
Gisa. Nama yang bagus untuk anak perempuan seusiaku yang masih duduk di bangku kelas 1 menengah Akhir . Aku anak bungsu dari 4 bersaudara. Aku berkulit sedikit gelap di antara kakak-kakak ku yang lain. Mempunyai rambut lurus panjang dan kulit putih tidak menjamin kalian cantik. Aku bahkan sering di banding-bandingkan dengan kakak-kakak ku yang lain, Hanya karena mereka berkulit putih dan tampan. Tampan darimananya?
Aku baru saja masuk ke salah satu sekolah unggulan di kota ini. Kedua kakakku juga bersekolah disini. Aku khawatir bagaimana nasibku bersekolah bersama kedua saudara kembar aneh itu. Reynaldi dan Reymond adalah kakakku yang baru saja naik kelas. Kudengar mereka populer di sekolah ini.
Aku diam memandang banner yang bertuliskan 'Selamat Datang Siswa baru' yang di tempel tepat di depan pintu masuk sekolah. Aku kembali berjalan melewati pintu gerbang itu dengan wajah yang ku tundukan ketanah. Itu adalah salah satu kebiasaan ku jika aku tengah gugup. Beberapa langkah sudah ku lewati. Aku coba memberanikan diri untuk memandang ke arah depan dengan percaya diri dan itu berhasil untuk beberapa menit.
"Tidak buruk," batinku. Jantungku sedari tadi sudah berdetak sangat kencang sebelum aku sampai di sekolah ini. Aku bahkan tidak tahu detak jantung ini pertanda apa.
Pandanganku seketika teralihkan kepada dua orang laki-laki yang tengah berdiri berdampingan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Mereka menyisakan tempat kosong di tengah mereka dan diikuti siswa lain yang berdiri berjajar di belakang mereka. Mereka seperti orang yang akan menyambut tamu kehormatan dengan karpet merah. Aku memandang seksama kedua orang itu yang tengah melambaikan tangannya dengan gembira.
Aku membulatkan mata saat sadar mereka tengah melambaikan tangan kepadaku. Aku dengan cepat memandang ke belakang untuk mencari seseorang, siapa tau mereka menyambut orang lain bukan diriku.
"Gisaaa!" teriaknya sembari melambaikan kedua tangannya dan sesekali mereka melompat. Beberapa anak itu membawa tulisan-tulisan yang bahkan aku tidak bisa membacanya karena jaraknya yang terlalu jauh.
"Mereka menyambutku?" tanyaku heran, dengan tangan yang menunjuk ke arah diriku sendiri. Aku malu sekaligus panik saat ini. Lebih baik aku berpura-pura untuk tidak mengenali mereka saat ini.
Ku tutup wajahku dengan kedua tangan mungilku dan berusaha menghiraukan mereka. Aku tahu itu adalah Reynaldi dan Reymond yang tengah menyambut kedatanganku.
"Ya Tuhan kumohon ubahlah wajahku," mintaku dengan suara pelan. Aku terus berjalan dengan wajah yang masih ku tutup dengan kedua tanganku sembari berusaha melihat jalan yang aku pijak melalui sela sela jari tanganku.
"Gisa! kau akan terus seperti itu?" teriak Reymond sembari melangkah berjalan mendekatiku.
"Siapa kau, apa aku mengenalmu?" ucapku dengan nada gugup. Sebenarnya aku sama sekali tidak berani mengatakan itu kepadanya. Habis nanti aku di rumah.
Reymond memperlihatkan mimik wajah seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar."wahh adik yang tidak bersyukur, Gisa aku dan Reynaldi menyambutmu setelah usaha keras masuk sekolah unggulan ini," jelas Reymond sedikit emosi.
Aku terdiam sejenak setelah mendengar apa yang dia bicarakan. "Aku tidak meminta itu," ucapku dan langsung meninggalkan Reymond sendiri disana.
Aku berjalan dengan sedikit cepat menuju kelas dan berharap orang-orang tidak melihat itu. "Reymond, Reynaldi ku adukan kau pada Bima," ucapku kesal.
Aku masih bisa mendengar teriakkan Reymond dari belakang tubuhku, Tapi sepertinya dia malas untuk mengejar ku.
