Can I Survive In This Earth

Can I Survive In This Earth
Bab 5 Kota Pertama Di Dunia Baru



Reygas memberikan ku sebuah jubah coklat, dia berkata. "Kalo ketauan lu manusia bisa repot, pake nih" Setelah itu Reygas duluan masuk ke kota dengan Rega.


Aku terpaksa mengubur baju Astronot ku di hutan, dan mulai memasuki kota, terlihat kota tersebut sangat unik banyak dagangan dan barang-barang aneh yang tidak pernah ku lihat. Tujuan ku sekarang aku harus bertahan hidup di sini, dan mendapat informasi tentang dunia ini.


Aku berjalan di kota yang sangat ramai, dikelilingi oleh banyak orang-orang dengan fisik aneh, seperti ada tanduk di kepala mereka, sisik di pipi mereka, ekor dan juga beberapa orang seperti Reygas, yaitu dwart.


Aku mencari informasi dengan memerhatikan sekitar, mendengarkan pembicaraan mereka, melihat perilaku mereka dan perlahan bergaul dimulai dari pedagang. Aku bertanya beberapa barang disini, ya jujur barang yang dijual keliatan aneh banget, cairan semacam getah, daging cacing, bubuk-bubuk aneh.


Aku sempat berpikir untuk mulai bertransaksi, aku mengeluarkan beberapa tanaman cahaya dari tas ku, lalu beberapa daging dan mulai menawarkannya. Sang pedagang itu melihat barang-barang ku, juga sempat melirik wajah ku. Dia mengangguk dan mengambil tanaman cahaya ku setelah itu ia mempersilahkan ku mengambil barang yang ia jual.


Yang aku ambil adalah sekantung bubuk bercahaya berwarna hijau, setelah itu aku mulai berjalan menuju pusat kota. semakin dalam aku menuju tengah kota, semakin besar akar pohon yang ku lihat ini. Aku sedikit takut juga karena sepanjang jalan aku melihat makhluk besar, gendut dan tertutup kain besi di kepalanya, yang lebih parah seseorang seperti perempuan, dia bertopeng tudung hitam mengendarainya di atasnya.


Lamanya berjalan melihat sekeliling, yang aku dapatkan di tengah kota hanyalah keramaian para monster. Saat berjalan aku melihat anak kecil ia memiliki telinga tupai, ia menangis, aku pun menghampirinya, dan bertanya keadaannya, ia pun menjawab dia berjalan bersama ayahnya sebelumnya. Karena keramaian ini ia pun terpisah dengan ayahnya.


Aku pun menenangkannya dan mengandeng tangannya, dan mulai berjalan untuk mencari ayahnya. Baru sekian menit berjalan aku melihat makhluk raksasa yang di kendarai wanita bertopeng itu menghampiri ku. Dan wanita itu berkata.


"Anak itu, siapa kamu, buka jubah mu!" ucap wanita yang menaiki raksasa itu.


"Anak ini tersesat di keramaian dan ingin bertemu dengan ayahnya"Jawab ku kepada wanita itu dengan menahan rasa takut.


"Owalah, anak itu Sophia dia sedang kita cari untuk bertemu dengan ayahnya. Lihat ayahnya berada di punggung raksasa lain" Kata perempuan itu sambil menunjuk dengan tangannya ke raksasa lain.


Aku memerhatikan sedikit dan benar kupingnya sama dengan anak ini. Aku pun menyerahkan kepada wanita itu, wanita itu dan anak itu berterimakasih kepada ku dengan menundukkan kepalanya.


Menundukkan kepala itu benar-benar seolah-olah menghormati banget, di indonesia gak ada kek gitu yang ada jepang. Raksasa itu mengendus seperti mencium bau tetapi wanita itu pun menaikinya, dan mulai pergi.


