menurutku, di jaman matre saat ini, tidak ada satu pun wanita yang mau diajak hang out naik sepeda fixie. Bukannya aku tidak mampu membeli sebuah sepeda motor tipe terbaru. Gajiku sebagai barista cukup kok untuk membelinya secara cash. Tapi, ada yang lebih penting dari sekadar membeli sepeda motor. Yaitu, orang tuaku dan adik-adikku. Aku harus membantu mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.


Datang perginya para pelanggan sudah menjadi pemandangan sehari-hari yang kami lihat di antara jam buka tutup kedai. Obrolan mereka setiap mengunjungi kedai bagi kami pun sudah seperti bagian dari irama kehidupan diantara gemerincing biji kopi di dalam toples dan riuh rendah suara grinder. Desing uap air mendidih dari dalam teko sudah menyatu dengan ketulusan kami untuk menyajikan bercangkir-cangkir kopi kepada para pelanggan yang mungkin sudah mencapai ratusan cangkir.


Dari sekian banyak para pelanggan di Kedai Kopi Nusantara, ada salah seorang dari mereka yang membuat aku penasaran. Seorang gadis. Penampilannya sederhana, tanpa sedikit makeup pun di wajahnya. Tapi, entah mengapa, dia mampu membuatku bersikap selayaknya manusia yang sedang jatuh cinta. Tak enak makan, tapi tetap aku paksa, karena aku tidak mau menjadi kurus kering. Juga tak enak tidur, tapi tetap aku paksa untuk tidur, sebab aku tahu bahwa kurang tidur bisa berakibat penuaan dini dan mengurangi kecerdasan. Dan juga, membuatku tak konsentrasi bekerja, yang membuat Bos Rizal selalu mencandaiku (aku tahu di balik itu, dia sedang jengkel dengan kinerjaku) dengan mengatakan: "Cinta itu seperti hutang piutang. Harus segera dibayar lunas. Kalau tidak, hati serta pikiranmu akan menjadi tidak tenang. Minimal hatimu menjadi was-was, kepala pun menjadi pusing memikirkan sang gadis pujaan.". Farid dan Alfie sering tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Bos Rizal tersebut seperti mendapatkan bahan lelucon gratisan. Entah lucu dari segi kalimatnya, atau lucu karena yang mengucapkan lelucon adalah seorang jomblo yang mencoba menasihati jomblo yang lain?


"Sudahlah, lupakan itu semua. Mungkin dia bukan jodohku." pikirku seraya tetap bertanya-tanya siapa gadis itu. Siapa namanya? Dimana alamat rumahnya? Mungkin aku bisa berkenalan dan memulai sebuah cerita cinta sebagaimana manusia normal lainnya.


"How will I know if you really love me? How will I know if you are thinking of me?" Whitney Houston semakin merdu menyanyikan single favoritnya dari sebuah Bluetooth Speaker yang menempel di setiap sudut kedai. Sebelum pertemuanku dengan gadis itu, lagu tersebut terdengar biasa-biasa saja. Namun, sekarang, dia membuatku terbayang-bayang dengan gadis itu. "Why she always creeps in my mind over and over again?" pikirku.


Aku lalu mulai mencoba untuk melupakan dia. Aku pikir tidak ada gunanya terlalu memikirkan seseorang yang tidak kita kenal. Yang hanya sekali kita berjumpa dengannya. Yang tidak kita ketahui baik buruknya. Toh, masih banyak gadis lain yang sering mengunjungi kedai tempatku bekerja. Bahkan mereka sudah menjadi pelanggan setia.


Kawan-kawanku yang lain juga berpendapat demikian. Farid, Alfie, & Bos Rizal juga memiliki pendapat yang sama. Terutama Bos Rizal. Beliau merasa akhir-akhir ini kinerjaku di kedai semakin buruk karena terlalu memikirkan si gadis.


"Baiklah, aku akan mencoba melupakannya." tekadku.


Waktu cepat berlalu. Tak terasa sudah hampir sebulan. Ketika di suatu pagi yang diselimuti mendung dan gerimis, saat kami baru membuka kedai (kedai kami biasa buka pukul enam pagi), gadis itu tiba-tiba muncul di seberang jalan. Kakinya melangkah di atas zebra cross diantara langkah kaki manusia-manusia lain pagi itu yang hendak memulai aktifitas.


"Tampaknya dia akan menuju ke kedai, mau memesan kopi." ucapku dalam hati.


"Akhirnya..." aku tersenyum seperti mendapatkan kesempatan.