Satu-satunya orang yang sering membelaku hanya Bima kakak sulungku, Reymond dan Reynaldi sangat licik jika mereka berbuat salah bahkan aku adalah korban dari kesalahan mereka. Walaupun begitu aku merasa mereka menyayangi ku lebih dari siapapun.
Aku duduk sendiri di bangku belakang dengan tatapan kosong. beberapa detik kemudian aku memalingkan wajahku untuk memandang ke luar kelas lewat jendela yang tepat berada di samping bangku ku. Langit biru yang indah, pemandangan seperti ini yang ingin terus aku saksikan dan sepertinya kedua kakakku sudah meninggalkan tempatnya tadi dan sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa selain melamum.
"Hai! namanu siapa?" tanya seorang wanita dengan rambut pendek dan mata yang bulat besar seperti mata anjing. Anak itu tersenyum dengan tangan yang dia sodorkan untuk mengajak ku bersalaman.
"Aku Tifa," jawabannya. Aku bahkan tidak bertanya namanya.
Orang yang mengaku bernama Tifa itu duduk di samping bangku ku yang kosong, mungkin dia juga tidak mempunyai teman sepertiku. Aku hanya bisa tersenyum untuk menyambutnya.
"Kau duduk sendiri?" tanyanya setelah melihat bangku yang dia duduki kosong dan tidak ada tas sekolah di atasnya.
"Iya mungkin seperti itu," jawabku dengan ragu. Aku sebenar benarnya tengah gugup. Aku bukan tipe orang yang bisa membuka topik obrolan dan kakakku bilang aku adalah orang yang membosankan.
"Mau duduk denganku?. Aku juga duduk sediri disana," Tunjuk jari mungilnya ke arah bangku barisan depan.
Aku diam tak bergeming di ajaknya. Malas untukku jika harus duduk di depan, rasanya seperti kau duduk di atas bara api yang sangat panas. Aku merasa jika aku duduk di sana, Setiap guru yang mengajar matanya tidak akan lepas memandangku untuk menyuruhku maju kedepan.
"Aku menyukai jendela dan langit, Aku tidak bisa duduk disana, jika kau mau kau boleh duduk di sini," ucapku beralasan.
Dia dengan cepat menyetujui hal itu. Dia berdiri dan melangkah untuk memindahkan tas sekolahnya. caranya berlari sangat lucu, mungkin dia memiliki tubuh yang mungil sehingga dia terlihat seperti itu.
"Kita teman sekarang?" ucapnya setelah sampai di samping bangkukku. Aku tersenyum lebar dan menganggukkan kepalaku tanda setuju.
Kita berdua nampaknya cocok satu sama lain, sedari tadi kita sudah banyak membahas tentang apapun yang bisa kita bahas. Semua jam pelajaran hari ini kosong karena baru saja masuk hari pertama dan kejadian itu sudah biasa terjadi di sekolah ini. Beberapa murid yang berlari dan bercanda bersama teman-temannya menambah riuh sekolah ini.
Tidak berselang lama aku mendengar suara Reynaldi yang tengah berteriak. Apa dia mencari ku? pikirku dangkal.
Aku melihat Reymond memunculkan kepalanya saja dan sesekali melihat setiap wanita yang ada di kelasku. Aku tau dia mencariku. Sorot mataku langsung tertuju pada buku pelajaran yang tergeletak di atas meja kuraih dengan cepat untuk menutupi seluruh wajahku.
"Ada apa Gisa?" tanya Tifa bingung. Dia kemudian memandang kearah pintu dan cukup mengerti kenapa aku bersikap seperti ini.
"Kau menghindari dia?" tanyanya lagi. Aku menganggukkan kepala tanda setuju. Dia kemudian mencondongkan tubuhnya dan sedikit memajukan meja miliknya untuk berusaha menutupiku dengan tubuh mungilnya.
jarak pintu dan bangku yang aku duduki cukup jauh jadi Reymond bisa saja tidak melihatnya. Reymond sepertinya menyerah untuk mencariku di kelas ini. Dia kemudian pergi dengan teman-teman untuk mencariku lagi ke kelas lain.
"Dia sudah pergi," ucap Tifa antusias. "Huh" jawabku lega, aku sudah panik jika dia menemukan ku disini.
"Dia sering merundungmu?" tanya Tifa penasaran.