
Alana menunduk lesu. Ayahnya lagi-lagi menegurnya karena memakan cokelat. Ditambah lagi dengan :
"Jika kau memakan cokelat lagi tanpa sepengetahuanku, jangan pernah berharap untuk bisa bertemu dengan para pelayan tak kompeten itu!"
Tamat sudah. Alana harus jadi anak pintar karena kali ini Ayahnya benar-benar marah.
"Tidak apa-apa. Tuan Putri masih bisa memakan cokelat yang diberikan oleh yang Mulia" hibur Renee, sembari memberikan segelas susu pada Alana.
"Iya. Alana tidak akan mencuri cokelat lagi" ujar gadis kecil itu pelan. Ia meminum susunya perlahan.
"Ah iya! Renee berbohong" seru Alana tiba-tiba.
Renee tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Ia kemudian meletakan jari telunjuknya di depan mulutnya. "Ssstt"
"Kita harus bicara pelan-pelan" ujar Renee, nyaris berbisik. Alana mengerjapkan matanya, kemudian mengangguk cepat.
"Baik" sahut gadis kecil menggemaskan itu dengan suara pelan.
"Apakah Putri yang membuka pintu itu?" tanya Renee. Alana lagi-lagi menggangguk cepat.
"Iya. Lana mendorongnya meskipun itu berat" jawab Alana berbisik.
"Kenapa Putri membukanya? Bukankah Yang Mulia sudah melarang Tuan Putri mendekati taman di bagian selatan?"
"Alana ingin bersembunyi" Bisik Alana
"Karena memakan cokelat?" Tanya Renee lagi, Alana mengangguk.
"lalu Lana ingin lihat, karena ayah selalu marah kalau Alana kesana" Renee menghela nafasnya pelan. Ia meletakan gelas susu kosong ditangannya ke atas meja dan meraih kedua tangan mungil Alana.
"Tuan Putri tidak boleh mendekati tempat itu lagi, ya?"
"Kenapa?" Tanya gadis kecil itu, ia mengerjapkan iris violetnya yang bulat.
"Tempat itu berbahaya, jadi-"
"Renee salah!" sambar Alana. Ia menggelengkan kepalanya cepat. "Renee, kenapa tempat itu berbahaya? Di sana hanya ada anak lelaki sendirian" lanjutnya, berbisik dengan sangat pelan.
"Alana ingin tanya pada Ayah, tapi Ayah sangat pemarah" ujar Alana lagi.
"Begini, tempat itu terlalu sepi dan-"
"Apakah anak itu sedang dihukum oleh Ayah?" tanya Alana crpat. Renee terdiam sesaat. Ia harus berbicara hati-hati agar Tuan Putri nya ini tidak salah tangkap, dan lagi, Alana adalah anak yang pintar. ia tak akan berhenti bertanya sampai merasa puas dan mendapatkan semua jawaban atas semua pertanyaannya.
Renee tahu, apa yang ia lakukan saat ini adalah salah. Tetapi akan jadi masalah besar jika Heinry tahu bahwa Alana bertemu dengan anak itu. Entah apa yang akan terjadi pada anak itu, Renee tak bisa mengabaikan hal ini begitu saja. "Monster" itu hanyalah anak kecil berusia 8 tahun yang sudah nyaris mati. Setidaknya, jika memang ingin membunuhnya, bunuh saja. Selama ini anak sekecil itu sudah sangat tersiksa, seakan menanti hari kematiannya setiap hari. Siap untuk mati atau dibunuh kapan pun. Yang Mulia tak tega untuk membunuh anak itu 3 tahun yang lalu, namun menyiksa anak itu dengan menelantarkannya di penjara tersebut selama 3 tahun terakhir ini.
"Ayo" seru Alana, dengan cepat ia memberikan kelingkingnya. "Alana berjanji. Jika berbohong, Jari Lana akan dipotong" Lanjut gadis kecil itu. Renee tersenyum sebentar.
