
*Defined by no man, you are your own story,
Blazing through the world, turning the story into herstory,
And when they dare to tell you about
All the things you cannot be,
You smile and tell them,
"I am both war and woman, and you cannot stop me*"
- "An Ode to Fearless Woman" by Nikita Gill -
-------------------------------------
"Bugh..."
"Agh...!"
Dua suara itu terdengar berlomba. Suara pukulan tongkat pemukul setebal 1 cm dan suara jeritan seorang gadis yang mengaduh kesakitan. Meskipun kakinya telah dilapisi dengan kaus kaki tebal agar pukulannya tidak membekas.
"Apa kau sudah tahu di mana letak kesalahanmu sekarang?!"
Suara bentakan itu menggema di ruangan berukuran 3x3 meter itu. Untung karena didesain sedemikian rupa, dindingnya tidak membiarkan suaranya terdengar sampai luar.
"Tidak," jawab gadis itu sambil nyengir. Seolah pukulan yang diterimanya tidak memberi rasa jera.
Wanita tua dengan kaca Mata bulat itu memegang erat-erat tongkat di tangannya. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Baginya, ini hanya membuang tenaga. Tangannya sudah kuyu karena mengayunkan tongkat itu berkali-kali, namun gadis di depannya sudah kebal pada rasa sakit.
Mungkin ia sudah terlalu tua untuk melakukan ini. Helaan nafas besar keluar sebagai bentuk keluhannya. Ia tahu, Ada yang salah pada metode hukumannya. Jadi dia segera menggantinya.
"Kau tidak dapat makan malam"
Tetapi sama seperti sebelumnya, gadis itu masih bisa menunjukkan senyumnya.
****
Namanya Eleanor. Punya rambut ikal yang panjang dan dikuncir rapi. Tubuhnya sangat lincah, bergerak kesana kemari tanpa lelah. Berbanding lurus dengan senyuman manis yang terpasang terus di wajahnya.
Namun pada satu waktu, ekspresi wajahnya Akan berubah murung. Seolah sedang menahan beban sebesar dunia ini di dadanya. Saat itu adalah ketika dia menatap langit seperti saat ini. Eleanor selalu penasaran, apakah langit yang dilihatnya itu nyata atau tidak.
"Apa kau dihukum lagi?"
Sebuah pertanyaan bersamaan dengan tepukan di bahu membuyarkan lamunanku Eleanor.
Ekspresi murungnya langsung berubah saat melihat temannya yang memiliki pipi tembem, Ella. Tawa cekikikan langsung keluar dari mulutnya.
"Ternyata lubang di dinding sebelah utara hanya sebesar ini. Tubuhku tidak muat masuk ke dalamnya"
Ujar Eleanor sambil memeragakan lubang yang pernah dilihatnya dengan kedua tangannya.
Ella berdecak heran. Eleanor tidak pernah jera dengan eksperimen bodohnya itu. Dia adalah alasan tempat ini memperketat penjagaan, terutama ketika hari libur. Karena Eleanor selalu mencari cara untuk keluar, meskipun itu adalah hal Paling dilarang di sini.
Ella mengintip kaki Eleanor. Dia tahu sahabatnya itu pasti merasa nyeri di Sana, tetapi tidak pernah menyebutkannya. Jadi dia bahkan tidak bisa menghibur.
Suara lonceng terdengar, berbunyi tiga Kali. Ini artinya mereka harus segera kembali ke asrama dan mandi. Mereka tidak boleh terlambat untuk makan malam bahkan bagi Eleanor yang tidak dapat jatah malam ini. Ella pun segera menarik lengan Eleanor.
Saat berlari pergi, Eleanor masih sempat mengintip langit yang dilihatnya tadi. Aneh, warnanya abu-abu kusam. Padahal buku yang dibacanya selalu menggambarkan bahwa langit itu berwarna biru.
****
Eleanor menatap bosan pada pemandangan di depannya. Meskipun ada puluhan orang di ruangan itu, mereka nampak seperti manusia kloning.
Semua gadis memiliki usia sepantaran dengannya. Semua memakai terusan panjang berwarna putih yang sama dengan miliknya. Bahkan panjang rambut mereka pun sama. Eleanor yakin, gadis-gadis di depannya juga berbicara dan bertingkah dengan Cara yang sama.
Membosankan.
Eleanor selalu berpikir begitu tentang tempat ini, Akademi White Moon. Di sini tempat para gadis dididik, lebih tepatnya diproduksi menurut Eleanor.
Mereka dipaksa mempelajari hal-hal yang telah ditentukan. Cara bersikap, dari bangun sampai tidur telah ditentukan juga. Semua telah ditetapkan oleh akademi ini. Dari yang selalu diucapkan kepala akademi, semua ini agar mereka bisa menjadi wanita yang sempurna.
Eleanor tidak ingat sejak kapan ia berada di sini. Ia bahkan tidak memiliki ingatan mengenai keluarganya. Sejak ia mulai membuka Mata, akademi inilah yang ia lihat, Dan itu tidak pernah berubah hingga 16 tahun hidupnya.
Mereka tidak pernah diijinkan keluar. Dinding setinggi lebih dari 10 meter telah dibangun mengelilingi akademi. Bahkan saking luasnya akademi ini, butuh waktu dua jam berlari untuk mencapai gerbang utama. Namun penjaga juga ditempatkan di setiap sudut, menjadikan mustahil mendekati dinding itu. Eleanor beberapa kali berhasil mencapainya, dan ia selalu ketahuan hingga selalu mendapatkan hukuman.
