Coffee Nation

Coffee Nation
Her Name Is...



Pagi itu hujan gerimis. Warna-warni lampu Kota J masih menyala di bawah pekatnya awan yang semakin menghitam. Dari belakang meja bar, aku melihat gadis itu melangkah menuju ke kedai. Penampilannya kali ini berbeda jauh dengan saat aku melihatnya pertama kali mengunjungi kedai. Hari ini, dia memakai pakaian kerja, lengkap dengan membawa ransel yang mungkin berisi laptop atau berkas-berkas yang penting. Sedikit makeup menempel di wajahnya (tapi jujur saja, aku lebih suka penampilannya yang natural**). Langkahnya cepat, di bawah payung bening yang tampak tidak cukup melindunginya dari rintik-rintik air hujan.


Aku melihat ke sekitar ruangan. Keadaan masih sepi. Farid tampak kelihatan sibuk dengan tugasnya memeriksa stock kopi di dalam coffee canister. Alfie juga sama, belum selesai menata meja dan kursi pelanggan, lalu membersihkannya dengan kemoceng untuk menghilangkan debu yang sedikit menempel. Bos Rizal apalagi, beliau amat sangat sibuk dengan laporan keuangan kedai. Namun entah mengapa, tiba-tiba aku menjadi gugup. Mungkin karena aku belum pernah berkenalan dengan seorang wanita secara langsung. Tapi aku harus memberanikan diri. Ini merupakan kesempatan yang langka, atau bahkan yang terakhir setelah hampir sebulan dia tidak mampir ke kedai. "Aku harus bisa berkenalan dengannya. Aku tidak mau tersiksa dengan rasa penasaranku." aku mencoba menenangkan diriku sendiri.


"Kreeekkk..." suara pintu depan kedai terbuka. Gadis itu melangkah dengan santai menuju ke meja bar setelah menutup payungnya dan menaruhnya di cantelan tepat di samping pintu depan. Dia tidak tahu kalau aku di sini gemetaran, gugup, karena bertemu dengannya.


"Your way to step and rattle the door has already made me feel so nervous sista. I am apprehensive about it at the moment." aku bergumam dalam hati.


"Americano satu kak.." ucap gadis itu sambil menaruh ranselnya di kursi sebelah kiri nya.


"I, iya." jawabku gugup.


Lalu, dia membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah laptop, kemudian mulai mengetik sesuatu. Aku hanya diam seribu bahasa. Tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya meneruskan pekerjaanku menyajikan secangkir Americano pesanannya sambil sesekali melirik ke arahnya. "Your face is so beautiful sista. You are a girl of surpassing beauty." aku memuji dia dalam hati.


Aku khawatir, kegugupanku ini akan berakibat pada rasa kopi racikanku yang aku sajikan dalam kondisi tanpa konsentrasi penuh. Dan ujung-ujungnya, dia sebagai pelanggan akan kecewa, complain, serta nama baik Kedai Kopi Nusantara akan tercoreng.


"Oh, iya lupa. Mau camilan apa sista.." tanyaku.


"Hmmm, Panna Cotta atau Spanish Flan juga boleh kak.." jawab gadis itu.


Di tengah proses penyajian kopi, tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp muncul di layar smartphone milikku. Dari Bos Rizal rupanya.


Beliau mengetik,


"Gadis impianmu akhirnya datang juga tuh. Aku, Farid, sama Alfie memang sengaja ngumpet di belakang supaya ga ganggu kalian berdua. Good luck brother. Godspeed. I wish all the best for you guys."


Aku cuma tersenyum saat membaca pesan itu, seraya sesekali melirik ke arah gadis itu lagi.


Beberapa menit kemudian,


"Ini Americano dan Panna Cotta pesanannya sista.." ucapku ramah sambil menyodorkan secangkir Americano dan sepiring Panna Cotta kepadanya.


"Thanks kak.." balasnya.


"You are welcome sista.." ucapku lagi.


Aku menoleh ke arah kantor. Kulihat Bos Rizal, Farid, dan Alfie sedang mengamati kami berdua seolah-olah seperti menonton film romantis di bioskop. Mereka bertiga dengan kompak memberiku isyarat agar mengajak gadis di hadapanku ini berkenalan. Mereka bertiga tidak tahu kalau aku di sini sedang panik, gugup, gemetaran tidak karuan. Tapi aku harus berani mengajak gadis ini berkenalan.


