Can I Survive In This Earth

Can I Survive In This Earth
Bab 2 Keputusasaan Dan Harapan



Aku hanya bisa memejamkan mataku saat Roket terhisap oleh lubang hitam, hanya besi pegangan yang ku genggam dengan erat agar tubuhku bertahan. Aku pasrah pada situasi menyeramkan ini, hatiku hanya bisa berdoa berharap aku selamat dari kejadian ini.


Setelah lubang hitam atau Black Hole itu menghisap, kita pun dikeluarkan entah dimana, yang pasti ini di angkasa, belum selesai sampai situ banyak sekali bebatuan asteroid yang melintas. Aku membuka mata ku dan melihat 1 Astronot tertabrak bebatuan itu lalu terbawa jauh.


Tidak selesai sampai situ, kita memutuskan untuk bersama saling mengikat, agar melayang bersama. Sisa 3 orang disini, disaat teman Astronot ku ingin meraih tangan Astronot lain, Batu asteroid seketika menabrak ku dan aku terbawa, Dan lagi kali ini muncul 2 Lubang Hitam posisinya kiri dan kanan saling menghisap. aku hanya bisa menangis melihat teman-teman ku terhisap, begitupun diriku sendiri.


Aku memejamkan mata, tidak ada yang bisa kulakukan meratapi nasib ku, aku mengira aku akan mati, tetapi takdir berkata lain. Aku dikeluarkan oleh lubang hitam, aku terkejut melihat itu planet bumi. Aku pun segera mencoba mencari alat komunikasi darurat di baju Astronot ku, ternyata ada, kucoba menghubungi tetapi mengapa tidak bisa, Dengan panik aku mencobanya terus, dan tidak ada hasil.


Tubuhku perlahan tertarik kedalam planet tersebut entah bagaimana, aku segera meraih bagian roket yang terbawa bersama ku untuk genggaman. perlahan dan semakin lama kencang tarikan tersebut membuatku jatuh seperti meteor, aku segera meraih parasut di tas ku sebelum terbakar, lalu melepaskan diri dan terjun bebas.


Aku panik pada awalnya tidak menyadari apapun terhadap planet ini, aku terjun hingga ketinggian yang pasti untuk mengeluarkan parasut. Saat sudah mulai terlihat daratan, aku melihat pohon cemara, segeralah aku melepas parasut tetapi, mengapa pohon ini sangat besar saat terjun aku mengira ini kecil, aku berhalusinasi ku pikir.


Mulailah aku terjun perlahan sampai daratan, pohon cemara sangat tebal dan besar di sekelilingku, Ini asli, aku pun mulai menyentuh daratan. Tanah coklat ini, jamur, akar besar, pohon cemara tebal ini, bukan bumi yang kukenal.


Aku terjatuh, dengan napas yang berat, banyak sekali di pikiran ku. Oh iya saat aku terjun aku juga tidak melihat pemukiman, semuanya janggal, dimana ini, terus gimana teman Astronot ku lainnya, Black Hole, batu Asteroid, Tenang munasa, ya gw harus tenang situasi apapun gw udh belajar, hatiku mulai menenangkan ku.


Aku menarik napas dan mengeluarkannya perlahan sambil duduk silang, perlahan aku membuka pakaian Astronot ku dan helm yang sedikit pecah. Prioritas pertama gw harus bisa balik ke bumi, pertama harus hubungin dulu, aku menggunakan kembali alat komunikasi tapi tak kunjung ada hasil, dan menyadari tidak ada satelit pastinya disini.


Prioritas sekarang berarti bertahan hidup, tetapi tetep prioritas utama gw harus bisa balik ke bumi, kata hatiku. Pertama yang pasti meminta pertolongan, aku mulai mengumpulkan ranting dan dedaunan kering, setelah itu aku mulai membakarnya. Setelah sudah mulai besar apinya, aku tutup dengan ranting besar, ranting yang besar mulai membesarkan apinya, aku pun menutupinya dengan daun hijau agar memunculkan asap yang banyak.


Dan benar jamur coklat aman, untuk jamur merah dan kuning mereka membuat kulitku sedikit keram. dan segera aku menusuk jamur coklat dengan ranting dan membakarnya, selagi menunggu aku memutuskan jalan lurus untuk mencari sumber air. sejauh mata memandang aku tidak menemukan air, tetapi aku melihat tupai, dia besar, besar banget. Artinya penghuni hutan ini semuanya besar dong begitulah kesimpulan ku.


Aku kembali ke tempat awalku dan mencoba memakan beberapa jamur, ada beberapa perbekalan di tas Astronot ku tetapi itu tidak akan cukup. Aku memikirkan bila tupai itu saja besar bagaimana dengan hewan lainnya. Besar tupai tadi sebesar anak beruang baru lahir, itu tidak bisa dikatakan normal.


Setelah memakan beberapa jamur, aku lanjut berjalan lurus ke arah yang berbeda, untuk menemukan sumber air, aku melihat kumbang merah sebesar telapak tangan orang dewasa, aku juga mendengar suara burung dan singa, aku menghampiri dan melihat besar mereka 2 kali lebih besar dari manusia dewasa. mereka sedang bertarung, yang jelas aku meninggalkan mereka.


Saat berjalan kembali, aku melihat jelas cakar mereka berwarna emas seperti ada keunikan sendiri. dan rupanya asapku memancing beruang besar, aku bersembunyi hingga beruang itu pergi, aku kembali ke tempat perkemahan ku. Hari pasti akan gelap aku melihat sekitar dan ada akar pohon yang terbuka. Aku pastikan tidak ada serangga, dan aku mulai menaruh pakaian Astronot ku disitu, aku akan tidur di dalamnya nanti.


Aku juga menarik beberapa rumput, bila ada kentang atau umbi lainnya aku akan sangat beruntung. Sebisa mungkin hari pertama aku harus menemukan sumber air, makanan, dan informasi tentang hutan ini.


Hari mulai gelap, aku harus bersyukur karena sudah berusaha sekeras mungkin, aku masuk kedalam baju Astronot ku, menatap malam sebentar dan memikirkan segala rencana untuk esok hari.


Sumber air akan ku cari perlahan, sembari melihat sekitar, hewan disini lebih besar dari ukuran normal dan memiliki keunikan ditubuh mereka. Malam ini rasanya dingin sekali, begitu pula banyak suara-suara burung dan serangga.


Saat ingin memejamkan mata, aku melihat kunang-kunang, itu akan menjadi pencahayaan malam yang bagus untuk tidur ku. perlahan suara mulai redup dan aku segera tidur.