Karena itu Eleanor menyebut akademi ini sebagai tempat produksi. Dia dan teman-temannya Tak ubahnya buah yang dibesarkan agar siap dipetik saat matang. Eleanor tak menginginkannya.
Dia merasa telah terkurung selama belasan tahun di sini. Pernikahan hanya akan mengurungnya lebih lama. Seumur hidup tentunya. Padahal ia ingin melihat dunia luar. Ia ingin mendatangi tempat baru yang belum pernah dilihatnya. Ia ingin menjalani hidupnya dengan kebebasan.
Karena itulah Eleanor berusaha keras mencari jalan keluar dari tempat ini. Meski harus berkali-kali mendapatkan hukuman.
"Tang!"
Suara benda logam jatuh membuyarkan lamunan Eleanor. Dia baru sadar jika sudah air yang menetes dari mejanya ke pahanya.
"Ah!" jerit Eleanor. Dia segera berdiri untuk membersihkan pakaiannya.
"Maaf, tanganku licin dan gelasnya langsung jatuh"
Seseorang sudah mendekat hendak membantu Eleanor membersihkan pakaiannya.
"Tidak a--" ucapan Eleanor terputus saat melihat siapa yang telah menjatuhkan gelas itu.
Elina, si gadis yang memiliki warna rambut dan mata paling persis dengan miliknya. Yang juga selalu berusaha menjahilinya seolah menyimpan dendam kesumat. Kejadian kali ini pun terlihat disengaja, karena gadis itu sedang nyengir meledek.
Eleanor tersenyum, lalu tanpa basa basi menjambak rambut ikal Elina yang terurai hingga gadis itu menjerit kesakitan.
"Sepertinya tanganku tersangkut di rambutmu dengan tidak sengaja," ujar Eleanor sambil tertawa keras.
Ruangan itu mendadak heboh. Para gadis lain mulai merubung mereka dengan panik. Namun tidak satupun berani memisahkan karena takut pada Eleanor. Gadis itu terkenal Paling bandel dan kasar. Akhirnya hanya suara jeritan bersahutan yang terdengar di ruangan itu, berlomba dengan tangisan Elina.
Suara itu baru berhenti setelah sebuah teriakan terdengar.
"Eleanor...!!!"
*****
Eleanor merasakan tangannya mulai kesemutan dan pegal. Ingin sekali ia menurunkan Dua ember yang sekarang membebani lengannya. Kakinya pun sama. Berdiri selama satu jam sudah cukup membuat mati rasa.
Terlebih omelan Bu Esme, kepala akademinya yang tak ada hentinya. Telinganya sampai berdengung.
"Kenapa kau berlaku begitu kasar pada Elina?!" bentak Bu Esme.
"Anda sudah menanyakan itu lima kali dan Saya sudah menjawabnya dengan hal yang sama, Elina yang lebih dulu berbuat jahil," protes Eleanor.
Wajah Bu Esme langsung merah karena malu. Eleanor memang selalu berani mementahkan segala ucapannya. Padahal dia berkali-kali menanyakan itu agar Eleanor segera mengakui kesalahannya.
"Kau itu, kenapa susah sekali mengaku salah? Jika kau mau minta maaf pada Elina, kau tidak perlu menjalani hukuman sep--"
Belum selesai Bu Esme bicara, dia sudah terjengit kaget saat Eleanor tiba-tiba membanting kaleng di tangannya. Karena terbuat dari besi, suaranya nyaring terdengar saat membentur lantai. Memecah kesunyian malam itu.
Bu Esme segera mengelus dadanya karena hampir saja terkena serangan jantung.
"Aku tidak akan pernah minta maaf padanya!"
Bu Esme menatap ekspresi sebal di wajah Eleanor, dan tahu apapun ucapannya tidak akan mengubah gadis itu.
Bu Esme tahu, bahwa Eleanor adalah anak yang berbeda. Baik wajah dan pemikirannya.
Jika dilihat dari luar, Eleanor terlihat seperti boneka. Matanya yang bulat, pipinya yang kemerahan, rambutnya yang ikal dan halus, serta kulit yang semulus porselen. Namun dia adalah gadis paling pemberontak. Hatinya dipenuhi keinginan untuk bebas. Dia suka berbuat sesuka hati dan selalu menentang aturan.
Bu Esme tahu, itu membuat Eleanor terlihat paling "hidup" di antara murid lainnya.
Bu Esme menghela nafas panjang, lalu mendekat pada Eleanor. Dia memegang kedua lengan gadis itu dan menatapnya dalam-dalam.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Jika kau terus seperti ini, kau mungkin tidak akan pernah menemukan pria yang ingin menikahimu"
"Aku memang tidak ingin menikah," jawab Eleanor tegas. Matanya menatap tak gentar pada Bu Esme. Berkilat-kilat penuh semangat.
"Lalu, apa kau ingin menua di tempat ini?"
"Tidak. Aku akan keluar dari tempat ini dan pergi berpetualang melihat dunia luar"
"Apa kau tidak tahu betapa menakutkannya dunia luar? Di Sana gelap, tempat para bandit berkeliaran, tidak Ada tempat bagi gadis sepertimu"
Eleanor terdiam. Dia selalu mendengar hal itu. Dia tahu alasan lain mengapa akademi ada adalah untuk melindungi gadis lemah sepertinya. Di sini mereka mendapatkan semua yang mereka butuhkan. Karena tidak ada kehidupan yang layak di luar Sana.
Meskipun begitu, Eleanor tetap ingin melihat dunia di balik dinding tinggi akademi. Dan itu yang diucapkannya pada Bu Esme untuk membuat kepala akademi itu berhenti mencoba mengubah pemikirannya.