BROTHERS

BROTHERS
EPISODE 5



Bel pulang sekolah bahkan belum berbunyi, Aku tengah di tarik oleh kakak kelasku yang tadi pagi ke belakang sekolah. Mungkin dia masih belum puas mencaci makiku di depan umum pagi tadi.


"Lo temen Reymond atau Reynaldi?" tanyanya sembari memandang wajahku dengan kebencian.


Aku terduduk dia tak bergeming di antara mereka semua. aku tau mereka berdiri melingkari tubuhku dan aku sama sekali tidak bisa pergi saat itu.


Aku sudah sangat ketakutan. ingatanku saat masih sekolah menengah pertama pun muncul lagi. Ingatan itu sedikit demi sedikit muncul orang Orang memandangku seperti sampah. mereka bahkan sering memasukan sampah makanan mereka kedalam tas sekolahku.


Tanpa berpikir panjang aku langsung berkata jujur. "Aku adik mereka!" ucapku tiba-tiba sembari memandang mereka secara bergantian.


Mereka memandangku ragu, kemudian mereka tertawa bersama. "Adik? Lo pikir gue percaya?" ucapnya sembari mendorong kepalaku dengan keras.


"Kalian percaya?" tanya salah satu temannya yang menggunakan kacamata. "kalo ngomong pake logika dong. kulit Lo aja item gini mereka putih banget," lanjutnya lagi.


REYNALDI POV


Ting!


Suara handphone Reynaldi berbunyi tanda seseorang mengirimkan pesan kepadanya. Reymond memandang penasaran ke arah Reynaldi. "Siapa?" Tanya Reymond penasaran.


"Risa, kenapa dia nanya gue punya adik apa engga ya,?" ucap Reynaldi heran.


Reynaldi hanya diam tak menjawabnya. "Gini, kan Gisa gak mau semua orang tau kalo kita itu kakaknya," usul Reynaldi. "Jadi jawab engga," lanjutnya.


Reymond mengangguk tanda setuju. Mereka hanya mengikuti apa yang Gisa mau tanpa mereka sadari situasinya seperti apa sekarang.



"Engga?" ucap Risa kesal sembari memandangku. "Berani bohongin kita?" tanya Risa dengan nada tinggi.


"Aku berkata jujur, berikan handphone nya aku akan bertanya langsung kepada mereka," ucapku panik. ingatannya tentang masa lalu burukn semakin jelas di benakku dan aku semakin tidak bisa mengontrol rasa takutku kepada semua orang yang ada di sini.


"eits tapi enak aja mau nanyain langsung, murahan banget, pelacur ya lo?" ucapan Risa semakin menyakiti hati ku. saat ini ujung kepalaku sangat sakit dan tengilaku sudah berdengung seolah banyak orang yang tengah mencaciku dari berbagai sudut.


"Tidak aku benar adiknya!" teriakku tiba-tiba sembari bersujud. Aku bahkan bisa melihat jelas sepatu mereka yang berada tepat di hadapanku. "Ku mohon percaya padaku," .


salah satu teman Risa tiba-tiba menendang ku dari arah kanan sehingga tubuhku jatuh ke arah kiri dengan keras, siku kanan ku pun terasa sangat perih tapi aku kembali bersimpuh memohon agar mereka percaya apa yang aku katakan.


"Aku benar adiknya, aku tidak bohong," ucapku dengan nada bergetar. seluruh tubuhku kini sudah bergetar hebat dengan rasa sakit yang aku rasakan di ujung kepalaku. Beberapa detik kemudian pandanganku mulai kabur dan seketika semuanya gelap.


......................


Aku terbangun dengan lega saat melihat diriku tengah terbaring di atas ranjang kasur. siku kanan ku sudah di obati. Aku tidak tahu siapa orang yang sudah membawaku kesini. Tidak lama kemudian aku mendengar seseorang membuka pintu kamarku dan aku melihat Bima masuk dengan membawa segelas teh dan kantong plastik hitam yang aku bahkan tidak tahu apa isinya.


