Blue Sky

Blue Sky
Revenge



Ruangan itu hening sekali. Sudah Dua jam berlalu dan tidak Ada suara apapun di Sana. Hanya Ada beberapa Kali helaan nafas berat dari wanita yang usianya sudah Ada di kepala empat.


Eleanor juga tidak biasanya duduk dengan tenang. Ia hanya menatap lantai seolah sedang merenung. Menikmati kesunyian ruang ini meskipun pantatnya terasa panas karena duduk di kursi kayu terlalu lama.


"Apa yang harus Kita lakukan?"


Itu adalah ucapan pertama But Esme sejak mereka masuk ke ruangan ini. Kali ini, Eleanor mengangkat kepalanya sedikit. Menatap wajah putus asa kepala akademinya itu.


Bahkan gadis secuek Eleanor pun tahu kenapa But Esme seperti itu. Meskipun kejadian di malam pesta adalah sebuah kecelakaan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa itu adalah hal Paling memalukan sepanjang sejarah akademi ini. Mungkin juga bagi para wanita yang terlahir di negeri ini.


Kali ini Eleanor mengaku bersalah. Lagipula dia juga sudah ketahuan memasuki pemandian terlarang, serta datang terlambat ke pesta. Dia sudah tidak punya alasan berkelit.


"Bagaimana jika tidak Ada yang mau meminangmu?"


But Esme bicara dengan nada khawatir campur putus asa.


Biasanya Eleanor juga Akan membantah pernyataan semacam itu. Tetapi Kali ini dia benar-benar mengunci rapat mulutnya. Walau dalam hati dia memikirkan tentang rencananya untuk kabur dari sini. Sehingga tidak diminati oleh pria bukanlah ide buruk baginya.


"Brakk!!"


Suara meja digebrak mengagetkan Eleanor.


"Kenapa kau kelihatan senang sekali? Kau masih bisa tersenyum dalam situasi seperti ini?!"


Bu Esme menangkap basah Eleanor yang kelepasan tersenyum memikirkan rencananya.


Eleanor meneguk ludah pahit. Dia melihat bahwa kesunyian Dua jam yang baru dijalaninya Akan berubah menjadi sebuah hukuman berat yang Tak terbayangkan olehnya.


*****


Rory memeriksa Luka di lehernya di cermin. Meski sudah kering, namun bekas cakaran sepanjang Lima senti itu masih terlihat jelas.


Amarah Rory yang sudah mereda pun kembali Naik. Dia melempar cermin di tangannya dengan keras hingga pecah berkeping-keping. Membuat para pelayan yang sedang berada di kamarnya ketakutan.


"Aku pasti akan membunuhnya jika bertemu lagi," rutuk Rory dengan geram. Dia tidak bisa melupakan perbuatan Eleanor padanya.


Bukan hanya bekas cakaran itu. Masih Ada beberapa Luka lebam lain di bagian tubuh Rory lainnya. Dia bahkan masih merasa nyeri saat tidak berhati-hati menggerakkan tubuhnya. Rory benar-benar merasa habis diserang binatang buas.


"Yang Mulia, sebenarnya siapa yang sudah berani melukai Anda seperti ini?" tanya Nuu. Dia sudah bertanya berulang kali sejak melihat Luka di tubuh Rory. Namun tidak mendapat jawaban.


Tentu saja Rory tidak Akan berani menceritakan penyerangan yang dilakukan Eleanor padanya. Itu sama saja dia membuka aibnya sendiri. Bahwa dia dipukul karena ketahuan mengintip gadis Mandi.


Nuu menyadari bahwa Rory tidak Ada niatan menjawab pertanyaannya, sehingga ia mengalihkan pembicaraan.


"Apa perlu memanggil dokter untuk memeriksanya?"


Rory yang amarahnya telah memuncak dan membutuhkan pelampiasan, mengusir Nuu dan pelayan lain.


"Keluar! Kalian semua keluar!!!"


"Yang Mulia.."


"Keluar!!!" Bentak Rory dengan nada tinggi.


