
Menghabiskan waktu di luar kastel Ruby melahirkan kesan yang aneh pada diriku sendiri. Rasanya seperti kembali pada diriku yang lama. Gelombang-gelombang emosi berkecamuk di kepalaku. Baik kenangan buruk maupun kenangan baik mulai berputar otomatis, semulus arus mata air yang terus mengucur. Aku yakin sekali jika perasaanku berubah menjadi lebih sentimental.
Air mataku terasa ingin mengucur berkali-kali. Rasa takutku menjalar bagai duri yang melilit.
Kenapa perasaan ini harus kembali sekarang?
Hanya satu hal yang bisa kusyukur dari semua kejadian janggal ini: Aku bebas dari tong yang baunya minta ampun.
Begitu tersadar, aku sudah berada di tengah bisikan angin yang menderu dan suara ombak yang menyambar. Tiga orang laki-laki tadi duduk di atas kayu yang tampak sudah dipotong dengan kasar, membicarakan sesuatu yang tidak terlalu jelas kudengar—atau mungkin tidak boleh kudengar, aku tidak tahu. Aku hanya tahu jika tangan dan kakiku masih terikat erat dengan tali tambang yang menjengkelkan.
Bau daging yang dibakar melayang di udara, hampir perutku hampir bernyanyi kelaparan. Mataku kembali terbuka dan mereka ikan-ikan sebesar tiga kepalan tangan yang ditusuk dan dibakar di tengah api. Mulutku terasa kelu. Kepalaku pusing lagi.
Kurasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk bangun.
Ketika bangun lagi, aku sudah merasa seperti putri tidur mengingat kegiatanku yang akhir-akhir ini terjebak antara pertarungan dan tidur.
Mataku mendapati sebuah ruang kosong yang lumayan luas dengan perapian kayu di sebelah kiri. Atap-atap yang ditumpuki jerami di atasku ini mengingatkanku dengan rumah kayu yang dibuat anak-anak untuk bersembunyi. Walau begitu, ukurannya terlalu besar untuk sekedar tempat untuk sembunyi. Jaring laba-laba sudah menyebar di beberapa titik, mungkin karena terlalu lama ditinggalkan. Bau debu menusukku berkali-kali, membuatku batuk beberapa kali.
Tunggu, aku… bisa batuk? Lebih tepatnya, bisa sampai berbunyi?
Aku mencobanya lagi, kali ini tidak sengaja dengan suara yang kekerasan. "UHUK!"
Wow. Hebat. Selamat datang kembali suaraku.
Aku meregangkan tubuh, mencoba rileks setelah menyadari tali-tali bau itu tidak mengikatku lagi. Walau begitu, gaunku sudah berbau anggur yang mengerikan, membuat perutku terkocok. Percuma aku mengibaskannya berkali-kali, cairan itu jatuh ke atas lantai kayu yang membuat segalanya lebih buruk.
Oke. Sekarang saatnya kabur atau tidak sama sekali—
"Kalian konyol, ya?!" Kakiku berhenti melangkah mendengar suara itu. Tentu saja, mereka pasti akan menjagaku seperti menjaga berlian yang disimpan dalam museum. Pikiran naif apa yang kudapat hingga bisa berpikir untuk mengelabui mereka?
Jika aku benar, itu tadi ucapan Elfa. Pekikannya yang menjengkelkan itu tidak pernah terhapus dari tempat spesial di kepalaku. Asalnya terdengar dari ruangan sebelah yang disinari oleh lampu petromaks. Aku melangkahkan kakiku mendekat. "Kalian sudah membawa perempuan jauh-jauh hanya untuk membawanya tidur? Dengar, ya. Bodoh juga ada batasnya."
Ruangan itu sama kosongnya dengan ruang yang kutempati sebelumnya, hanya saja kali ini ruangan itu dipenuhi dengan beberapa ornamen seperti perisai dan tanduk banteng dan taring gajah seukuran manusia. Beberapa lukisan terpajang--lukisan satu keluarga. Beberapa orang berbaris, ibu yang kelihatannya sudah berumur kepala empat, Elfa, si rambut cepak, seorang ayah yang berkumis putih lebat dengan tubuh sekuat banteng, dan seorang laki-laki berwajah tirus dengan rambut kemerahan.
...Apa orang itu yang dimaksud dengan kakak oleh mereka?
