Can I Kill You?

Can I Kill You?
Bab 22 - Tidak Yakin



"Apa yang membuatmu yakin?"


Ada sudut miring yang menghampiri separuh bibirnya, menganggapku seolah aku adalah manusia paling tidak peka sedunia. Alisku terangkat, pertanyaanku belum terjawab. "Jadi?"


Helaan napas keluar dari mulutnya. "Sudahlah, kita coba dulu."


"Jadi kau sendiri belum tahu," tukasku. Seutas pertanyaan kembali mengambang di dalam kepalaku. "Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku tidak berhasil menyembuhkannya?"


Kali ini Elfa angkat bicara. "Tentu saja kami akan mengembalikanmu. Utuh."


Persyaratan yang terlalu janggal. Di satu sisi, aku tidak perlu takut untuk dihabisi nyawanya, tapi di lain sisi, aku, tentunya menginginkan sebuah pertanggungjawaban. "Setelah semua yang kalian lakukan? Kalian membawaku, yang seorang calon ratu kemari, dan berharap bisa membawaku kembali tanpa masalah?"


Mereka berpandangan satu sama lain. Belum siap untuk menjawab pertanyaan ini layaknya anak yang tidak menyiapkan materi jawaban di hari pertama sekolahnya. Aku penasaran kenapa mereka tidak memperlakukanku dengan kasar lagi. "Dan juga, kenapa kalian tidak menggunakan sihir kalian sebelumnya lagi?"


Charlie mengangkat bahunya, tampaknya sudah lelah dengan tanya jawab ini. "Yah, Setidaknya kau masih manusia," ujarnya enteng, tidak menjawab sebagian pertanyaanku. Pernyataan itu mengambang, tapi aku mengerti maksudnya. Vampir memang tidak pernah menganggap manusia sebagai eksistensi yang penting. Setengah perasaanku jadi selembek bubur.


Sialan. Jawaban itu pendek, tapi menusukku dalam rentang waktu yang agak panjang hingga mampu membuatku terbungkam. Aku jadi sedikit berharap jika aku tidak dilahirkan sebagai manusia, apalagi perempuan. Dengan begitu, aku pasti bisa mengalahkan mereka dengan mudah.


Percakapan yang kukira sudah berakhir itu ternyata berlanjut setelah seurai rambut kecoklatan datang dari arah pintu. Aku menoleh dan mendapati wajahnya yang putih kemerahan, tak terbiasa dibakar matahari, berbeda dengan ketiga pria di depanku. Ia pun segera menyunggingkan senyum keheranan setelah mata kami bertemu. "Hai, semua? Boleh aku tahu siapa perempuan ini?"


Brooke bangkit dari kursinya. "Harusnya aku yang tanya, kenapa kau ada di sini, Kairin?"


Kairin menggaruk kepalanya dengan canggung. Senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya. "Yah, sebenarnya aku sudah hampir mati kebosanan pergi bersama orang-orang yang protes kehilangan tempat tinggal," katanya dengan nada ceria. Barangkali matanya yang berwarna biru cerah selalu membuat hidupnya penuh kebahagiaan. "Jadi, apa saja yang telah kulewatkan?"


Charlie menggeram. "Kau tahu apa akibatnya datang ke sini begitu saja, bukan?"


"Tentu saja. Tapi, lihatlah! Aku benar-benar sehat walau sudah lama berada di sini! Mungkin saja aku memang memiliki kekebalan untuk kutukan itu seperti kalian!"


Aku mulai protes karena merasa kehilangan arah pembicaraan. "Tunggu dulu." Benar saja. Kenapa aku tidak bertanya kemarin-kemarin. "Kalian bilang perempuan ini karena kutukan itu... Itu artinya kalian tahu aku juga akan terkena akibatnya!"


"Tidak. Kutukan ini tidak akan mempan pada manusia." Kali ini Kairin yang menjawab. Tangannya melepas dinding pintu dan melangkah mendekat padaku sambil memegang pundakku dengan sebelah tangannya. "Kau akan baik-baik saja kalau kau menurut, oke?"


Aku menyingkirkan tangannya dari bahuku secepat mungkin. Dasar sok akrab. "Kau berharap aku akan menjawab, 'Baik, aku mengerti', begitu?" Timpalku sudah berada di ujung kemarahan, tapi sihir mereka tidak diaktifkan juga. Perasaanku berkutak-atik dalam perasaan takut. Apa memang sebaiknya aku diam dan menurut saja? Bisa saja mereka memiliki sihir aneh yang lebih merugikan...


