Blue Sky

Blue Sky
Quarrel



Sedang terjadi kegaduhan di akademi White Moon. Tempat itu tak ubahnya medan perang hanya karena sebuah pesta. Para gadis berebut gaun terbaik, aksesoris tercantik, mereka yang biasanya lembut menjadi beringas. Tidak peduli harus menjegal siapa agar bisa menjadi yang terbaik malam ini. Seolah hidup mereka bergantung pada gaun dan aksesorisnya.


Mungkin hanya Eleanor yang sama sekali tidak terpengaruh. Bahkan ketika para temannya berebut kamar Mandi, dia malah asyik memberi makan burung-burung di taman belakang. Dia bahkan mencuri roti itu dari dapur karena tidak dapat jatah makan. Hari ini para gadis harus menjalani diet agar terlihat cantik nanti malam. Hal yang lucu menurut Eleanor. Kurus bukanlah standar kecantikan baginya.


Eleanor menatap langit Hari ini. Cerah, dan indah sekali. Dia yakin malam ini bulan pasti Akan bersinar terang. Eleanor sungguh iri pada burung-burung yang sedang memakan remahan darinya. Mereka bisa terbang bebas, dekat dengan langit. Melewati batas dinding akademi ini dengan mudah. Mungkin saja jika Eleanor diberi kesempatan memilih, dia akan meminta terlahir sebagai burung. Memiliki sayapnya sendiri untuk melintasi langit.


Eleanor berbesar hati untuk itu. Dia sudah menyiapkan rencana untuk bisa menjadi burung-burung itu. Dia hanya perlu kabur akhir minggu ini. Saat itu, para tetua akademi akan disibukkan oleh acara tahunan. Dan kesempatan emas bagi Eleanor kabur tanpa ketahuan.


Entah berapa lama Eleanor melamun di Sana, yang jelas dia mendengar suara lonceng pertanda para gadis harus kembali ke asrama berbunyi. Eleanor baru sadar jika langit telah perlahan berubah warnanya menjadi jingga keemasan.


Cepat-cepat Eleanor beranjak dari tempatnya. Bel tadi menandakan bahwa kamar Mandi telah ditutup, padahal dia belum Mandi. Jika dia tidak menghadiri pesta ini, Eleanor yakin akan dikurung berhari-hari di gudang. Artinya, rencananya untuk kabur dari akademi ini bisa terhambat.


Dugaan Eleanor benar. Pintu ke ruang Mandi sudah terkunci rapat. Semua orang juga sudah tidak Ada di Sana. Tapi Eleanor juga tidak bisa kembali ke asrama seperti ini. Hidung para gurunya cukup tajam untuk mengenali bau tubuh para gadis yang belum Mandi karena sabun khusus yang dipakai di sini berbau tajam.


Eleanor tidak kehabisan akal. Dia hanya perlu air untuk Mandi, tidak peduli di manapun tempatnya. Maka tempat lain yang bisa ia tuju adalah toilet. Setidaknya Ada sumber air di Sana.


Letak ruangan yang berisi toilet terpisah dengan ruang Mandi. Di antara kedua ruangan itu dibatasi oleh ruangan yang berisi sebuah kolam. Biasanya kolam itu digunakan untuk ritual khusus oleh akademi. Sebenarnya Eleanor tidak boleh masuk ke Sana, apalagi sampai Mandi di kolam itu.


Konon katanya, kolam itu hanya digunakan oleh gadis yang dipilih menjadi ratu. Untuk menyucikannya sebelum masuk ke istana, gadis yang terpilih harus dimandikan lebih dulu di tempat itu. Tapi Eleanor Masa bodoh dengan Hal itu.


Kebetulan tempat itu sedang sepi.


Eleanor langsung masuk ke kolam. Anehnya, air di kolam itu terasa hangat dan sejuk di saat yang bersamaan. Eleanor merasakan rasa pegal di tubuhnya langsung hilang. Airnya juga mengeluarkan aroma harum seperti campuran berbagai bunga. Rasa nyaman itu membuatnya lupa, bahwa dia harus segera pergi dari Sana.


