
Tidak ada apapun yang mengikatku saat tidur. Bagus.
Walau Brooke sudah berkata akan menjelaskan semuanya besok, aku sama sekali tidak bisa terlelap. Ya, itu sudah jelas. Siapa yang bisa tertidur setelah tahu dirinya telah diculik?
Mungkin ini kesempatan yang bagus untuk keluar dari tempat ini. Tidak ada waktu yang lebih tepat dari sekarang.
Seketika itu, bau amis gelombang laut mendadak menghinggap, menusuk hidungku. Aku kembali beranjak dari karpet tanpa motif, berlari menuju ke luar gubuk tersebut, hampir berniat memuntahkan sesuatu dari mulut tapi tidak jadi.
Aku belum pernah semual ini mencium bau laut. Bisa-bisa aku mati karena kebanyakan muntah kalau sudah begini.
Langit masih temaram gelap dan hanya ditemani oleh gemerlap bintang yang sedikit menghiasi kekosongan langit. Belum pernah aku melihat langit seluas sekarang. Pemandangan ini sedikit menghibur perasaanku.
Tunggu, seharusnya kami semua berada di pinggir dermaga... Kenapa sama sekali tidak terlihat jejak seseorang di sini? Bahkan aku tidak melihat ada pondok lagi sebelum sekelebat pohon-pohon tinggi yang berbaris menutup pandanganku...
Eits, bukan saatnya aku memikirkan hal ini, aku harus mencari jalan keluar—
Pikiran yang terus kusembunyikan tiba-tiba tersembur begitu saja.
Apakah memang harus aku kembali ke sana?
Rasanya di sini akan lebih baik dibandingkan harus berurusan dengan para vampir.
Aku juga bisa memulai hidup baru dengan kerja kecil-kecilan di sini.
Telingaku berdengung. Bukan saatnya aku bimbang di sini. Tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan pada keluargaku jika aku menolak untuk kembali.
Sialnya, di luar aku malah bertemu punggung Elfa yang menghadap ke laut sambil menopangkan dagunya. Lagi-lagi ia duduk di atas kayu-kayu yang hampir mengering, ditemani beberapa pedang yang bersarung.
Aku sungguh tidak menyukainya. Bahkan, mungkin perasaan benciku ini melebihi rasa benciku pada para vampir. Bukan berarti aku merasa mereka lebih baik, hanya saja Elfa terasa memiliki aura yang mirip dengan mereka...
Aura seorang pembohong.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Bulu kudukku berdiri. Tiba-tiba saja suaranya yang dingin kembali keluar dengan datar.
Biadab. Tidak ada cara lain selain menjawab. "Tidak ada. Hanya mencari angin."
"Kau tidak mual berada di sini?" Tanyanya lagi dengan punggung yang masih menolak keberadaanku.
"Darimana kau tahu?"
Nada bicaranya mendadak meninggi. "Semua yang datang ke sini selalu merasakan hal yang sama. Mual, mual."
"Apa ini saatnya waktu curhat?" kataku begitu pelan. Aku bahkan tidak sadar kata-kata itu keluar dengan mulus dari mulutku. Untungnya, Elfa tidak menjawab ucapanku.
Punggungnya masih tampak ingin menyendiri. Ah, aku ingin kabur. Aku merasa emosinya akan meledak sebentar lagi.
Setelah berdiri, Elfa menyarungkan pedangnya pada sabuknya yang masih mengkilap. Wajahnya yang diterangi cahaya bulan tampak begitu kesepian. Begitu berbeda dengan dirinya yang ada tadi sore.
Aku jadi merasa sedikit bersimpati.
"Kau nggak bertanya kenapa bisa begitu?"
"Kenapa?"
Mata zamrudnya berkedip menatapku. "Ini semua karena kutukan kakakku."
Ada jeda yang lumayan panjang saat ia mengucapkan kalimat tersebut. Aku mengira ia masih akan membeberkan informasi tentang kakaknya, tapi ternyata tidak. Bibirnya masih terlalu kering untuk memberitahuku.
"Oh. Emm, boleh aku bertanya kenapa?"
"Baiklah, trims. Aku senang kalian tidak mengikatku dan memberikan sihir aneh itu padaku lagi," kataku hendak mengakhiri obrolan kering ini.
Tenggorokanku kering, tapi aku berhasil mengucapkan kata ini. "Selamat malam."
Tidak ada jawaban. Oke.
