
Aku berlari keluar menemui ke-tiga kakak ku yang akan pergi bekerja dan sekolah. Kepanikanku memuncak ketika mereka bersiap untuk segera pergi tapi aku masih harus memakai sepatu sekolahku.
"Kakak tunggu aku," teriakku pada Bima. Keseharian kita semua memang seperti ini. Reynaldi dan Reymond pergi bersama dengan motor hasil uang jajan mereka, sedangkan aku pergi bersama Bima.
Aku siap dengan sepatu di kakiku tapi Bima sedari tadi masih berusaha untuk menyalakan motornya. Aku mau Mandang bingung Bima. "Kenapa dia?" ucapku sembari menunjuk ke arah motor.
"Gisa sepertinya kau harus berangkat bersama kedua kakak kembarmu, motor ini tidak mau menyala," ucap Bima sembari terus berusaha untuk menyalakannya.
Aku memandang mereka yang sudah siap di atas motor. "Dengan mereka?" ucapku terkejut. Aku memandang kembali Bima dengan wajah tidak percaya.
"Aku tidak mau, itu memalukan!" teriakku protes.
"Cepat naik Gisa kita akan terlambat!" Teriak Reymond dari atas motor. Reynaldi turun dan segera menyuruh Gisa naik.
"Naik saja aku akan berjalan kaki," ucapnya pasrah. Aku memandang kasihan Reynaldi, tapi aku juga tidak ingin terlambat pergi kesekolah.
"Baiklah, Kakak ganteng hati-hati yaa," ucapku sembari menaiki motor yang di kemudian Reymond. Aku melambaikan tangan ke arah Reynaldi.
"Kau benar tidak apa-apa?" tanya Reymond memastikan.
"Okeyy, kamu harus mentraktirku disekolah nanti ini tidak gratis," ucap Reynaldi sembari tersenyum.
Reymond tiba-tiba melaju kencang untuk beberapa detik kemudian dia menekan rem tiba-tiba. Tubuhku seketika ikut maju hingga tubuhku menempel sepenuhnya ke tas punggung yang Reymond pakai.
"Naik Rey!" teriaknya. Aku bahkan belum membetulkan posisi dudukku yang sangat tidak nyaman. mendengar itu aku langsung memandang Reynaldi yang tengah menghampiri ku dengan cepat.
Dia dengan cepat naik dan duduk tepat di belakang ku. "Tunggu!" ucapku dengan berusaha untuk turun dari atas motor. Tapi usahaku terhalang oleh Reynaldi yang duduk lebih cepat di belakangku.
Reymond melajukan motornya sembari berteriak. "Kak Bima kita berangkat!"
"Hati-hati Kalian!" jawab Bima dengan melambaikan tangannya.
Reymond melajukan motornya dengan cepat, aku tidak berhenti berteriak sedari tadi di antara mereka berdua yang tak bergeming sedikitpun. "Turunkan aku!" teriakku masih berusaha mencoba untuk menyuruh mereka berhenti.
"Diam Gisa. Kita bisa celaka," ucap Reynaldi tegas. Aku terdiam mendengar nada bicaranya yang menyeramkan.
Aku memandang Reynaldi sejenak dan kembali memandang ke arah jalanan yang ramai lancar. "Nanti turunkan aku di halte bus sekolah," ucapku datar.
Halte itu terletak sedikit jauh dari sekolah, biasanya aku melewati halte itu untuk sampai ke restoran kakakku. selama perjalanan ini orang yang kita tidak sengaja temui pasti bakal memandang kita. Aku sudah membayangkan cacian yang mereka layangkan kepadaku. Terlihat dari sorot mata mereka yang memandangku sinis.
"Nah turunkan aku disana!" aku meluruskan tangan kiri ku menunjuk ke arah halte bus, tapi Reymond tidak mendengarkan aku. Aku memukul pundak Reymond berkali-kali untuk memberitahunya. "Reymond turunkan aku!"
"jangan di parkiran sekolah! aku tidak mau!" teriakku protes. Tapi dia tetap menurunkan aku di parkiran sekolah. Motor yang kami tumpangi berhenti di samping motor yang lain. Parkiran itu memang di khususkan untuk siswa yang sudah memiliki SIM. Aku melihat beberapa teman Reymond dan Reynaldi yang tengah duduk di pojok parkiran di atas kursi yang mereka susun.
