Can I Kill You?

Can I Kill You?
Part 20 - Kakak



Guncangan kapal masih juga belum berhenti. Oksigen di sekitarku serasa menipis. Ditambah, bau anggur ini sungguh ingin membuatku mabuk. Aku sudah berhasil keluar dari tong ini jika saja tangan dan kakiku tidak terikat.


Langit sudah bercatkan warna jingga, ini artinya aku sudah pingsan untuk waktu yang cukup lama hingga membuat waktu berubah menjadi sore. Satu hari? Dua hari? Kalau memang selama ini, kecil kemungkinan seseorang bisa mengejar kapal ini.


Ayah, Ibu, Gabriel, Fynn, tentu saja dari mereka semua tidak ada yang kuharapkan untuk bisa menolongku. Ayah saja sudah membuangku jauh-jauh sebelum aku setuju atas permintaannya. Apa sekarang aku sudah berada di bawah tanggung jawab para kaum vampir?


Mengharapkan mereka untuk datang kemari sudah seperti membayangkan seengok babi yang bisa terbang. Aku yakin mereka akan mencari calon penerus yang lebih baik daripada diriku.


Payah.


Ketika aku sudah dipenuhi oleh pikiran buruk, suara priamenenggak sebotol minuman mendecit puas. Setelah bersendawa keras dan diikuti dengan bunyi botol yang terjatuh di atas lantai kayu, kakinya terdengar berjalan sempoyangan, mendekat ke arahku.


Dan yang benar saja, cara matanya menatapku dari tong bukanlah hal yang indah. Perutku serasa dikocok.


Gigiku menggertak menahan rasa mual yang hadir. Menghapus rasa mual dari wajah bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, saat pria yang bernama Elfa itu kembali memandangku dari tong yang aroma anggurnya minta ampun, mulutnya sudah tidak bisa menahan tawa.


“Memangnya masuk tong serasa seburuk itu?” Jika boleh kubilang ‘iya’ maka aku sudah mengatakannya dengan lantang saat ini, “Kau masih mending, di masa kecilku masuk tong seperti ini sudah seperti makanansehari-hari.”


Apa dia mengharapkan aku untuk simpatik?


Bunyi gedebuk keras mengalihkan perhatian kami, pertanda kapal telah berhenti. Wajahku sudah sepucat tomat busuk. Pintu kembali dibuka tanpa ketukan oleh orang-orang tadi, dan salah satu dari mereka datang berujar.


“Kita sudah sampai.”


Tong kembali melayang. Rasa ingin menendangku meningkat, aku tidak ingin dibawa oleh orang-orang ini. Namun, di saat yang sama—aku tidak mengetahui sihir apa yang bisa membuatku terbungkam seperti orang gila. Setidaknya aku harus mengikuti kemauan mereka hingga bibirku bisa bicara.


Aku ingin membuang ludah ke wajahnya. Sekarang juga.


Lubang di atas tong itu ditutup. Aku hampir berpikir paru-paruku tidak akan bisa bernapas lagi. Untungnya, sebuah lubang kecil terbuka tepat di depan mataku. Aku menengok keadaan dunia luar. Lebih lucu dari dugaanku.


Burung pelikan berkicau dan berterbangan, menambah suasana laut yang asing di mataku. Seumur hidup aku tidak pernah melihat lautan, kecuali dari buku-buku yang pernah kubaca saat kecil. Nah, tapi aku juga termasuk anak yang tidak terlalu suka membaca, sih. Jadi pengalamanku soal beginian jelas nol.


Beberapa pria paruh baya yang hanya mengenakan kaus berwarna putih berkeliaran dengan keranjang ikannya. Salah satu dari mereka datang kemari dengan senyuman mereka yang berhiaskan gigi yang sudah kekuningan. Menjauhlah, kumohon.


“Oh, pesanan baru lagi?”


“Kurang lebih,” jawab Elfa dengan riang gembira.


“Jika aku jadi kau, aku sudah menyerah untuk menyembuhkan


kakakmu itu.”


“Oh, sudahlah. Tutup mulutmu jika tidak ingin kuhajar.”


Menyembuhkan? Dia pikir aku bisa menyembuhkan kakaknya?


Tong pun berjalan lagi, melintasi pria paruh baya barusan. Pria yang mengangkutku ini sepertinya tidak peduli dengan sekitarnya, karena sudah banyak orang yang menyapanya, tapi bibirnya tetap saja terkunci.