Can I Kill You?

Can I Kill You?
Part 19 - Penculikan



Pria itu sama sekali tidak berkedip menatapku. Matanya yang berwarna zamrud menyala bagai berlian, siap menelanku bulat-bulat. Aku, dengan persiapan nihil, siap menarik kembali pintu yang terbuka.


"Oh, apa yang kau lakukan, nona muda?" Pintu itu kembali terbuka, menarikku dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Pasti ulah sihir.


"Kau tidak akan kembali menutup pintu ini, tidak setelah ini." katanya dengan mendesis, mirip seperti ular.


Wajahku berubah sebiru laut. Penyusup? Kenapa bisa datang kemari? Di mana pelayan yang lain? "Siapa kau? Apa maumu ke sini?"


Sebelum semuanya menjadi gelap, bongkahan raksasa seolah menghantam bagian kepala belakangku. Jelas kepalaku terjerembab ke bawah, membuat semuanya semakin buram. Di antara bunyi dengungan telinga, aku mendengar beberapa orang berbicara.


Sempat seperkian detik bibirku mengumpat. "Bajingan, apa maksud kalian..." Suaraku terputus perlahan, denyutan di kepala semakin terasa menusuk.


Salah seorang mendekat dari belakang, tampaknya orang yang memukulku. Aku tidak bisa melihat perawakannya, tapi ucapannya sudah cukup membuatku berpikir bahwa dirinya adalah sosok yang menjengkelkan. "Apa benar ini Barbie? Dia bahkan nggak kelihatan kuat sama sekali..."


Aneh. Apakah mungkin orang-orang ini berasal dari tempat pesta kemarin? Rasanya sebelum datang ke sini, tidak ada orang yang mengenalku sama sekali.


"Mata abu-abu dan rambut seikal pohon ek, jelas sekali ini Barbie yang kemarin. Mana ada manusia lain yang tinggal di kastil seperti ini?"


"Nah, kau benar di bagian itu, tapi..."


Napasku semakin terasa berat. Lalu pada akhirnya, semuanya berubah menjadi semburan cat kehitaman.


...----------------...


Aku terbangun di atas tanah yang berguncang. Suara deru ombak menyapu telingaku, lengkap dengan air yang lepas sampai ke bagian pipi sebelah kiri. Ketika hendak kuusap bekas basahan itu, kusadari tanganku tidak bisa bergerak, karena kedua lenganku terikat tali tambang.


"Oh, sepertinya ia sudah bangun!"


Di depanku, kedua sosok dengan mata kehijauan yang sama dengan pria sebelumnya memandangku dengan gembira, seperti anak kecil yang memandang hadiah natal. Aku mencoba berbicara, tapi mulutku tak bisa bergerak seperti biasanya.


"Jangan bicara dulu, kalau kau paksa, kau sendiri yang bakal terluka, nona."


Dan benar saja, telingaku semakin berdenging tiap kali aku mencoba berbicara. Rasanya seperti sesuatu menyedot suaraku hingga ke jurang paling dalam.


Aku memandang sekeliling. Hampir tidak ada cahaya di sini. Ruangan yang kutempati terlalu gelap tetapi gagal sunyi berkat bunyi obat yang berderu. Kutebak ini pasti gudang kapal ini walau aku tidak bisa memandang muatan yang hadir berkat absennya sinar rembulan.


"Tatapanmu seolah bertanya, 'kenapa kami membawamu ke sini', ya?" si rambut merah menundukkan tubuhnya. Surainya menjuntai hingga bahu, membingkai wajahnya yang berbintik jerawat. Sangat berbeda dengan vampir yang kulihat di kerajaan.


Aku sudah berharap sedikit, tapi pintarnya dirinya membuat harapan itu jadi berbelok. "Yah, kamu tidak perlu tahu. Aku cuma tertarik dengan kemampuan bertarungmu." Kali ini ia bangkit kembali, meninggalkanku yang terkulai di atas lantai perahu. "Tunggu saja sampai daratan, kakak pasti senang melihatmu!"


Aku tidak peduli. Aku terus merengek hingga suaraku kembali walau hasilnya nihil. Telingaku kembali berdengung sampai membuatku menyipitkan mata. Apa lagi-lagi ini sihir? Aku membenci trik sulap seperti ini, sudah terlalu sering membuatku hampir gila.