Akhirnya seluruh pelayan di kamar Rory keluar. Mereka tahu seburuk apa kepribadian pangeran itu saat sedang marah.


Setelah hanya ditinggalkan sendirian, Rory mulai mengamuk. Dia melemparkan barang-barang di kamarnya sambil terus mengutuk Eleanor. Seumur hidupnya tidak pernah Ada yang mempermalukannya seperti ini. Dia adalah anak tunggal raja, sehingga hidup dimanjakan Dan dipuja semua orang. Lebih sakit hati lagi, gadis itu memberikan Luka padanya. Bahkan orang tuanya saja tidak pernah memukulnya.


Suara pintu dibuka menghentikan amukan Rory. Namun dia kembali berteriak kesal.


"Sudah ku bilang agar Kalian keluar!"


Rory mengira bahwa itu Nuu atau pelayan lain yang masuk.


"Jadi, aku juga tidak boleh masuk?"


Rory Kali ini benar-benar berhenti saat tahu bahwa yang masuk adalah Crow, sahabatnya.


****


Crow tertawa keras Setelah mendengar cerita Rory. Padahal dia kesini hanya untuk menanyakan kenapa Rory mendadak menghilang di tengah pesta. Melewatkan acara utama dansa. Tetapi dia malah mendengar sebuah cerita yang sangat memalukan.


Rory hanya memasang wajah cemberut. Meski malu, dia cukup lega akhirnya bisa mengatakan kejadian yang menimpanya.


"Siapapun dia, aku pasti Akan membuatnya menyesal sudah melakukan ini padaku," umpat Rory.


"Ah, aku jadi ingat kalau ada kejadian memalukan malam itu Setelah kau pergi"


"Kejadian apa?"


Crow kemudian menceritakan kecelakaan di saat acara dansa dimulai. Saat seorang gadis yang tak lain adalah Eleanor jatuh terjengkang dengan sepatu yang terlempar.


Kali ini gantian Rory yang tertawa. Dia tidak bisa membayangkan betapa malunya gadis itu. Meskipun dia tidak tahu bahwa ini adalah gadis yang sama dengan yang membuatnya terluka.


"Sayang sekali, padahal dia gadis yang sangat cantik. Jika tidak Ada kejadian itu, mungkin aku Akan meminangnya. Saat ini dia jadi bahan olokan di semua tempat," ujar Crow. Dia memang terpesona pada kecantikan Eleanor malam itu.


"Ah, aku jadi ingat. Sebenarnya aku kemari untuk mengantarkan ini"


Crow kemudian menyerahkan sebuah buku tebal dari dalam tasnya pada Rory. Buku tebal itu memiliki tulisan "White Moon" di sampulnya. Ada juga keterangan tahun di bawahnya yang menunjuk pada tahun ini.


Rory segera membuka buku itu. Isinya seperti buku tahunan berisi informasi para siswi di akademi White moon. Ada foto, informasi pribadi hingga kemampuan berdasarkan penilaian akademi. Singkatnya, itu adalah katalog yang diberikan pada pria yang tahun ini diharuskan memilih calon istri dari White Moon.


Rory membuka lembar Demi lembar buku itu. Dia sebenarnya tidak berminat pada isi buku itu. Dia belum memikirkan pernikahan. Serta Tidak Ada gadis yang ia inginkan. Lagipula Setelah kejadian dengan Eleanor, dia sedikit trauma pada gadis dari akademi White moon.


"Apa kau sudah memilih seseorang?" Tanya Rory.


"Ya, Ada seorang gadis yang cukup berprestasi di akademi itu. Aku mungkin memilihnya. Tapi, semua orang lebih penasaran pada siapa gadis yang Akan kau pilih. Dia Akan menjadi calon ratu negeri ini"


"Hm.. aku tidak tertarik pada sia--"


Ucapan Rory terhenti saat ia sedang membuka sebuah halaman dari buku itu. Matanya terpaku pada foto di Sana. Lalu ia tersenyum, sepertinya ia tahu cara melampiaskan amarahnya ini.