Atap di atas kolam itu terbuat dari kaca, memperlihatkan dengan jelas langit di luar Sana. Eleanor baru tahu, bahwa di sana adalah tempat yang memperlihatkan langit Paling jelas dibandingkan tempat lainnya di seluruh akademi ini.


Bulan malam itu sangat indah. Cahayanya menembus kaca-kaca dan membuat air terlihat berkilau seperti berlian. Tanpa sadar, Eleanor menyanyi. Ada sebuah lagu tentang keindahan bulan yang selalu dinyanyikan kepala asrama saat ia kecil. Dan ia menyanyikannya. Tanpa peduli seseorang mungkin mendengarnya.


*When the dark is coming, I wandering around


Afraid to be lost, and fall on the ground


Then I find the light, hugging the dark


So round and shinning,


Between the starry night, the moon is coming


Makes me fall in its arm, loving the loneliness


Giving me the bravery to walk through the dark again.


Oh, moon... Love your color and your warm shine*


Suara Eleanor memecah keheningan di ruangan itu. Sudah lama ia Tak menyanyi seriang ini.


Namun akhirnya ia menyadari bahwa tidak sedang sendirian. Ada orang lain di sini. Eleanor segera merapatkan handuk di tubuhnya saat mengetahui bahwa yang sedang di Sana seorang pria.


Untuk sesaat Eleanor terhipnotis. Mata anak laki-laki itu memiliki warna yang sama dengan langit yang dikaguminya. Begitu indah dan penuh kebebasan.


Namun karena dia memandangnya tanpa berkedip, Eleanor yakin bahwa anak laki-laki itu hanyalah orang mesum. Dia segera meraih kaleng di dekat kakinya lalu melemparnya tanpa ampun pada anak laki-laki itu. Hingga tepat mengenai bahu Dan lengan kirinya.


Anak laki-laki yang Tak lain adalah Rory itu terkejut. Lalu seolah baru tersadar akan apa yang terjadi, dia bertanya pada Eleanor.


"Apa yang kau lakukan?"


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau pikirkan saat mengintip seorang gadis yang sedang Mandi" tanya Eleanor dengan sengit.


Rory seolah baru sadar dengan situasi mereka. Ia segera membalikkan badannya. Ia malu setengah mati. Namun entah kenapa, harga dirinya menolak meminta maaf.


"Kau ini sedang melucu atau bagaimana? Ini bahkan bukan jalan utama, bagaimana kau bisa kebetulan lewat sini?"


"Aku--"


"Kau orang mesum ya?"


Telinga Rory langsung panas mendengar tuduhan Eleanor. Seumur hidup tidak pernah Ada yang bicara dengan nada menantang seperti itu padanya. Dipanggil mesum telah melukai harga diri Dan reputasinya. Belum lagi Eleanor tadi sudah melemparnya dengan kaleng yang rasanya sakit sampai sekarang.


Rory membuang Rasa malunya dan kembali menghadap ke arah Eleanor. Dirinya sudah diliputi amarah untuk bisa melihat Mata Ruby yang telah membuat jantungnya berdebar.


"Berani sekali kau menyebutku begitu. Aku ini adalah Rory Moonlight, putra mahkota dari negeri ini. Aku bisa menghukummu atas ucapanmu yang tidak sopan itu"


Rory yakin Eleanor Akan segera  berlutut memohon ampun padanya saat mendengar namanya disebut.


Sebaliknya, Eleanor justru berkacak pinggang dengan pongah di depannya.


"Baiklah, aku tidak keberatan kau menghukumku, tapi aku Akan mengatakan pada semua orang perbuatanmu ini. Biar semua orang tahu, kalau putra mahkota yang mereka puja adalah tukang intip," ledek Eleanor sambil tertawa.


