
"Halooo, oiii disini, disiniiii ya disiniii"Panggil ku ke seseorang yang kulihat sambil melambaikan kedua tangan.
Mereka menengok ke arah ku, aku segera menghampirinya, mereka berdua langsung mengarahkan senjata mereka kepadaku. Mereka melihatku dengan tatapan kebencian entah mengapa, aku pun langsung terdiam sejenak, lalu aku menjatuhkan tombak ku, untuk membuktikan maksud tidak ada perlawanan.
"Picasoka?" Ucap pria berjanggut putih itu kepada temannya.
Oh iya dodol banget gw, setiap daerah atau wilayah apalagi ini dunia lain pasti punya bahasa sendiri. Mereka terus berbincang seolah seolah aku tidak ada, dari nada mereka yang lumayan naik, aku mengetahui perasaan mereka, sepertinya mereka sedang bertengkar.
Pria berjanggut ini lumayan pendek, aku bersyukur karena dia tidak besar seperti hewan, tumbuhan di sekitar sini. Otot mereka lumayan besar, janggut putih tebal, baju rompi coklat dan memiliki tas besar seperti tas pendaki gunung. Aku menunggu sampai mereka selesai berbicara.
Mereka tidak memberi ku jeda untuk berbicara, aku mencoba berbicara "Halo, aku, butuh, bantuan kalian" Setiap katanya aku hiasi dengan bahasa isyarat dengan tangan ku. Sayangnya mereka tetap tidak mengerti.
Aku harus belajar bahasa mereka, itu paling utama dipikiran ku, aku pun mengambil tombak ku dan membuat pola huruf A B C di tanah, Lalu membacanya. Aku bermaksud untuk mengetahui huruf tulisan mereka.
Awalnya mereka tidak mengerti mengapa aku menulis pola aneh di tanah, ya mungkin pikiran mereka seperti itu. Tetapi mereka akhirnya menulis juga pola mereka di tanah, lalu mereka membaca dan perlahan menjelaskan. Oh ya huruf tulisan mereka aneh banget kaya aksara rumit.
Dengan lelahnya aku membuat mereka mengerti apa yang ku maksud, aku ingin ikut kalian ke pemukiman atau desa, itu perkataan yang ku maksud untuk mereka. Setelah mereka mengerti, sepanjang jalan mereka berbincang, posisiku di belakang mereka bedua yang sedang berjalan.
Kami bertemu hewan besar, mereka langsung menghabisinya, senjata mereka kapak besi besar. Aku sangat bersyukur, pada malam hari mereka memberi ku kode untuk selalu berlari, aku nurut, benar-benar pengalaman mengerikan yang pernah ku dapatkan.
Mereka tau bahwa hewan buas memiliki tubuh yang besar, karena Pria berjanggut ini merasa dia lebih kecil, aku pun juga, ini ukuran normal di bumi loh ya. Mereka memanfaatkan itu dengan berlari melewati akar dan pepohonan. Akhirnya saat mereka mulai lelah, mereka menaruh obor mereka dan menunjuk kearah pohon berakar besar. Kita pun beristirahat di akar pohon itu.
Aku mengeluarkan daging dari tas ku, lalu aku menusukan daging dengan ranting, setelah itu membakarnya. Mereka memakan daging matang yang di bungkus oleh dedaunan, aku berpikir Ilmu baru nih, Setelah itu aku menulis huruf di tanah seperti yang mereka ajarkan pada saat bertemu di awal. Salah satu dari mereka pun mengeluarkan buku, aku sangat gembira dan mulai mempelajarinya.
Sulit untuk mengerti tanpa bantuan mereka, tetapi perlahan dan perlahan aku belajar, dan membuahkan hasil pada malam itu. Mereka berdua terlihat lelah lalu mereka menguap mengisyaratkan bahwa mereka ingin tidur. Selagi mereka tertidur, aku belajar hingga tertidur dalam belajar ku.
