Butterfly Nebula

Butterfly Nebula
Cokelat dan Darah



Alana kecil berdiri di depan sebuah pintu besi besar. Pintu bangunan tua yang tak jauh dari istana. Pintu itu tak tertutup rapat. Terlebih lagi, tidak ada siapa-siapa di sini. Padahal biasanya, selalu ada 2 pengawal yang berjaga di kedua sisi pintu.


Nah, sekarang di mana mereka?


Alana melihat ke sisi kanan bangunan. Lalu, melihat lagi ke sisi kiri bangunan. 'Paman-paman pengawal' sungguh hilang. Tak apa. Justru kalau ada paman pengawal, Alana tidak boleh datang. Mereka akan mengantarkan Alana kembali ke istana, atau ke Leon. Padahal, Lana cuma ingin bermain.


"Paman pengawal jahat" gerutu gadis kecil itu. Ia ingat, paman pengawal juga pernah mengadukannya pada Leon, karena ia memaksa masuk. Kemudian, Leon mengadukannya pada Ayah. Ia tidak mengerti, kenapa ayah sampai memarahinya panjang lebar dan mengingatkannya terus menerus. Ia hanya meminta masuk dan berbicara dengan baik pada pengawal. Alana juga berjalan dengan anggun. Tetapi Leon dan Ayah mengatakan bahwa itu sikap yang tidak baik. Gadis kecil itu masih bersunggut, sembari membersihkan cokelat di tangannya pada gaunnya yang cantik.


"Lengket" gumam Lana. Ah, Lana harus membersihkan tangannya dulu. Ada air pancur yang tak jauh dari sini, air itu dekat dengan dapur istana dan Alana bisa mencuci tangannya di sana. Alana segera berlari, ke arah air pancur itu.


Tapi,


Tunggu dulu.


Bagaimana jika ia bertemu dengan paman pengawal di sana?


Atau bertemu Leon?


Sejujurnya, Alana sedang bersembunyi karena sudah diam-diam mengambil cokelat dari dapur. Alana juga sudah lama bermain. Saat ini, Leon pasti sedang mencarinya.


Dengan segera, Alana kembali memutar langkah kecil nya ke arah bangunan tua itu.


Tangan mungilnya mendorong pintu besi besar itu.


"Uhh beraaat... " keluh Alana kecil. Alana tak mengerti, kenapa semua pintu dibuat dengan begitu besar dan berat.


"Kenapa kau berat sekaliii?" tanya gadis kecil itu yang akhirnya berhasil membuka 1/5 dari pintu. Setidaknya, cukup untuk dirinya yang mungil itu menyelinap.


Alana tersenyum dengan lebar, melangkahkan kakinya masuk dengan bangga atas kerja kerasnya. Tampaknya, bangunan ini memang hanya memiliki sepetak ruangan. Gelap. Hanya ada satu lentera lilin mati yang berada di dekat pintu. Kemudian, penjara. Alana tidak tahu namanya, tapi besi-besi penjara itu terlihat berkilau dalam kegelapan.


Gadis kecil itu mengamati sekitarnya, tanpa berani melangkah lebih jauh dari pintu. Cahaya dari luar adalah satu-satunya pencahayaan dalam ruangan ini. Ah, tampaknya ada orang. Samar-samar, Alana dapat melihat sosok yang sedang duduk di pojok kiri ruangan, di dalam penjara.


"Haloo..?" Sapa Alana. Ia memberanikan dirinya untuk maju. Mendengar suara Alana, sosok itu mengangkat kepalanya. Iris merahnya beradu dengan iris violet berbinar milik Alana.


"Kakak....siapa?" Tanya gadis kecil itu polos. Untuk beberapa detik, mereka diam.


Sosok itu adalah anak lelaki, yang mungkin lebih tua dari Alana. Tampaknya, anak laki-laki itu lebih tinggi, namun terlihat sangat kurus. Kulitnya tampak pucat dan matanya berwarna merah.


"Apa kakak anak nakal? Apakah anak nakal di penjara di sini? Kenapa tidak ada lampu? Ini sangat gelap" rentetan pertanyaan Alana menggema dalam ruangan. Gadis kecil itu kemudian sibuk mengelap tangannya yang masih lengket pada gaunnya.


"Kenapa kakak di sini? Apakah kakak anak nakal?" Tanya gadis kecil itu lagi mengulangi pertanyaannya.


"Apakah ini penjara anak nakal?"


"Apakah kakak juga mencuri cokelat di dapur? Apakah ini penjara untuk pencuri cokelat juga?"


"Apa ayah juga akan menghukum Lana seperti inii?"


Alana kecil panik, dengan pertanyaannya sendiri.


"Kenapa kakak diam saja?"


"Apakah kakak dilarang bicara?"


"Apakah kakak baik-baik saja?"


Anak laki-laki tetap diam, mengamati gadis kecil menggemaskan itu.


"Apakah kakak takut?"


Alana mengulurkan tangan mungilnya yang beraromakan cokelat yang manis.


"Tak apa, Lana sudah menemukanmu. Ayo keluar dari sini!" Gadis itu tersenyum dengan sangat manis. Entah anak laki-laki itu melihatnya atau tidak.


"Ayo!" gadis itu mengulurkan tangan mungilnya di sela jeruji besi. Ia menahan nafasnya sesekali, ketika aroma anyir darah menusuk indra penciumannya. Dengan tak sabar, gadis kecil itu mengatup-ngatupkan telapak tangannya untuk segera disambut anak laki-laki itu.


"Kakak akan bebas! Ayo!"


......***......



Poor my boy :(