
"Oke Oke kita tidak akan mengenalimu," jawab Reymond pasrah. Dia memang orang paling pengertian setelah Bima, tapi Reynaldi dia akan kukuh dengan pendiriannya.
"Reymond. Kenapa kau menuruti nya?" tanya Reynaldi sedikit kecewa.
"Kenapa kau selalu malu mempunyai kakak laki-laki seperti kita?" tanya Reynaldi lagi. Dia memandangku dengan sorot mata sayu. Aku berdiri tegap mematung memandang Dinding yang ada di belakang Reymond. Aku tidak punya banyak nyali untuk memandang nya.
"Bukan tidak mau. Setiap kali mereka tau kalian adalah kakakku, pasti ucapan mereka akan menyakiti hatiku dan mereka membandingkan ku," jawabku dengan nada kecil. Reynaldi tersenyum kecil melihat tingkahku bagaimana pun juga aku masih di anggap anak kecil oleh mereka.
"Aku mengerti maksudmu," ucap Reynaldi. "Sini, duduklah disini," sambungnya sembari menepuk-nepuk sofa dan menyuruhku untuk duduk di antara mereka berdua. Aku menuruti perintahnya.
"Adikku yang cantik," ucap Reynaldi sembari memelukku. Sebenarnya aku geli melihat tingkah kakakku yang seperti itu. Aku sudah bukan anak kecil lagi.
"aaah singkirkan tanganmu!" suruh ku dengan berusaha menjauhkan tangannya yang merangkul ku. Melihat Reynaldi yang jail Reymond kemudian ikut memelukku dan akhirnya aku hanya bisa berteriak dengan posisi yang di apit oleh kedua kakakku.
"Awas kalian!" teriakku.
"Rey kuadrat! Aaaa!"
"Bima! Tolong aku!" Aku masih berteriak dan berusaha menyingkirkan mereka tapi itu semua sia-sia.
…
Bima hanya tersenyum saat dirinya tengah memasak dan mendengar keributan yang timbul dari adik-adiknya, tapi senyum yang ada di bibirnya itu tiba-tiba lenyap setelah sakit yang dia rasakan muncul kembali.
Bima memegang dadanya, nafasnya tiba-tiba sesak. Dia seperti orang yang habis berlari sejauh 10 Km tanpa henti. Bima duduk terbaring di lantai dapur dan berusaha mengendalikan dirinya. Sedikit demi sedikit nafasnya kembali lancar. Bima akhir-akhir ini sering tiba-tiba merasa dadanya sesak, Dia tidak memberi tahukan masalahnya itu kepada adik-adiknya atau ayahnya.
Bima kembali berdiri dan menarik nafas dalam kemudian dia hembuskan. Dia mengangkat telur mata sapi yang masih di atas penggorengan kemudian menyimpannya bersama telur yang lain dalam satu piring, Tidak lupa Bima mematikan kompornya.
Bima berjalan sembari tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Dia sudah membawa piring yang berisikan telur untuk adik-adiknya makan. "Heyy sudahlah jangan menjalin adikmu seperti itu," ucap Bima.
"Yeyy makan!" teriak Reymond antusias.
Bima menaruh piringnya di atas meja yang terletak tepat di depan sofa. karena meja yang ada di sana sangat pendek dan hampir sejajar dengan dudukan sofa mereka lebih memilih duduk di lantai. Kebiasaan itu sudah terjadi sejak ayahnya masih sering pulang.
"Reymond ambil telur yang ini, ini sedikit mentah, " ucap Bima sembari menunjuk ke salah satu telur yang ada di piring itu.
Reymond dengan cepat memindahkan telur itu ke atas piring miliknya. Aku terdiam memandang mereka yang langsung memakan makanannya. Aku masih ingin makan bersama ayah.
"Makan ini Gisa," ucap Bima sembari memberikan telur untukku. "Jangan terus memikirkan ayahmu, dia pasti akan pulang nanti," ucapnya dengan wajah penuh percaya diri.