"Huweek, tatapannya serem banget. Kenapa dia bisa menjadi tuan putri Kerajaan Ruby, sih?"


Aku memalingkan wajah, berhenti menatap mereka berdua.


"Tutup mulutmu, deh, Elfa. Kau nggak pernah tahu apa yang bisa mereka lakukan." ujar pria pertama, menganggap diriku seumpama punya kartu as untuk membunuh mereka semua, padahal nyatanya. Langkahnya mengakhiri percakapan satu arahnya, membiarkanku dalam kesunyian dan bau apek kapal.


Aku pasrah, terpaksa pasrah. Tempat ini terlalu jauh dari jangkauan pengetahuanku.


...----------------...


Sebelum sampai di sebuah dermaga, pintu kayu yang tampak rapuh itu menggiring cahaya yang menusuk mata. Aku sempat berjingkit, dan pria pertama muncul kembali di hadapanku.


Pria itu tidak menyerang atau melukaiku, sebagai gantinya tangannya yang menggembung penuh otot membawa sebuah tong besar. Dahiku mengernyit dalam kebisuan.


"Masuk," perintah si mata zamrud sambil menggunakan jari telunjuknya. Ini terlalu konyol, jelas aku susah masuk dengan keadaan kaki dan tangan yang terikat.


"Bos, bodoh banget, sih," ujar si rambut cepak, kepalanya muncul dari balik badan si bos. Dahinya sudah berlumur keringat, sebisa mungkin aku ingin menjauh darinya. "Mana mungkin dia bisa masuk sendiri kalau begitu?"


Oh, tidak, tidak... Aku tahu apa yang bakal terjadi.


Aku mulai berteriak lagi, dan suara dengungan di kepala kembali menjalar. Saat ini, pekikanku tidak lebih dari sekedar suara erangan yang tidak jelas. Elfa menepuk dahinya, tahu ini akan terjadi. "Aku sudah bilang sebelumnya jangan banyak bicara!"


Hebat benar mulutku sampai tidak terbuka walau ditendang. Aku bahkan tidak muntah atau apapun, tapi rasa sakitnya luar biasa, seperti terhantam. Tanpa perasaan berlebihan dan muka jengkel yang membuat siapa saja ketakutan, tangannya yang kurus sukses menggotongku ke bahunya dan melempar seluruh tubuhku masuk ke dalam tong. Bau anggur menyelinap masuk dalam hidungku.


"Nah, begini kan beres," kata Elfa enteng. Si bos menghela napas lumayan panjang, membuat Elfa kembali bertanya. "Ada apa, bos?"


"Caramu itu terlalu kasar, tahu?" Aku sempat berubah pikiran menganggap si bos adalah sosok yang baik, namun tidak setelah ucapan selanjutnya. "Lain kali, jangan sampai kau lukai tubuhnya. Ia harusnya bakal jadi hadiah yang sempurna."


Jangan lukai tubuhnya. Kakaknya. Aku ini adalah hadiah untuk kakaknya, dan apakah ia pikir aku menyetujuinya? Jelas tidak! Aku sudah cukup muak berada di kastel Zamrud dan Ruby, sekarang aku harus berpindah ke penjara yang lebih mengerikan lagi? Tidak akan.


Mau bagaimanapun caranya, aku harus keluar dari sini, tapi sekarang tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak, bagaimana aku bisa menyerang dan kembali ke istana Ruby?


Di tambah, aku juga tidak mengenal daerah ini. Tidak. Aku bahkan tidak tahu jika vampir punya daerah pesisir seperti ini. Sial. Pengetahuanku tentang daerah ini benar-benar kacau.


"Sudahlah, bos. Mau bagaimana lagi? Tidak masalah, kok. Lagian aku sudah melihat di pesta kemarin, anak ini bahkan tidak mati setelah Georgia itu sudah melukainya berkali-kali."


Si bos rupanya masih belum puas dan membanting kembali pintu kapal. Dapat kudengar Elfa mendengus sebal dan mengolok-olok si bos tadi. Aku tetap bergeming. Kutarik ucapanku sebelumnya, sepertinya kastel Ruby lebih baik dari tempat ini.


...----------------...