Aku tersenyum sembari mengangguk pelan. Bima menyuapiku tanpa aku suruh. Aku hanya memandang Bima dengan kagum dan sejenak melupakan semua rasa sakit yang ada di tubuhku.


"Aku panggil dokter lebih dulu, dia akan memeriksa kondisimu. Kau tunggu di sini dan habiskan ini sendiri," ucapnya sembari memberikan roti sandwich itu. aku menunggu sembari memakan roti itu. Saat dokter datang wajahnya sangat tampan dan dia tersenyum ke arahku.


Rasanya aku ingin terus sakit disini dan aku ingin di rawat olehnya seumur hidupku. dia berjalan mendekat ke arahku di ikuti oleh Bima yang ada di belakangnya. Dia kemudian memegang pergelangan tangan ku untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.


"Dia sudah boleh pulang sekarang, tidak ada luka serius di dalam maupun luar tubuhnya." ucapnya dengan memandang ke arah Bima.


"Ah baik terimakasih dokter," ucap Bima sopan.


"Kau boleh mengambil obat untuk Gisa dan obatmu di sana nanti," ucap dokter itu. Wajah Bima seketika panik saat mendengar dokter berbicara seperti itu.


"Aku memandang Bima dengan wajah heran, obatmu? apa Bima juga sakit?" batinku.


jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, aku tengah berjalan pelan bersama Bima untuk segera pulang. kita sudah memesan taxi online untuk kita pulang.



Saat kita berdua sampai di rumah, suara gaduh yang di ciptakan oleh kedua kaka beradik itu muncul. mereka sepertinya tengah berebut memasak mie untuk di makan.


"Kau sudah makan sore tadi di warung pak de!" ucap Reymond sembari memegang sebuah mie Instan di tangannya.


Reynaldi memandang Reymond kesal. "memangnya aku tidak boleh memakannya lagi?" jawab Reynaldi sembari berusaha merebut mie yang ada di tangan Reymond. Dengan cepat Reymond menghindari tangan Reynaldi yang berusaha mengambil mie instan itu.


"Ini jatah mie untukku, kau terus memakan mie dari kemarin tidak sehat jika harus memakannya lagi!" teriak Reymond kesal.


"Hey! apa begitu cara kalian menyambut adik kalian yang sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Bima. Mereka sedari tadi memang tidak sadar jika aku dan Bima sudah sampai.


Mereka memandang kita secara bersamaan. "Simpan mie itu, aku sudah membeli sate ayam untuk kalian bertiga," ucap Bima sembari mengacungkan kantong plastik yang ada di tangannya.


Reymond dan Reynaldi hanya tersenyum dan menghampiriku. "Kau baik-baik saja adik kecil?" tanya Reymond sembari mencubit pipiku layaknya seorang anak kecil.


"Maaf tidak bisa menjemputmu ke rumah sakit, kita berdua tidak tahu kau jatuh dari tangga," ucap Reymond dengan nada lembut.


Mendengar ucapan Reymond aku semakin malas untuk mengingat nya lagi, aku hanya tersenyum memandang mereka berusaha untuk menunjukkan kepada mereka bahwa aku baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Ayah sering mengajarkanku untuk tetap kuat," jawabku sembari tersenyum. Tentu saja senyuman itu palsu, yang asli ada badaknya.


Aku duduk di depan televisi seperti biasa aku bersandar ke sofa dan duduk di lantai bersama kedua kakak laki-laki ku. Aku tengah bimbingan sekarang antara aku harus mengadu atau tidak. Tapi sekarang aku akan makan dulu saja perutku rasanya sakit setelah seharian belum ku isi makanan sedikitpun.


"Kakak aku adikmu kan?" tanyaku tiba-tiba pada kedua kakakku yang duduk di samping kiri dan kananku. mereka memandang ku secara bersamaan.