Can I Survive In This Earth

Can I Survive In This Earth
Bab 3 Mulai Beradaptasi



Keesokan harinya, entah bagaimana semalam aku memaksa diriku untuk tidur, dan menyadari ada nyamuk sebesar kacang, untung saja aku berada di dalam baju Astronot ku yang lumayan tebal.


Pada pagi hari yang cerah ini aku sangat ingin mencuci mukaku ataupun mandi, tetapi apa daya aku belum menemukan sumber air disekitar sini. Aku memutuskan untuk mulai membuat api kembali, lalu membuat asap, tetapi jaraknya dari tempatku agak jauh. Setelah itu aku mulai mengumpulkan jamur dan membakarnya.


Ada bekal Astronot di tas ku, tetapi aku ingin menggunakannya nanti saat mulai berkelana, setelah jamurnya matang, aku memakannya, lalu aku membuat beberapa peralatan dari kayu dan batu. Disini aku tidak mempunyai pisau, ya Astronot mana yang bawa pisau di tasnya, kecuali di tempat peralatan memang ada, sayangnya tidak terbawa olehku.


Pisau batu ku buat dengan memukul batu dengan batu hingga lancip dan runcing. setelah itu aku mulai membuat tombak dari ranting, tupai yang ku lihat kemarin, aku ingin menangkapnya, sekalian mencari sumber air.


Aku berjalan sekitar 30 menit, melihat banyak serangga unik, tanaman unik, dan hari yang ku rencanakan tidak berjalan dengan baik. Aku dikejar oleh burung dara, aku berlari sampai masuk ke akar pohon untuk bersembunyi. Tidak sampai situ, ia mengetahui dimana aku bersembunyi, saat dia sedikit masuk ke dalam akar, aku menusuknya dengan tombak, lalu kakinya dan berhasil mengalahkannya.


Aku senang, karena akan memakan daging burung ini, untung saja aku membawa plastik jadi aku mengambil daging burung ini sebisa ku dan lanjut mencari sumber air. Usaha ku tidak sia-sia, aku selalu mencium tanaman yang terlihat aman untuk di konsumsi dan benar aku mendapatkannya. Ada beberapa tanaman yang mungkin berpotensi untuk menjadi obat.


Setelah berjalan selama 1 jam banyak sekali hal unik, sekaligus menakutkan untuk hidupku. Aku menemukan singa yang kemarin dengan bulu elang disela-sela bulunya, cakar, dan matanya berwarna emas bercahaya. Setelah itu semakin aku berjalan aku menemukan Ular dengan permata di kepalanya.


Tidak selesai sampai situ bahkan ada tanaman, akar, yang terlihat bercahaya. Aku mengambil beberapa, dan lanjut tujuanku sekarang menemukan sumber air. Akhirnya setelah 2 jam aku menemukan sumber air.


Aku melihat sekitar dan memeriksa sungainya, terlihat aman, tidak ada hewan berbahaya juga, aku memutuskan langsung mandi dan membawa air dengan kantung plastik ku. tidak lupa aku membersihkan daging, tanaman, dan beberapa alatku.


ini adalah penemuan yang sangat penting untuk mengubah metode bertahan hidupku. Aku fokus kembali, walau sebenarnya aku ingin memikirkan keunikan dunia ini, perlahan aku berjalan, terlihat segerombol manusia, ternyata itu bukan manusia, untung saja aku tidak memanggilnya, aku perlahan kembali untuk ke tempat awalku.


Hatiku mulai memikirkan segalanya, sembari membakar daging, langit mulai berwarna orange, menunjukan waktu sore. bahaya ini, gw gak bisa terus disini hewannya pada gak jelas, belom lagi gerombolan monster warnanya hijau, keknya itu yang disebut goblin. Pikiranku mulai gelisah.


Hati dan pikiran ku yang gelisah mulai tenang, saat memakan daging, tenang itu membawaku ke suatu keputusan 3 hari atau 1 minggu aku akan memulai perjalanan. Sebelum itu aku harus mempersiapkan diri membuat senjata, tas, atau hal lainnya. Setelah makan aku memutuskan untuk tidur.


Sudah mulai hari ke-3 aku berada disini, pagi hari aku mulai membakar daging kemarin, dan minum secukupnya, setelah itu olahraga, push up, lari ditempat, setelah itu aku istirahat sebentar. sembari istirahat aku mulai membuat tombak baru menggunakan akar bercahaya biru ini, tebal dan kokoh sekali akar ini.


Lalu aku memutuskan berjalan menuju sungai, sekalian berburu hewan, aku melihat tupai aku langsung dengan cepat melempar batu, tepat sasaran di kepalanya, setelah itu aku menusuknya, kulit, tulang, daging akan sangat berguna untuk aku gunakan nanti. Sampainya aku di sungai aku mandi dan membersihkan semuanya.


setelah mengisi air dan segala keperluan di sungai telah selesai, aku langsung jalan untuk kembali. Tetapi saat berjalan aku melihat burung yang kemarin aku kalahkan, tinggal tulangnya saja, ada banyak semut besar di sana. Akan menyeramkan bila aku di serang mereka, sayangnya benar aku dilihat mereka, kupikir semut tidak mempunyai mata, tetapi di dunia ini mereka memilikinya.


Aku dikejar mereka dan aku berlari, dengan pikiran cepat ku, aku berlari ke arah sungai, lalu segera melompat ke sungai itu. Aku menunggu hingga semut itu pergi, hari perlahan mulai sore, dikala sore aku berjalan perlahan, karena banyak sekali burung terbang bergelombang di atas. Diriku mengetahui insting hewan disini sangat peka aku harus hati-hati, malam pun tiba, kegelapan dan dingin ini membuatku sulit untuk berjalan.


Belum sampai tempat awalku aku sudah di sambut hewan malam, kelelawar besar, serangga, dan hewan buas lainnya. Aku berjalan memutar setiap bertemu mereka, setelah melewati hutan gelap itu secara perlahan, dengan hati ketakutan akhirnya aku sampai.


Aku membakar api yang padam karena ku tinggal, lalu aku membakar daging tupai yang ku dapat tadi. Sayangnya itu memancing beberapa hewan buas, aku langsung masuk kedalam baju Astronot, dan berusaha tidak membuat suara apapun. Langkah kaki dan dengkuran itu seperti beruang, di saat yang itu juga aku mendengar suara panah menancap dan beruang itu mengaum, hentakannya kakinya saat lari mulai tidak terdengar.


Semua porak poranda, berantakan, aku mulai merapihkan sebisa ku, tanaman yang menyala kemarin aku masukan ke kantung minum ku, tentu sudah ku bersihkan saat di sungai. aku lewati hari dengan hanya minum, lalu bersiap tidur untuk hari esok.


Dipagi hari Ke-4, aku lapar jadi aku segera membakar daging kemarin, ada cahaya membuat ku merasa aman. Seperti biasa setelah makan, aku olahraga berat dan hari ini persediaan daging semuanya ku bakar. Air sudah cukup untuk ku bawa, tujuan ku adalah berkelana sekarang, untuk menemukan pemukiman.


Sebelum berangkat aku membuat pisau dari tulang tupai yang ku dapat, lalu setelah itu aku mulai perjalanan, banyak rintangan tetapi setelah 2 jam berjalan. Aku melihat sosok manusia, aku pastikan ternyata benar 2 orang memiliki janggut putih tebal, aku memanggilnya, Harapan hidup akhirnya datang setelah sekian lama.