"Sepertinya aku pernah lihat kamu ke sini sebelumnya. Tapi udah lama. Hampir sebulan yang lalu." aku mencoba memulai obrolan.


"Oh, iya kak.. Dulu aku memang pernah ke sini sebelumnya." jawabnya.


"Eee... Kenalin, na, namaku Theo. I am a barista in this coffee shop." aku mengulurkan tanganku kepadanya.


"Aku Nisrina.." jawabnya sambil mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku.


Oh my God. Gemetaranku semakin menjadi. Rasanya aku ingin pipis di celana. Aku menoleh lagi ke arah kantor, tempat dimana ketiga rekan-rekanku sedang bersembunyi (baca: mengamati kami berdua). Kulihat mereka semua tampak kegirangan. Mereka memberikan isyarat kalau aku ini hebat.


"By the way, your English is so good. Bahasa Inggris kamu bagus juga kak. Kakak dulu belajarnya dimana? Kampung Inggris kah?" tanya Nisrina.


"Just so so. Ah ga.. Biasa saja kok Nis." jawabku merendah seraya mengambil posisi duduk di depan coffee bar.


"Udah berapa lama kak kerja di sini?" tanya Nisrina lagi.


"I have been working here for about four years. Well basically, since this coffee shop is opened for the first time until now. Sekitar empat tahunan Nis. And how about you sista? Where do you work?" aku mulai berani bertanya lebih jauh.


"I am working as an English teacher in an Elementary School. Aku mengajar di SD kak sebagai guru mapel Bahasa Inggris." jawab Nisrina.


"Wow, guru Bahasa Inggris. Kebetulan, aku juga hobi belajar Bahasa Inggris Nis. Ya... sekadar self-educated gitu buat jaga-jaga aja kalau-kalau ada bule ngopi di sini, hehe." aku mulai berani sedikit bercanda.


"Wah, bagus itu kak. Belajar itu bisa kapanpun dan dimanapun. Ga ada batasan. I couldn't agree more with you." jawab Nisrina.


"Ngomong-ngomong, kok kedainya sepi kak? Yang lain pada kemana?" tanya Nisrina penasaran sambil sesekali menikmati secangkir Americano pesanannya.


"Lagi ngintipin kita. Eh. Maksudnya sedang sibuk di belakang." jawabku keceplosan. "Untung saja Nisrina tidak curiga."


Di sela-sela obrolan kami, terdengar Alexandra Porat sedang meng-cover lagu You Are The Reason dengan merdunya melalui speaker aktif.


There goes my heart beating


'Cause you are the reason


I'm losing my sleep


Please come back now


There goes my mind racing


And you are the reason


I'm hopeless now


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason


There goes my hands shaking


And you are the reason


My heart keeps bleeding


I need you now, oh


If I could turn back the clock


I'd make sure the light defeated the dark


I'd spend every hour, of every day oh


Keeping you safe


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason


I don't wanna fight no more


I don't wanna hide no more (you are)


I don't wanna to cry no more come back, I need you to hold me (that you are the reason)


A little closer now, just a little closer now


Come a little closer, I need you to hold me tonight


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


'Cause I need you to see


That you are the reason


Lirik-lirik lagu tersebut semakin membuat kami berdua hanyut dalam obrolan santai. Tak lama berselang, Nisrina melihat ke arah smartwatch-nya.


"Oh, udah pukul setengah tujuh nih kak. Aku harus mengajar ke sekolah." kata Nisrina sambil buru-buru mengemasi laptopnya ke dalam ransel. "Jadi berapa kak?"


"Rp 20.000,00 Nis." jawabku singkat.


"Ini kak.." Nisrina menyodorkan selembar uang pas.


"Terima kasih Nis.. Kapan-kapan mampir lagi ya.. Kami senang memiliki sahabat pelanggan seperti Anda.." kataku dengan agak berbau marketing.


Nisrina tersenyum.


Nisrina pun berdiri dari tempat duduknya di depan coffee bar. Dia melangkah, mengambil payungnya, lalu keluar dari kedai. Aku hanya bisa berdiri melongo, melihatnya membuka payung, kemudian naik ojek online yang telah dipesannya dibawah rintik-rintik hujan gerimis pagi ini. Kulihat dirinya semakin jauh dan lenyap dibawa bapak-bapak ojek online diantara lalu lalang manusia dan kendaraan di jalan pagi itu. Di saat itulah aku baru menyadari sesuatu. Aku lupa meminta kontak WhatsApp-nya. "Sial!"