"Aku temannya!" jawabku cepat sembari turun dari motor.
"Dia yang kita cari kemarin kan?" tanyanya lagi. Aku hanya memandang datar wajahnya yang lumayan manis. Tidak lama setelah aku turun dari motor, aku langsung berlari dan berharap tidak ada yang melihatku disana.
…
Aku sudah sampai di kelas sekarang, pandanganku kosong ke depan. Aku membenturkan kepala ku ke atas meja dengan pelan berkali-kali, dan Tifa datang.
"Kau kenapa Gisa?" tanya Tifa sembari melepas tas sekolah nya dan segera duduk. Tifa memandang ku aneh, "Kau seperti orang gila," ucapnya tanpa bersalah.
"Aku memang akan menjadi gila," ucapku pasrah. Aku masih menidurkan kepalaku di atas meja dan tiba-tiba 'BUK!' meja yang aku gunakan untuk tertidur nampaknya di gebrak oleh seseorang. Suara gebrakan itu langsung terdengar olehku. Awalnya aku mengira Tifa yang melakukannya tapi ternyata aku salah saat aku mengangkat kepalaku dan memandang orang itu.
Wanita cantik berambut panjang di temani oleh ke tiga temannya. Dia seperti ketua geng wanita dalam film-film saja. Aku memandang mereka sayu, mereka pasti mempermasalahkan aku yang di bonceng oleh kedua kakakku tadi.
"Dia yang dimotor tadi?" ucapnya angkuh. Aku bisa melihat tatapan bencinya yang dia lontarkan saat memandangku. Aku hanya bisa terdiam tak bergeming saat dia berbicara seperti itu.
"Lo yang di bonceng Reymond?" tanyanya seolah tidak percaya. Dia tersenyum kecut dan memandang sekitarnya sejenak. "Lo siapanya Reymond?" tanyanya lagi.
"Ahh aku hanya berteman dengannya tidak lebih," ucapku berusaha santai. mengakui aku adalah adiknya itu bakal lebih sulit dari kelihatannya. Aku malas jika harus menceritakan seluruh kegiatan yang Reymond lakukan.
Seperti waktu di sekolah menengah, aku mengakui jika aku adalah adiknya. Mereka malah tidak percaya karena warna kulitku yang berbeda dan akhirnya aku menjadi bahan bullyan mereka. Apa salahnya aku berbeda?
"Teman? teman kau bilang?" dia berbicara dengan nada sedikit tinggi di hadapan semua teman kelasku. Semua orang sepertinya tengah menonton pertunjukan seru sekarang dan sebentar lagi aku bakal menjadi bahan gosip untuk mereka semua.
"Mana mungkin teman bisa berboncengan seperti itu! Lo di apit sama Reymond dan Reynaldi! murahan banget sih Lo!" teriaknya dengan nada tinggi kepadaku. Aku lebih memilih diam daripada memperkeruh suasana.
"Rey Lo berdua abis nanti!" batinku kesal.
"Kenapa diem aja? Lo akuin diri lo murahan?" tanya salah satu temannya yang berdiri di samping kirinya. Mereka bertiga pasti akan membenciku juga karena ketua gengnya yang sudah menghasut mereka untuk membenciku. Biasa itu sering terjadi dalam film-film.
Tifa sepertinya merasa tidak nyaman duduk di antara aku dan kakak kelas cabe-cabean ini. Aku melihat wajahnya yang tengah kebingungan dan memandang kita secara bergantian.
"Lebih baik kalian pergi ke kelas kalian sendiri sekarang. Bel masuk akan segera berbunyi," ucap Tifa sembari memandang mereka dan berharap mereka segera pergi meninggalkanku.
Mereka hanya memandang Tifa, dengan tatapan heran. " Kau menyuruhku?" tanyanya sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.
'TRINGG!'
Bel masuk berbunyi, Tifa memandang sombong ke arah mereka seolah perkataan dirinya memang benar. "Kalian dengar itu? kalian tidak tuli kan?" tanya Tifa tanpa rasa takut.
Mereka akhirnya pergi ke kelas mereka masing-masing dengan rasa tidak terima karena telah di suruh oleh adik kelas yang baru saja masuk di sekolah ini.