
Anak laki-laki itu diam. Menatap lekat gadis mungil beraroma manis yang kini sedang mengulurkan tangannya.
Tunggu, pikir Alana.
Kakak ini tidak bisa keluar karna ada besi besi besar ini.
"Ah, Lana butuh kunci!" Seru gadis kecil itu tiba-tiba. Ia membalikkan badannya, dan berlari kembali ke arah pintu.
"Jangan khawatir, Lana akan segera kembali!" Seru Alana, tepat
sebelum ia menghilang di balik pintu.
Anak laki-laki itu menghela nafasnya kasar. Alana bahkan tidak menoleh sedikitpun. Alana tidak melihat bahwa anak laki-laki itu sedang mengangkat tangannya yang bergetar. Kukunya panjang, kotor, tangannya dipenuhi oleh bekas luka di sekitar rantai yang tengah mengelilingi pergelangan tangannya. Tangan kecil itu tampak pucat, lemah, dan putus asa.
......................
Leon melangkahkan kakinya cepat, menyusuri koridor istana dengan langkah gusar.
Di mana Alana?
Beberapa saat lalu, seorang pengawal istana melaporkan bahwa pintu penjara monster itu terbuka. Salah satu pengawal yang bertugas sedang membantu seorang pelayan di dapur, pengawal lainnya sedang ke kamar kecil.
Cih, bisa-bisanya mereka lalai dalam bertugas, decak Leon.
Bukannya mereka tahu, bahwa terakhir kali Alana memaksa untuk masuk?
Bagaimana mereka bisa membiarkan bangunan itu tanpa pengawasan?
Ah, jika Heinry mengetahui hal ini, entah bagaimana nasib para pengawal itu. Entah masuk atau tidaknya Alana ke dalam penjara itu, ini memang sudah keterlaluan. Saat ini monster itu memang tampak lemah dan tak berdaya. Namun, siapa yang tahu? Dia bisa meledak kapan saja.
"Hhh" Leon mendesah kasar. Ia menemukan Alana. Gadis kecil itu sedang di gendong oleh Rene dengan gaun yang dipenuhi oleh cokelat. Jantungnya yang tadinya terasa ingin meledak, kini mulai berdetak normal kembali.
"Selamat siang, Nona Rene" Sapa Leon, mendekati mereka.
"Selamat siang, Tuan" Rene mengukir senyumnya.
"Selamat siang, Leon!" Seru Alana keras.
"Siang, Tuan Putri" Leon menggelengkan kepalanya pelan,
"Sepertinya Tuan Putri habis mencuri cokelat, ya?" tanya Leon, mengukir senyumnya. Alana sontak menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. Alana tidak boleh berbohong, tetapi jika jujur Ayah akan memulangkan kak Rene.
"Maafkan saya, Tuan. Saya yang memberikan cokelat itu pada Tuan Putri" Duh! Jika begini, kak Rene sungguh akan dipulangkan Ayah!
"Tidak kok, Leon! Alana pergi ke dapur dan melihat cokelat, jadi Alana makan saja!" Seru Alana. Baik Rene dan Leon, keduanya terkekeh.
"Alana berkata jujur. Alana tidak mendapatkan cokelat selain dari Ayah dan dari tangan Lana sendiri" Alana menunjukkan kedua tangan mungilnya.
"Ayah boleh memulangkan Alana ke kamar" celoteh Alana lagi.
Leon tertawa kecil, "Baik, Tuan Putri. Anda memang harus segera pulang ke kamar untuk mengganti gaun cantik ini" Leon menepuk pelan kepala Alana.
"Tuan Putri main kemana saja sejak tadi? Saya sudah mencari kebanyak tempat, tetapi tidak menemukan anda" Tanya Leon, mencoba memancing gadis kecil itu. Benar saja, Alana sontak menutup mulutnya lagi dengan kedua tangan mungilnya. Leon mengernyitkan dahi.
"Tuan Putri tampaknya pergi ke taman untuk memakan cokelat dari dapur" sambar Renee cepat. Leon meliriknya, "Benarkah?"
"Iya, saya menemukannya bersembunyi di bawah meja" jawab Renee pasti. Alana mengerjapkan matanya. Kak Rene berbohong.
"Ah, kalau begitu syukurlah. Tolong awasi Tuan Putri lebih ketat. Jauhkan ia dari penjara itu. Beritahu juga yang lainnya ya, Nona Rene"
Rene tampak mengangguk "Baik, Tuan."
"Saya mendapat laporan, bahwa pintu penjara itu terbuka. Jadi tolong beritahu yang lainnya untuk lebih berhati-hati"
"Pintunya... terbuka?"