****


Seminggu telah berlalu sejak pesta. Sama halnya dengan akademi Blue Moon, di White Moon juga mengadakan acara kelulusan. Namun kriteria Lulus di akademi ini cukup unik. Yaitu mereka akan dinyatakan Lulus saat Ada pria meminang mereka. Dan proses kelulusan itu dinamakan "Hari Pemilihan".


Setelah buku tahunan dibagikan pada acara pesta minggu lalu, saatnya para pria memilih gadis idaman berdasarkan informasi dari buku dan pertemuan saat pesta. Mereka kemudian Akan mengirimkan utusan yang membacakan nama gadis yang dipinang pada Hari Pemilihan. Jika ada dua pria atau lebih memilih satu gadis yang sama, maka yang memiliki status lebih tinggi yang Akan menang.


Sementara para gadis yang bersiap lulus duduk berbaris menghadap pada para utusan. berharap cemas nama mereka Akan dipanggil.


Hari itu semakin meriah karena Ada urusan dari istana. Artinya, putra mahkota juga telah menetapkan Akan meminang seseorang dari akademi ini. Jadi para gadis semakin berharap mereka yang dipilih. Menjadi seorang ratu, tentu adalah impian semua gadis.


Kecuali Eleanor tentunya. Jangankan pangeran, dia yakin Hari ini tidak Ada yang Akan menyebut namanya. Setelah kejadian memalukan yang menimpanya, siapa yang cukup gila untuk memintanya menjadi istri.


"Apa pangeran akan memilih Elina?" Bisik Ella yang duduk di samping Eleanor.


Eleanor melirik ke arah Elina. Gadis itu memang punya peluang Paling besar. Dia adalah gadis terbaik di angkatannya. Nilainya selalu tinggi dan tidak pernah bermasalah. Apalagi dia tampak percaya diri sekali Hari ini.


"Aku malah berharap kau yang dipilih. Kau akan menjadi ratu yang lebih baik dari gadis bermuka Dua sepertinya," jawab Eleanor.


"Itu tidak mungkin. Aku bahkan belum memperkenalkan diriku pada pangeran karena tidak berani mendekat padanya saat pesta"


Mendadak Eleanor jadi ingat kejadian menyebalkan dengan Rory di kolam. Harusnya dia tidak mengharapkan Ella yang dipilih. Dia tidak rela temannya yang baik hati ini harus menjadi istri dari seorang tiran seperti Rory.


Obrolan mereka berhenti saat But Esme masuk ke dalam ruangan. Dia memulai Hari Pemilihan ini dengan sambutannya. Setelah itu ia mempersilahkan para utusan bergantian menyebutkan nama para gadis.


Nama Elina adalah yang pertama disebut. Dia dipinang oleh putra perdana menteri. Suara tepuk tangan langsung terdengar di ruangan itu. Kemudian berlanjut dengan nama-nama lainnya.


Eleanor tidak terlalu memperhatikan. Dia sudah menduga namanya tidak akan disebut. Dia sampai terkantuk-kantuk di kursinya. Satu-satunya tepuk tangan yang ia berikan hanya untuk Ella yang dipinang oleh anak seorang saudagar Kaya. 


Eleanor berharap acara ini segera berakhir. Dia ingin segera kembali ke kamar dan tidur. Semalam dia habis begadang membaca buku kesukaannya.


"...anor"


Samar-samar terdengar di telinga Eleanor seolah Ada yang memanggilnya. Hingga ia merasakan Ella sedang menyikutnya.


"Ada apa?" Tanya Eleanor heran.


Ella tidak menjawab dan menyuruh Eleanor melihat ke depan. Saat itu ia baru sadar jika semua mata sedang melihat ke arahnya.


"Pangeran Rory Moonlight putra dari Raja Drisvod Moonlight telah memilih Eleanor"


Biasanya saat nama seseorang disebut, suara tepuk tangan akan  terdengar. Namun saat itu ruangan hening, sunyi sekali. Semua orang mungkin terkejut. Seperti halnya Eleanor yang merasa bahwa telinganya pasti salah dengar.


Siapa yang memilihnya?