
"Jadi perundung itu adalah kakakmu?" tanya Tifa dengan wajah yang terkejut. setelah itu wajahnya berubah menjadi tersenyum saat dirinya kembali membayangkan bagaimana mereka merundungku.
"Wahh aku cemburu mendengar cerita-cerita serumu itu," jawabnya dengan menundukkan kepala. mungkin selama ini dirinya sangat kesepian. Tifa bercerita bahwa dirinya seorang anak perempuan tunggal dan sedari taman kanak-kanak dirinya hanya bersekolah di rumah tanpa mempunyai teman selain bibi yang merawatnya.
"Cerita seru?" tanyaku dengan memandangnya heran. "Itu lebih tepat di sebut cerita buruk," lanjutku.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika dia tidak pernah mempunyai teman. Pantas saja wajahnya sangat bersih dan putih, rambutnya yang lurus dan matanya yang bulat besar. Dia sangat terawat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku memandang seluruh tubuhnya perlahan.
Bel pulang berbunyi.
Saat ini Tifa tengah berjalan denganku. Aku memandang sebuah mobil hitam mewah yang sedari tadi mengikuti kita perlahan. Mobil itu cukup mencurigakan sehingga aku takut terjadi apa-apa kepada kita berdua.
"Tifa hitungan ketiga kita lari," ajakku tiba-tiba. Dengan wajah panik aku meraih tangan Tifa dan menariknya tanpa ragu.
"Hey kau bahkan belum berhitung," ucapnya terkejut, tapi Tifa menuruti perintahku dengan wajah yang tersenyum.
Aku sudah mengajak Tifa berlari cukup jauh dan aku tahu tujuanku kemana. Aku masuk dengan cepat kesebuah restoran bergaya Italia sekaligus tempat kakak pertamaku bekerja. Kita berhenti tepat di depan sebuah ruangan yang bertuliskan 'Dapur'. Tempat biasa aku datangi dan kebetulan kakakku keluar dari dapur itu.
"Gisa! kau kenapa?" tanya Bima terkejut. Dia memandang kita yang sedang terengah-engah tanpa bisa bicara.
"Kita di huh.. di ikuti mobil mencurigakan," ucapku dengan nafas yang tak beraturan. Aku memandang Tifa, dia juga sepertinya kelelahan setelah ku ajak berlari.
"I-itu mobil ayahku," jawabannya polos.
Aku memandang Tifa dengan cepat dengan ekspresi terkejut, rasa lelahku hilang seketika. Kini aku tengah berdiri tegap dengan mulut terbuka lebar yang kutututpi dengan tangan kananku.
Aku mempertahankan posisi itu cukup lama dan kita tidak bersua sedikitpun. Bima memandangku aneh dan menarik tanganku yang menempel ke mulut. Dia berusaha menjauhkan tanganku yang menutupi seluruh mulutku. Dia memandang wajahku dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan.
Bima mengerutkan keningnya. "Tutup mulutmu Gisa. itu menjijikkan," ucap Bima.
"Ya! kenapa kau tidak memberitahu ku, aku bisa di marahin ayahmu nanti. Bagaimana jika aku dilaporkan ayahmu sebagai penculikan?"tanyaku panik. Melihat latar belakang Tifa saja membuatku ngeri. dia bisa membeli seluruh restoran ini jika dirinya mau.
"Tidak usah bersikap seperti itu Gisa, itu tidak akan pernah terjadi," jawabnya santai. Aku memandang Tifa heran. Bagaimana bisa dia masih bisa tersenyum sedangkan aku, Jantungku bahkan hampir berhenti berdetak.
"Aku sibuk. Kalian uruslah masalah kalian sendiri oke?" ucap Bima sembari berjalan mundur memandang kita berdua. Dia mengacungkan jempolnya.
…
Aku duduk terdiam memandang Tifa yang tengah santai menyantap makanannya. harga makanan di restoran ini bahkan sebulan bekal sekolahku, tapi dia?
"Kenapa kau tidak memesan makanan, Apa kau tidak lapar?" tanyanya polos, matanya yang bulat memandangku seolah dirinya tidak mempunyai dosa samasekali.
"tentu saja lapar, tapi aku akan makan di rumah nanti," jawabku asal. Uangku saja hanya cukup untuk membeli 2 bungkus indome rasa soto kesukaanku.