Aku langsung membuka pintu pondok dan kembali mencoba tertidur di atas karpet yang lumayan dingin. Bau laut masih membuatku mual, tapi berada di dalam pondok terasa lebih baik bagiku. Ya, lebih baik dibandingkan harus mendengarkan curahan hati seorang lelaki yang hendak menangis sendirian.
...****************...
Pagiku disambut dengan aroma ikan bakar berbumbu, bisa membangkitkan siapa saja dari tidur. Perutku sudah tidak makan sejak tadi malam, dan entah kenapa aku tidak bisa menahannya sama sekali.
Di ruang depan, semuanya menggigit makanannya masing-masing. Tumpukan ikan ditumpuk di atas piring raksasa yang diletakkan di atas meja kayu. Aku tidak suka cara mereka menatanya, tapi air liurku sudah tidak bisa ditahan.
"Lihat! Manusia satu ini tampaknya sudah kelaparan sekali! Menggelikan!"
Aku mulai penasaran apakah masih tersisa kecerdasan di kepala si rambut cepak.
Brooke yang tampaknya sudah biasa dengan adanya manusia hanya menjawab singkat. "Makanlah. Kau belum makan sedari kemarin, bukan?"
Aku mau saja tertawa. Belum pernah aku menemui penculik yang bahkan menawari korbannya untuk makan bersama di ruangan yang sama pula. Aku bertanya sekali lagi, "Bolehkah?"
Brooke mengangguk sambil mengambil ikan sekali lagi dan meneguk air.
Tanpa sungkan, aku mengambil satu ekor ikan yang sudah dipanggang. Baunya yang bercampur dengan arang dan daun-daunan yang tidak kukenal sangat mengunggah selera. Aku belum pernah makan yang seperti ini.
"Makan saja, tidak ada racunnya." tukas Elfa yang sudah menjilati jari-jarinya, mengira aku curiga akan makanan yang mereka berikan. "Dan Charlie, nanti tolong kerja samanya. Jangan berbuat yang aneh-aneh di depan kakak."
Charlie si rambut cepak menggeram. "Aku tahu itu."
"Kalian akan membawaku ke kakak kalian setelah ini?"
"Kalian?" ujar Charlie mencela. Tampaknya perutnya yang sudah terisi membuat dirinya tertarik dengan ucapanku. "Tidak-tidak. Itu hanya kakak Elfa. Kami bertiga cuma teman masa kecil dan kebetulan kenal dengan kakaknya."
Itu menjelaskan kenapa wajahnya begitu kesepian tadi malam. Sepertinya hanya hatinya yang merasakan kesepian sekaligus bersalah karena menyeret teman-temannya.
Baiklah. Saatnya menunggu jawaban Brooke.
"Aku sudah janji akan menjelaskan semuanya padamu, tapi kelihatannya seseorang sudah menjelaskan secuil informasi padamu." Mata zamrud Brooke menyambar Elfa sekilas. "Kami membutuhkan kekuatan penyembuhanmu. Crystal menyandang penyakit yang belum pernah kami ketahui sebelumnya."
Brooke meneguk air sekali lagi dan melanjutkan.
"Penyakit itu membuat kami semua harus mengungsi, karena Crystal sudah membawa kutukan bersamaan dengan penyakitnya itu, dan karena itulah—"
"Tunggu, kalian membawaku ke sini karena mau menyembuhkan kakak kalian, bukan? Dengar, ya. Aku tidak punya kemampuan seperti itu! Aku cuma bisa menggunakan belati dan bertarung, hal seperti itu, tentu saja..."
"Tidak. Kau pasti bisa." jawab Brooke mantab. "Kita akan membuktikan ucapanmu setelah ini."
...****************...
Gua tak berdasar, mereka menyebutnya. Kakak Elfa ditidurkan di sini untuk menjauhkannya dari efek yang lebih buruk bagi pulau. Kutukan kakaknya begitu buruk untuk beberapa orang, sehingga kepala desa mereka memutuskan untuk berpindah tempat... Dan aku yang diculik ini, diminta untuk melakukan harapan mereka yang hampir mustahil.
Di pinggir sana, kakaknya berbaring di antara lilin-lilin yang berbaris. Kristal biru hampir memenuhi tubuhnya yang kurus. Rambutnya berwarna putih, hampir seputih kulitnya.
Tunggu.
"Kalian... vampir?"