Waduh dia curiga gw bau manusia jangan-jangan, ucap hatiku dengan resah. Aku mulai berpikir untuk mencari perpustakaan untuk mendapat informasi. Aku takut untuk bertanya, kalau ada ras yang penciumannya bagus aku bisa ketahuan dan juga jubah ini mungkin yang memiliki bau monster, jadi aku terlindungi dengan ini.


Aku pun terbangun pada pagi hari, dengan langit hitam yang perlahan mulai ke biru, aku melihat matahari terbit dan sepinya kota itu saat pagi hari. Untung saja tidak terjadi apa-apa pada malam itu, aku pun keluar dari celah atau akar ini dan melihat kota pada pagi hari. cahaya kota tidak terlalu terang karena banyak akar besar menutupinya, pada hari ini aku bertekad untuk berani bertanya kepada seseorang.


Aku bertanya kepada seorang pedagang tentang perpustakaan, dia pun terdiam sejenak dan menggelengkan kepalanya. Aku memperjelas maksud ku dengan menunjukan sebuah buku, lalu mengisyaratkan dengan tangan ku, tempat buku-buku ini berada, Ia pun berjalan ke tengah jalan dan menunjuk ke arah akar yang lumayan besar di kota tersebut.


Lalu aku lanjutkan berjalan ke tempat tersebut, aku tidak akan kebingungan bila ada tulisan di suatu tempat untuk menandakan tempat tersebut apa, seperti perpustakaan atau toko makanan. Mereka menunjukannya langsung dagangan mereka maka dari itu aku sedikit bingung mencari-carinya.


Aku pun sempat berdesakan dan melihat dagangan aneh lagi, tetapi tidak terasa aku sudah sampai di tempatnya, dan benar aku memasuki pohon berakar ini, banyak sekali buku-buku di tumpuk berantakan. Mereka tidak lemari ataupun bangunan manusia tetapi unik sekali tempat ini, setiap bukunya di susun menumpuk hingga tinggi. Aku pun mulai membuka satu per satu dan isi buku tersebut aneh semua.


Buku berisi cerita perjalanan seseorang kebanyakan, tetapi walau bukan buku ini yang ku cari aku tetap membaca dengan cepat pada hari itu. Banyak sekali anak-anak yang kerja di tempat ini, setelah sekitar 10 menit aku membuka-buka buku dan membacanya, ada seorang anak menghampiri ku, ia memiliki kulit sangat merah, ia hanya melihat ku dengan senyumnya sambil berdiri.


"umm ada buku.. tentang barang-barang ini enggak?" aku menunjukan bubuk cahaya yang ku dapat dengan tanyaku kepada anak kecil itu. Dan ya respon dia, dia pergi.


Pikiran ku positif aja, mungkin dia mau mengambil bukunya, Dan ya sudah lama sekali aku menunggu sekaligus membaca banyak buku. Aku masuk lebih dalam ke tempat itu tanpa sadar saat mencari buku-buku yang berguna. Dari kejauhan aku melihat gadis kecil itu sedang membuka-buka buku, jangan-jangan dia beneran nyari bukunya.


Aku menghampirinya dan berkata, "Udh ketemu bukunya, makasih banyak yah.." Kata ku dengan tersenyum.


"Maaf kak, tadi aku niatnya mau langsung ngasih buku yang cocok yang kakak tanya, temen-temen ku hebat mereka bisa melayani pembaca.. dan.. nemenin bareng.." Jawab anak kecil dengan nada lembut dan sedikit menundukkan kepalanya.


Loh bisa ngomong toh, hatiku berucap seperti itu dan aku menjawab "Ah iya gapapa, mau nemenin kakak aja boleh sini kita bisa baca bareng kalo mau, kakak bacain"


"umm.. boleh kak.." jawab anak kecil itu dengan sedikit sungkan.


Saat aku membaca bersama anak kecil itu, duduk di akar, orang-orang berkata ada seseorang melayang dan benar saat aku memandang mata kearah luar ada seseorang terbang.