"Ah, maafkan saya tuan. Mohon ampuni saya!" Seru Rene tiba-tiba.
"Sepertinya itu kesalahan saya. Beberapa saat lalu saya memeriksa tempat itu dikarenakan para pengawal tidak di tempat. Sepertinya saya tidak menutup pintu itu dengan benar. Maafkan saya."
......................
Malam hari, taman bunga istana.
"Saya benar-benar minta maaf, Tuan" Rene membungkuk.
Leon menghela nafasnya, merasa tidak enak.
"Ah, tidak papa. Anda tidak perlu khawatir masalah itu. Saya sudah membahasnya dengan Yang Mulia. Beliau memang sangat marah, namun syukurlah, Alana sama sekali tidak mendekati tempat itu saat kejadian" Jelas Leon.
"Apakah Yang Mulia sudah menetapkan hukuman untuk saya? Saya siap menanggung hukuman tersebut, Tuan"
"Tidak, Nona Rene. Lagi pula, kesalahan itu berawal dari para pengawal. Yang Mulia juga sudah mengganti pengawal yang bertugas untuk menjaga penjara itu" Jawab Leon. "Jangan khawatir, Anda hanya perlu menjauhkan Alana dari tempat itu" Lanjut Leon.
Renee menggangguk. Ia benar-benar bersyukur bahwa Raja tidak menjatuhinya hukuman.
"Semoga matahari selalu menyinari langit Estelle, Puji Yang Mulia Raja Heinry"
Ini memang masalah serius. Akan menjadi masalah lebih besar lagi, jika Raja mengetahui bahwa Alana-lah yang membuka pintu penjara itu. Alana bertemu dengan anak yang disebut monster itu. Bisa-bisa, Raja memecat seluruh pengawal dan pelayan yang bertugas saat itu juga. Seluruh pelayan akan dianggap lalai dalam menjaga Tuan Putri. Yah, tindakan tersebut tentu tidak salah. Bagaimanapun, itu adalah penjara monster. Monster yang telah diramalkan akan membawa kehancuran bagi kerajaan. Seluruh rakyat Estelle mengetahui ramalan ini, dan seluruh penghuni kerajaan mengetahui bahwa Yang Mulia telah menahan monster tersebut di penjara besi. Tidak pernah ada yang melihat sosok monster itu selain dua orang pelayan dan satu kepala pelayan yang bertugas untuk memeriksa keadaan monster itu. Rene adalah salah satu pelayan itu.
Pada awalnya Rene bertanya-tanya, kenapa Sang Raja tidak membunuh monster tersebut saja?
Kenapa justru menahannya?
Bahkan meminta pelayan khusus untuk mengantarkan makan-makanan manusia.
Setelah melihat monster itu secara langsung, Rene mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Kala itu, Raja memiliki hati yang lembut, yang tidak cukup tega untuk membunuh seorang anak berusia lima tahun.
Monster itu hanyalah seorang anak laki-laki yang dirampas kebebasannya sejak ia berusaha lima tahun, hanyalah anak laki-laki yang bahkan tidak diperlakukan selayaknya manusia. Itulah kesimpulan Rene.
"Semoga matahari memberkati dan menyinari duniamu, Nona Estelle" Balas Leon.
...………………...
Notes :
"Semoga matahari selalu menyinari langit Estelle" umumnya merupakan ucapan atas rasa syukur bagi rakyat Estelle. Matahari di sini memiliki makna keberkahan, cahaya, dsb. Ucapan ini juga biasa ditunjukkan sebagai doa, pengharapan, benar-benar memiliki makna yang dalam bagi rakyat Estelle. "Semoga matahari memberkati dan menyinari duniamu" merupakan balasan dari ucapan ini. Kata "dunia" di sini memiliki makna kehidupan orang tersebut.
Sejak pertama kali Kerajaan menahan anak laki-laki itu di penjara besi, Raja telah memerintahkan beberapa pengawal khusus untuk menjaga tempat itu. Raja juga secara tertutup telah meminta kepala pelayan untuk menetapkan dua pelayan khusus yang menyiapkan makanan dan kebutuhan lainnya di tempat itu. Raja tidak cukup tega untuk membunuh atau menyiksa 'monster' itu. Namun, kepala pelayan melakukan sesuatu yang justru berbanding terbalik dengan perintah Raja. Anak itu diperlakukan dengan buruk, diterlantarkan, tidak diberikan makan dan minum dengan layak. Rene dan Brenda selama ini hanya mengikuti perintah dari kepala pelayan karena berpikir memang itulah perintah dari Raja.
(Ksatria berdarah dingin, Leon)