Paginya mereka membangunkan ku, aku terbangun dengan buku dipelukan ku. Aku pun mencuci muka ku dengan air yang ku bawa. salah satu dari mereka memantau sekitar, dan berbicara, aku mengerti mereka akan mulai perjalanan kembali.
Aku dan mereka terus berkelana, melewati hutan ini bersama, mengalahkan musuh bersama, dan makan bersama, hingga sekitar 3 hari kita melewati segalanya bersama. Aku pun sering mempelajari buku yang mereka berikan, akhirnya bisa mengerti dengan jelas pembicaraan mereka. Aku dengan senang dan memulai pembicaraan.
"Tujuan kita sebenernya kemana? oh ya nama kalian siapa sih?" Tanyaku kepada mereka dengan sedikit terbata oleh bahasa mereka.
"Kita ras Dwarf, aku Reygas dan dia Rega, elu manusia dari mana?" tanyanya dengan serius.
Aku pun menjawab semua kejadian yang ku alami kepada mereka, Rega entah mengapa tidak terlihat senang kepada ku dari kemarin.
"Rega, jaga mulut" Bentak Reygas kepada Rega.
"Sekali lagi, lu udah denger cerita dia, pakaian, alat, terus dia baru ngerti bahasa kita. Gak usah naro kebencian yang gak ada kaitannya" Ucap Reygas kepada Rega.
"Manusia tetep manusia, mau dari mana asalnya pun" Ucap Rega.
"Gak usah di denger ya omongannya, maaf sebelumnya namamu siapa anak muda?" Tanya Reygas kepada ku.
"Aku Munasa, sebenernya ada apa sama manusia? boleh aku dengar cerita kalian?" Tanya ku kepada mereka berdua.
"Manusia dahulu baik kepada kita, tetapi seiring waktu tidak ada angin atau ombak, mereka di butakan oleh sumber alam dan kekuasaan" Ucap Reygas.
"Nafsu dan egoisnya kalian, manusia!! kalian gak peduli entah apa yang kalian inginkan" Ucap Rega dengan marah.
"Dia gak ada hubungannya Rega!!" Ucap Reygas sambil melirik tajam Rega.
"Aku minta maaf, sekaligus untuk manusia lainnya" Ucapku dengan lembut. "Aku yakin masih ada manusia yang baik diluar sana" Lanjut ku dengan nada meyakinkan mereka.
"Gw gak butuh kata-kata manis, maaf kek begitu. Intinya bantuan kita gak gratis, dan perjanjian sampai kota" Ucap Rega.
"Mending cepet tidur, untuk besok" Ucap Reygas
Setelah itu aku menjawab dengan anggukan kepala, mereka tertidur dan aku sedikit memikirkan hal tadi, tetapi aku kesampingkan hal itu karena aku mencium bau seperti belerang, Ternyata benar ada di sekitar bebatuan dekat akar pohon. Belerang ini bisa digunakan untuk bahan peledak, aku mengambil dan menaruh di kantung ku.
Kurang satu bahan lagi sebenarnya untuk membuat bubuk mesiu, banyak sumber daya unik disini, aku mendapat banyak hal saat perjalanan. Ya bubuk hijau yang saat ku sentuh mengeluarkan asap ini sangat unik, bila ku campur dengan belerang, otomatis asap banyak, belerang mudah terbakar artinya senjata yang unik.
Saat aku sedikit terluka aku menggunakan tumbuhan daun menyala yang ku dapatkan, dan dia menyembuhkan ku dalam sekejap. Banyak sekali ilmu yang ku dapatkan, setelah itu aku tidur.
Aku bangun lebih awal dari mereka dan mulai berolahraga di tempat, setelah itu sarapan seperti biasa. Mereka pun akhirnya terbangun dan mulai bersiap untuk perjalanan, kata mereka sebentar lagi kita sampai. Dan benar setelah sekitar pagi sampai siang berjalan kita tiba di suatu pemukiman.
Pohon yang sangat besar dari lainnya dan di bawahnya ada akar dengan rumah-rumah di bawahnya. Aku sangat senang ini mungkin satu langkah untuk mengetahui Bumi baru ini dan ilmu pengetahuannya.