Hati Rory Makin panas. Dia tidak pernah dipermalukan seperti ini. Dengan langkahnya yang lebar, dia menghampiri Eleanor. Hanya dalam beberapa detik, hanya sejengkal jarak di antara mereka.


Tawa Eleanor otomatis terhenti. Dia cukup terkejut saat Rory tiba-tiba sudah di depannya.


Eleanor tidak pernah melihat pria sebelumnya. Tepatnya, yang seumuran dengannya. Badan yang lebih tinggi darinya. Tatapan tegas dan tajam, aroma maskulin yang asing. Apalagi saat Rory menarik tubuhnya untuk mendekat padanya. Ia bisa merasakan dari lengan yang terlihat kurus itu ternyata tersimpan otot-otot yang kuat.


Aneh sekali. Seperti Ada sengatan listrik mengalir di tubuh Eleanor. Dia tidak tahu jika anak laki-laki di depannya ini ternyata cukup menawan.


Namun, akal sehat Eleanor segera kembali. Ia menyadari Rory berani menyentuh dirinya. Maka tanpa basa basi, kebrutalan Eleanor muncul. Dia segera memukul, mencakar Rory hingga pangeran yang begitu dihormati itu menjerit kesakitan. Meski dengan tubuhnya yang lebih besar, Rory tidak bisa menahan kekuatan Eleanor.


"Apa Ada orang di Sana?"


Terdengar panggilan dari luar, menghentikan pergulatan antara Rory dan Eleanor.


Dari suaranya, Eleanor langsung mengenali bahwa itu suara But Esme. Dia benar-benar Akan mendapat masalah besar jika ketahuan berada di ruangan ini.


Rory sendiri juga langsung memucat. Dia tidak bisa bayangkan betapa malunya jika ketahuan berada di tempat Mandi wanita. Maka, Eleanor dan Rory akhirnya sepakat saling membantu Kali ini.


*****


Eleanor memakai gaunnya dengan terburu-buru. Dia bahkan hanya menyisir rambut sekedarnya. Sudah tidak Ada waktu berlama-lama, dia harus segera pergi ke hall tempat pesta.


Meskipun nafasnya masih terengah-engah karena berlarian saat Kabur dari kolam Mandi, Eleanor harus kembali berlari. Dia menyusuri lorong-lorong panjang yang menghubungkan gedung asramanya dengan tempat pesta.


Eleanor benci dengan gaun panjang yang menyapu lantai. Dia kesulitan mengangkatnya agar tidak terinjak. Belum lagi sepatu Hak tinggi yang juga mengganggu kakinya. Dia akhirnya melepaskan sepatunya dan membawanya di satu tangannya.


Entah berapa banyak aturan yang sudah Eleanor langgar Hari ini. Tetapi asalkan dia tidak ketahuan.


Eleanor sampai di depan pintu hall. Terdengar dari balik pintu itu, suara musik mengalun. Sepertinya dansa telah dimulai.


Eleanor tidak langsung masuk. Dia hendak mengatur nafasnya yang ngos ngosan. Lalu kembali memakai sepatunya dan masuk dengan anggun tanpa mengundang kecurigaan. Begitulah yang direncanakan Eleanor.


Namun sialnya, kaki Eleanor menginjak bagian bawah gaunnya. Ia jatuh terjengkang. kepalanya menyundul pintu yang memang setengah terbuka hingga terbuka lebar. Eleanor langsung jatuh tengkurap dengan wajah mencium lantai. Sandal di tangannya juga terlepas hingga menimbulkan bunyi nyaring.


Eleanor sungguh masuk dengan luar biasa. Kedatangannya mampu menghentikan aktivitas semua orang. Menyela tari dansa yang baru Saja dimulai.


Eleanor telah membuat sejarah baru Paling memalukan di akademi White Moon. Sama halnya dengan sejarah baru seorang putra mahkota dituduh sebagai tukang intip.