"Kau rugi jika tidak memesan makanan disini, kau tau aku juga sering kesini dulu saat ayahku krisis keuangan. Dia bilang makanan disini yang paling murah jadi jika uang bulanan ku habis aku akan kesini," jelasnya antusias. Dia menjelaskan dengan mulut yang penuh makanan.
Aku memandang Tifa kesal. "Aku tau makanan di sini murah," jawabaku untuk mengikuti alur percakapan Gisa.
"Cepat habiskan. orang yang menjemputmu sudah menunggu sedari tadi diluar," ucapku datar. Dia hanya mengangguk sembari mengumpulkan sisa spaghetti yang sudah hampir habis. itu adalah suapan terakhir dia, dengan diikuti minuman yang sudah setengahnya habis.
"Ayo kita pulang," ajaknya. Dia meraih tanganku dan mengajakku ke luar restoran.
"Kau yang pulang. Aku masih menunggu kakakku untuk pulang bersama," ucapku datar.
Tifa hanya tersenyum dan mengangguk. Dia segera menaiki mobil hitam mewahnya dan menurunkan kaca mobilnya. "Sampai bertemu besok Gisa." dia melambaikan tangan. Mobil itupun melaju santai
Aku masuk meninggalkan mobil Tifa yang baru saja berjalan pergi meninggalkan restoran tanpa melambaikan tangan kembali kearahnya.
"Hei kau melamun?" tanya Bima tiba-tiba. Aku terkejut dan memandang sekelilingku ternyata aku berdiri menghalangi jalan masuk untuk orang-orang yang akan berkunjung ke restoran ini.
"Tidak kak. Aku hanya kesal kepada R² di sekolah," jawabku sebagai alasan.
......................
"Kakak tanya sekali lagi, kenapa menyambut Gisa seperti itu?" tanya Bima tegas dengan nada bicara yang kasar.
Reynaldi dan Reymond hanya diam menatap ku yang berdiri tepat di belakang Bima dengan kepala yang ku miringkan sedikit untuk melihat ekspresi mereka. Mereka berdua duduk berdampingan di atas sofa sedangkan aku dan Bima berdiri tepat di depannya.
Wajah santai mereka yang membuatku kesal. Reynaldi tersenyum licik. "Apa kita salah jika melakukan itu?" tanyanya sembari menatap Reymond dan menaikkan satu alisnya dalam waktu yang cepat.
Bima menoleh ke arahku, "Benar apa yang salah dengan itu?" tanyanya heran. Bima sepertinya sudah sangat prustasi mengasuh kita bertiga yang masih kekanak-kanakan.
"Sudahlah masalah seperti itu jangan di besar-besarkan, kakak sedang lelah. Mana Molly 4 dia belum di beri makan," jawabannya sembari meninggalkan kita bertiga.
Molly adalah kucing hitam kesayangan Bima. Dia sudah lebih dari 3X kehilangan Molly. entah itu Molly sakit, mati dan mati. itulah kenapa kucingnya di beri nama Molly 4, karena semua kucing yang dia punya dia bernama Molly dia hanya membedakan angkanya saja. orang yang datang pertama memang susah untuk di lupakan.
Aku terdiam tak bergeming di hadapan kedua kakakku yang jail. meraka memandangku dengan tatapan yang mengintimidasi. "Apa?" tanyaku memberanikan diri.
"Aku tidak mau terlibat dengan kalian, aku tidak mau ikut campur dalam masalah kalian, jadi berpura-puralah tidak mengenalku," jelasku tegas.
Mereka siswa populer di sekolah, bagaimana jika mereka mengaku sebagai pacarku lagi seperti yang mereka lakukan dulu dan aku yang akan di rundung oleh wanita yang dekat dengan mereka. Itu membuatku trauma.
"Apa alasanmu tidak mau mengakui kita?" tanya Raymond heran.
"Kakak. kau mau aku di rundung seperti dulu lagi oleh wanita-wanita penghibur mu?" jawabku pasrah. Aku sudah tidak memperdulikan mereka lagi sekarang tekadku sudah bulat untuk tidak mengenal mereka di sekolah.
"Jadi jangan menyapaku oke?" ucapku percaya diri.
......VISUAL KARAKTE
BIMA, Manusia pecinta kucing......
REYNALDI, Penyanyi sekolah.
REYMOND, Fotografer keliling di sekolah.
TIFA, Anak ceplas-ceplos.
GISA, ??
Ape lu, Gak suka gue pake filter?