"Janji" Balas Renee. Renee menarik nafasnya dalam,
"Putri, Anak itu sedang di kurung oleh Yang Mulia karena ia memiliki kekuatan sihir, karena masih kecil, ia masih tidak bisa mengendalikannya. Yang Mulia takut bahwa sihir itu akan membahayakan orang-orang" Jelas Renee, tentu saja setengahnya mengarang. Anak itu sama sekali tidak terlihat memiliki bakat sihir. Jika memang ia "monster" yang diramalkan, bukankah seharusnya kemampuan itu sudah terlihat? Anak itu tampak seperti anak-anak biasa pada umumnya. Ah, ralat. Bukan seperti anak pada umumnya, anak itu terlihat seperti anak yang sangat suram, tertutup, dan sangat lemah.
"Apakah dia penyihir genius? Sejak kapan ia menjadi penyihir?" tanya Alana dengan antusias.
"Ah, dia pasti penyihir genius. Dia baru ada di sana tahun ini" jawab Renee -asal. "Maka dari itu, Tuan Putri harus menjauhi tempat itu, ya? Sihir itu bisa pecah kapan saja karena ia masih belum bisa mengendalikannya"
-----------------------------
"Halo!" Seru Alana riang. Tangan mungilnya menyentuh besi-besi dingin dihadapannya. "Maaf, Lana terlambat. Renee bilang, Alana hanya boleh masuk kalau bersama Renee, dan Renee punya banyaaaaaak sekali pekerjaan" Seru gadis kecil itu lagi. Renee tertawa kecil, ia baru saja menghidupkan lentera diruangan ini dan tampaknya Alana terlalu antusias menyapa anak itu, "monster" itu. Renee kemudian menatap anak laki-laki yang sedang terpaku dibalik jeruji besi itu.
"Ah kakak terluka.. "Ujar Alana dengan suara pelan. Luka itu.. pasti sakit, pikir Alana. Kemarin Lana tidak bisa melihatnya karna gelap, tapi sekarang ia sudah bisa melihat semuanya. Kedua kaki dan tangan anak itu terluka, banyak sekali luka luka lecet. Anak laki-laki itu juga kurus, sangat kurus. Kulitnya sangat pucat, kedua tangan dan kakinya di rantai.
"Renee, ayo kita obati!" seru Alana.
" Ah, saya tidak membawa kotak obat" sahut Renee. Gadis kecil mungil itu tampak kecewa.
"Tapi.. lukanya.. harus diobati... "ujar gadis kecil itu lagi dengan suara pelan. Matanya memerah, hampir menangis.
"Bagaimana kalau melakukannya besok? " tawar Renee, ia tidak bisa keluar sekarang untuk mengambil kotak obat. "Sekarang berikan cokelat yang sudah Putri siapkan dulu, lalu kita akan kembali untuk mengobati lukanya besok, ya?" ujar Renee, mengusap kedua mata Alana.
"Baik, ayo kita obati besok" Sahut Alana. Gadis mungil itu kemudian bergerak membuka bagian bawah kain troli makanan, tempat ia bersembunyi tadi. Tangan mungilnya meraih sekeranjang cokelat dibalik kain troli makanan itu.
"Ini, Alana bawa Cokelat!" Seru gadis kecil itu tiba-tiba. Alana kemudian meletakan sekeranjang cokelat itu tepat di depan jeruji besi. Alana tidak tahu, apakah 'kakak' ini suka cokelat atau tidak? Tetapi Alana ingat, Leon bilang semua anak-anak itu suka cokelat. Alana meraih sebuab cokelat dan mengulurkan tangannya.
"Ini... " ujar Alana.
Anak laki-laki itu hanya diam, sedari tadi iris merahnya tak lepas memandangi gadis mungil yang saat ini sedang mengulurkan sebatang cokelat kepadanya.
"Apa kakak suka cokelat?" tanya gadis mungil itu lagi.
Anak laki-laki itu masih diam.
"ini.. makananmu" Renee memberikan sebuah roti dan segelas air ke dalam jeruji besi. Anak laki-laki itu bergerak. Seketika itu juga, suara rantai yang mengelilingi kedua kaki dan tangannya memenuhi ruangan. Kemudian, tangannya bergerak. Berusaha meraih sebatang cokelat dari tangan mungil Alana. Sementara itu, Renee dengan sigap menangkap tubuh Putri Mahkota Estelle tersebut menjauhi Anak laki-laki itu.
----------------