Aku tau dia berbicara seperti itu hanya untuk membuatku tidak khawatir. Bagaimana aku bisa percaya setelah 3 bulan lebih ayah tidak pulang dan tidak ada kabar. Bima berbicara bahwa jika ayah tidak pulang itu berarti ayah tengah bekerja untuk kita. Bima juga selalu berkata "Ayo liburan ayah mengirimkan kita uang!" padahal itu semua kebohongan.
Aku, Reynaldi dan Reymond tau ayah tidak pernah mengirimkan uang. Susah menjadi rahasia umum jika aku dan kedua kakakku mengikuti alur cerita yang kala sulung kami buat.
…
Semua kakakku sudah menghabiskan makanannya kecuali aku yang masih harus memasukkan beberapa gumpal nasi lagi kedalam mulutku.
"Aku akan menjaga toko sebentar lagi, kalian kerjakan tugas kalian setelah itu pergi tidur. " suruh Bima. Bima memandang kita seperti ayah yang tidak ingin anaknya menderita.
"Kak Bima! Apa aku boleh menggantikan kakak menjaga toko?" tanya Reymond tiba-tiba. Bima memandang Reymond datar.
"Tidak!" jawabnya cepat. "Kau harus belajar bukannya menjaga toko sepertiku," jawab Bima. Bima pergi meninggalkan kita dengan membawa piring kotor di tangannya.
Bima merasa hatinya sakit saat mendengar adiknya berbicara seperti itu. Dia ingin yang terbaik untuk adik-adiknya di tambah lagi dengan ayahnya yang sama sekali tidak memberikan mereka kabar selama berbulan-bulan. Itu yang membuat Bima harus menggantikan sosok ayah untuk mereka.
Bima menaruh piring kotor itu di atas piring kotor yang lain. Dia kemudian merogoh saku celananya dan kembali menghubungi nomor ayahnya, Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban darinya.
…
Aku, Reynaldi dan Reymond tengah duduk menghadap televisi. Molly 4 duduk di atas kedua kakiku, dia tengah asyik tertidur santai. Sedari tadi tangan kananku tidak berhenti mengusap bulu halusnya.
"Kira-kira ayah kemana ya?" tanyaku tiba-tiba. Aku tau ini bukan saat yang pas untuk membicarakan seperti itu, tapi rasa penasaran ku cukup besar.
Reymond dan Reynaldi terdiam tidak bergeming, mereka seolah tidak mendengar apa yang aku katakan. Aku memandang mereka dengan tatapan sebal secara bergantian.
"Nanti dia pulang, alihkan tatapan itu dariku. Matamu akan keluar jika tidak berkedip," ucap Reynaldi tanpa memandang ke arahku.
Reymond tiba-tiba menyodorkan selembar uang 50 ribu. "ini ambillah untuk mu bekal besok," ucapnya. Dia memandangku datar.
Aku tersenyum girang dan dengan cepat mengambil uang itu tanpa ragu. "Terimakasih kakak tersayang, terganteng," pujiku.
Aku mengangkat Molly 4 yang tertidur dan memberikannya kepada Reynaldi. Aku berlari dengan tubuh yang sesekali ku goyangkan tanda bahagia. Tidak peduli jika kedua kakakku melihat itu.
Akibat diriku yang terlalu bahagia, 'BRAK!' kakiku tidak sengaja menendang sebuah pot bunga yang Bima simpan di dekat lemari televisi. Tadinya aku berniat pergi ke kamarku, letak pintu itu tepat di samping televisi yang terpampang besar disana.
"Gisa…," ucap kedua kakakku berbarengan. Aku memandang mereka perlahan dan kembali berjalan mundur untuk masuk ke kamarku. Ku lemparkan senyum tanpa dosa ke arah mereka dan segera mengunci pintu kamarku.
"Bereskan dulu pot bunga itu!" suruh Reymond kesal.
Aku diam seolah tidak mendengarkan ucapan mereka, malas jika harus membuang semua tanah yang berceceran di atas lantai itu. Lebih baik aku tidur.