"Tenang dulu, El." ujar si pria berkuncir. Dahinya berkerut, menunjukkan ketidaksenangan. "Aku paham kau ingin cepat-cepat, tapi kita bahkan belum mengetahui kemampuan anak itu."
"Makanya aku sudah bilang—" Mata Elfa bertemu denganku, baru menyadari kehadiranku dalam percakapan ganjil mereka.
Nektar zamrud mereka yang dingin menajam lurus ke arahku. Seharusnya yang keluar dariku adalah perasaan yang sama dengan saat para vampir memandangku berjamaah di pesta vampir gila kemarin. Namun, perasaan apa ini? Rasa takut akan dimangsa menyergapku sedikit demi sedikit, membuatku ingin kabur dari tempat ini.
Oke, coba tenang dan rileks. Lihatlah apa yang ada di depanmu, Barbie.
"Apa kalian semua werewolf?"
Ini pertanyaan yang konyol, tapi lucunya aku berharap mereka menjawabku dengan serius.
Satu kesimpulan yang didapat oleh si rambut cepak. "Sihirmu mati, Brooke?"
“Bukannya sebelumnya kau memanggilnya, Bos?” Hening. Elfa tidak menjawab pertanyaanku.
Oke, bagus. Mereka mengabaikan pertanyaanku. Aku memang tolol. Seperti bertanya pada pencuri apakah mereka itu benar-benar pencuri saja.
Tapi, sungguh. Aku benar-benar ingat jika werewolf punya mata hijau zamrud seperti mereka. Dan jika memang mereka adalah vampir... Tidak mungkin mereka membawaku ke tempat seperti ini, bukan? Tempat yang benar-benar terpencil dan tidak memiliki hawa manusia ini tentunya tidak akan dipilih siapapun yang punya pikiran waras. Kecuali werewolf yang terkenal punya ketahanan tinggi.
Brooke, pria pertama yang menyergapku, mengalihkan pandangannya ke arah lain, tampak tak ingin ketahuan jika dirinya sudah melakukan sesuatu yang bisa membantuku sedikit itu. "Aku memang sengaja mematikannya."
Elfa memandang Brooke seolah telah dikhianati. "Kau kasihan dengan makhluk seperti ini?"
Brooke mengangkat tubuhnya dan berdiri, menusukkan mata dinginnya yang tajam pada Elfa yang sudah hendak mengeluh lagi. "Kita harus memperlakukannya dengan baik. Bukannya syarat sebagai hadiah kakakmu itu manusia yang utuh dan sehat secara mental?"
Elfa sudah siap dengan mulutnya yang terbuka untuk beradu argumen, tapi tiba-tampak melemah dan menunduk, rambut merahnya yang terkena cahaya petromaks menutupi sebagian matanya dan membuatnya redup. Perasaan yang aneh timbul, tatapannya yang sekilas terarah padaku menyiratkan sebongkah kebencian.
"Terserah."
Dengan langkah yang tergesa-gesa dan kepala menunduk, ia mendorong dada bidang Brooke dan melewatiku begitu saja, seperti melewati lawan yang telah mengalahkannya berkali-kali. Sedikit kurasakan lengannya yang berotot menyenggol lenganku dan hampir membuatku terjatuh. Apa sih maunya?!
Tuh, aku merasa sentimental lagi.
Brooke kembali duduk dan menyilangkan kakinya di atas lantai berselimutkan permadani dengan motif yang belum pernah kulihat. "Tidurlah, Barbie. Besok kita harus bangun lagi pagi sekali," ucap Brooke lirih.
Entah mengapa alunan ujarannya menyerupai kicauan burung yang mendayu-dayu. Aku mengangkat alis dan ikut duduk bersama mereka. "Kalian belum bicara alasan kalian menculikku."
"Hah? Untuk apa! Tentu jelas kami akan menjualmu!" pekik si rambut cepat, membuatku tersinggung berat. “Dasar makhluk sialan! Akan kujual kau lebih dulu!”
“Apa katamu?!”
Aku takut, tapi mulutku tak bisa berhenti berbicara walau gemetar. “Me-melawan musuh sepertimu hanya seperti melawan anak sekolah dasar, tahu!”
“Hentikan kalian berdua!” Brooke memotong dengan suara yang datar tapi menusuk. Kami berdua langsung membisu.
“Akan kuceritakan semuanya besok, tentang semua hal yang ingin kau ketahui. Jadi, kuharap kau mau menunggu.”