Butterfly Nebula

Butterfly Nebula
Gadis kecil



Heinry de Estelle, menatap bayi dalam gendongannya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Jari-jemari kecil bayi itu menggenggam erat jari telunjuknya. Menggelitik hatinya.


Alana.


Alana de Estelle


Bagaimana ia bisa membenci makhluk kecil ini? Niat membunuhnya runtuh, punggungnya bergetar pelan. Seharusnya, ini adalah saat yang tepat untuknya membunuh bayi ini, sebelum makhluk kecil ini tumbuh menjadi gadis yang cantik seperti ibunya.


Seperti Callista.


Callis.


Satu-satunya perempuan dalam hidup Heinry.


Dan makhluk kecil inilah yang merengutnya.


...****************...


5 tahun kemudian...


"Alana, makan." Perintah Heinry. Ditatapnya putri mungilnya itu dengan tatapan tegas.


"Ayah, jangan marah" Gadis kecil itu mengulurkan tangan kanannya, bermaksud untuk meminta maaf. Dengan wajah polos dan mata besarnya yang berbinar, ia memamerkan senyumnya yang manis dan menggemaskan.


"Aku sudah melarangmu untuk memakan cokelat, Alana." Ujar Heinry tegas. Kali ini, tingkah manis putrinya itu takkan mempan padanya. Ia sudah melarang gadis kecil itu untuk tidak memakan cokelat dan makanan manis sementara waktu. Hal ini dikarenakan gigi anak itu sedang bermasalah. Namun, tanpa sepengetahuan Heinry, beberapa pelayan masih memberikan cokelat pada Alana. Hasilnya, anak itu kembali menangis kesakitan tadi malam.


"Sudah kuputuskan. Aku akan memulangkan 'kakak-kakakmu' itu ke rumahnya hari ini" Lanjut Heinry tegas.


"Jangann, Ayah!" Seru Alana. Kedua tangan kecilnya kini meraih tangan kiri ayahnya. Menarik-narik pelan tangan Heinry tersebut.


"Lana tidak akan memakan cokelat, selain dari Ayah! Janjii!" Seru Alana lagi.


Heinry menghela nafasnya kesal. Ia tahu betul, para pelayan itu sangat menyayangi dan mencintai Alana. Mereka tak bisa menolak gadis kecil itu. Belum lagi, dengan tingkah-tingkah manis Alana. Tetapi saat ini, yang terpenting adalah kesehatan Alana. Heinry sama sekali tak tahan jika melihat putri kesayangannya itu harus meringkuk kesakitan. Ia sudah melakukan kesalahan, dengan membiarkan Alana menjadi anak yang maniak cokelat dan makanan manis.


"Aku tak akan bernegosiasi lagi denganmu. Aku bisa melakukan apapun pada kakak-kakak pelayanmu itu kapan saja. Jadilah pintar dan jangan bertingkah" Ancam Heinry, kejam dan tak berperasaan. Leon -ksatria pribadinya- yang berdiri tepat di samping Heinry mendelik. Bagaimana pun, sikap tak sabaran tuannya ini memang sudah mendarah daging. Yang benar saja, Heinry sedang mengancam putrinya sendiri yang berusia lima tahun. Hiks. Lima tahun.


Tuan putri yang malang, kau harus memiliki ayah yang tak berperasaan seperti tuan, batin Leon mendramatisir. Ia memang tak tega jika gadis kecil itu mendapat teguran-teguran kejam dari Heinry.


"Maaf, Yang Mulia. Sepertinya, anak-anak seusia tuan putri memang sedang di masa suka-sukanya pada makanan-makanan manis" Ujar Leon, dengan nada rendah.


Leon menganggukkan kepalanya, sembari terus tersenyum. Dirinya sudah terbiasa dengan kata-kata tajam Heinry. Untuk kali ini, ia tak bisa berbuat banyak. Ini menyangkut tuan putri, perihal cokelat dan sakit gigi. Masalah seserius ini harus ditangani langsung oleh Heinry.


"Maafkan-"


"Tenangkan dirimu, Heinry de Estelle" Celetuk Alana. Iris violetnya yang bulat menatap ayahnya sembari berlagak mendecak. Leon spontan menahan tawanya, yang nyaris saja pecah. Gadis kecil itu menyeletuk dengan gaya yang meniru sang ayah.


Alana. Tegur Heinry dalam hati. Anak ini memang kadang-kadang kurang ajar padanya. Seenaknya. Heinry tak tahu, apakah semua anak memang seperti itu atau tidak, tapi putrinya ini bahkan pernah menjambaki rambut ayahnya, mencubit ayahnya, dan menarik-narik hidung ayahnya. Lalu sekarang, putri kecilnya ini sedang mengejeknya dengan berlagak menirunya. Memanggilnya secara langsung dengan nama lengkap pula. Konyol. Entah bagaimana, tingkah-tingkah random Alana ini membuatnya kesal sekaligus merasa gemas. Gadis kecil ini tumbuh dengan sangat cepat, menjadi seorang putri kecil yang manis, anggun, dan pintar -dan overaktif. Daya ingat dan daya tangkapnya juga sangat luarbiasa. Alana bahkan terlalu pintar untuk anak-anak seusianya. Ia sudah menjalani pendidikan dininya sejak usianya 3,5 tahun.


Ckk, decak Heinry.


Harus diakui, meskipun terkadang kesal dengan sikap seenaknya dan tingkah overaktif Alana, Heinry menikmati setiap detik yang ia habiskan bersama putrinya tersebut. Bagaimana anak itu mulai bisa merangkak, berjalan, berbicara.


"Bagus. Tampaknya kau juga sudah pintar berbicara, ya? Siapa yang mengajarimu memanggilku dengan nama lengkap seperti itu?"


...----------------...


Fun fact:




Fara, Ola, dan Tiara adalah nama 'kakak-kakak pelayan' yang mengasuh Alana sejak masih bayi. Fara sendiri merupakan adik kandung Leon, Ksatria pribadi Heinry.




Leon berusia 2 tahun diatas Heinry. Mereka tumbuh bersama, dan berteman baik sejak kecil. Leon juga disebut-sebut sebagai tangan kanan Heinry.