Tidak. Aku harus berani. Aku harus melakukan ini.


"Tenanglah, oke? Baru pertama kali ini aku bertemu manusia yang suka emosi," ujarnya setengah panik. Aku sama sekali tidak mengerti tindakan mereka yang mendadak halus ini. "Baiklah. Kami akan mengembalikanmu sambil bersujud, bagaimana?"


"Makanya, kalian itu ke—" Cukup. Oke. Aku menghentikan ucapanku seketika setelah mengetahui dari mereka semua tidak ada yang mengelak maupun tertawa.


"Terserah kalian. Yang penting, aku harus kembali nanti malam," ucapku begitu saja walau kutahu aku hanyalah korban dari peristiwa ini.


Dan mereka masih tetap terdiam hingga akhirnya kami sampai ke gua yang dimaksud.


...****************...


"Kalian semua vampir?"


Pertanyaan itu begitu konyol, tapi tidak lagi setelah aku melihat rambut putih Crystal yang terurai seperti salju putih bersih. Namun, jika memang mereka adalah vampir, kenapa harus pergi ke tempat ini?


"Kurang tepat juga jika kau menyebut kami vampir," komentar Kairin sambil mengedipkan matanya beberapa kali. "Yah, kami akan mengatakannya kalau kau berhasil menyembuhkan kak Crystal."


Mata birunya semakin redup. Benci kuakui ini, tapi aku benar-benar tidak bisa menyembuhkan seseorang dengan kekuatan sihir atau mukjizat. Dan lebih tepatnya lagi, aku tidak mempunyai daya sihir seperti makhluk lain. Bagaimana aku bisa menyembuhkan seseorang yang sudah sekarat untuk waktu yang begitu lama?


Tanpa perintah, aku mendekat pada Crystal yang masih memejamkan mata, cantik seperti boneka tidur. Tangannya yang disilangkan di atas tubuhnya tampak sangat rapuh, tidak memungkinkan tubuhnya akan patah begitu aku mengangkatnya.


"Apa kau bisa melakukannya?" tanya Elfa sekali lagi, jujur saja membuatku muak.


Dengan hati-hati dan perasaan takut super, aku menyentuh lengannya yang ternyata super halus, tapi sedingin es. Keringat melewati pipiku begitu saja. "Entahlah. Bagaimana jika aku bilang tidak?"


"Baiklah. Teruskan pengamatanmu," balasnya penuh harap dan rasa mengalah, seolah aku adalah anak perempuan yang emosi karena datang bulan.


Aku mulai memikirkan semua yang pernah kutahu, doa-doa kocak yang pernah kudengar, nama dewi yang pernah diucapkan oleh temanku yang memiliki suatu agama, harapan-harapan yang diucapkan banyak orang ketika mereka menginginkan sesuatu, tapi nyatanya tidak berhasil.


"Tidak berhasil, sayang sekali," Kairin menimpali setelah tidak muncul reaksi apapun. Aku masih belum menyerah.


Akhirnya, aku memikirkan sebuah pernyataan doa yang sekilas muncul di kepalaku. Rasanya tidak akan berhasil. Tolong bangunlah, wahai nona vampir yang agung.


Pernyataan itu mampu membuat seberkas cahaya kehijauan mirip aurora melewati gua begitu saja, memadamkan lilin sekaligus menjatuhkannya, lalu menyinari tubuh Crystal yang kurus dan membuatnya melepaskan suara gemuruh dari perutnya.


Aku tersentak dan melepaskan tanganku dari pergelangan Crystal. "Apa yang terjadi?!" Angin masih terus berhembus lurus ke arah kami, merasuki terang-terangan, membuat kami semua menutup telinga dan mata.


Beberapa menit berlalu. Kami semua kembali membuka mata, dan betapa terkejutnya kami semua menatap mata hijau zamrud Crystal terbuka perlahan.


"Crystal!"


Suara Elfa menggema dalam langit-langit gua, terdengar hendak terisak. Dalam waktu yang tidak diduga siapapun, isakannya berhenti, terganti oleh suara menahan napas layaknya seseorang yang hendak dibunuh.


"Sudah puas memainkan tunanganku?"