
Eating fire is your ambition
To swallow the flame down
Take it into your mouth
And shoot it forth, a short or an incandescent tongue, a word
Exploding from you in gold, crimson
Unrolling in brilliant scroll
To be lit up from within
Vein by vein
** "To be the sun" by Margaret Atwood **
------------------------------------
Rory mengubah posisi duduknya. Ini sudah yang ke-5 kalinya selama sepuluh menit terakhir. Kali ini dia menopang dagunya sambil menggoyangkan kakinya. Namun sepertinya para pelayannya tidak menyadari tatapan bosan di matanya.
"Yang Mulia, ini adalah hadiah dari menteri keuangan"
Pelayan Rory menunjukkan kotak yang di dalamnya dipenuhi dengan koin emas dan kain sutra.
"Ini dari gubernur wilayah Selatan"
Pelayan lainnya juga membuka peti yang di dalamnya berisi bongkahan berlian yang belum diasah dengan berbagai warna. Wilayah Selatan memang tempat tambang Batu mulia berada.
Rory tahu, peti-peti lain yang isinya tidak akan jauh berbeda. Koin emas, permata, perhiasan, Kain sutra atau barang mewah lainnya. Sebagai putra mahkota tunggal dari kerajaan ini, ia terbiasa menerima hadiah-hadiah semacam itu saat berulang tahun.
Namun Rory juga tahu, bahwa di setiap peti itu juga terselip pesan yang ditujukan padanya. Semua orang itu berharap Rory tidak akan melupakan mereka. Mereka hanya menjilat padanya, agar bisa mendapat lebih banyak kekuasaan saat ia naik tahta nanti.
Karena itu Rory tidak pernah merasa terkesan.
Rory bangkit dari kursinya. Dia berjalan mendekat pada jendela. Langit Hari ini sangat cerah. Terbentang biru tanpa coretan awan putih.
Jika saja Ada yang bisa menghadiahkan langit untuknya. Karena kalau Ada yang membuatnya iri, itu adalah matahari. Berada di atas Sana, lebih tinggi darinya. Bersinar terang, dan terlihat Paling gagah di antara siapapun.
Rory bisa mendapatkan apapun di bumi. Ia tinggal mengucapkannya dan orang-orang akan membawakannya. Dia bisa menguasai tanah manapun yang ia mau, karena ayahnya yang memimpin Lunar, telah menaklukan semua negara lain untuk diwariskan padanya.
Namun, hanya langit yang tak bisa dijangkau oleh Rory.
*****
Suara genderang ditabuh berirama menandakan bahwa acara di aula itu telah dimulai. Pintu utama pun dibuka. Lalu masuklah barisan para siswa berseragam putih keluar dari Sana. Rory berjalan paling depan memimpin diikuti dengan teman seangkatannya. Wajah mereka terlihat penuh kebanggaan.
Suara tepuk tangan mengiringi langkah mereka. Tidak berhenti hingga semua orang di barisan itu telah duduk. Diikuti dengan para guru dan murid dari angkatan lain yang hadir menyaksikan.
Acara kelulusan akademi Blue Moon itu pun dilanjutkan dengan pidato kepala akademi. Rory yang menjadi lulusan terbaik tahun ini juga membacakan ucapan terima kasihnya.
Acara pun ditutup Setelah semua lulusan menerima plakat dan bunga dari para tamu lainnya. Namun itu bukan akhir bagi Rory. Dia adalah siswa paling populer di sini, sehingga banyak yang merubungnya hanya untuk mengucapkan selamat.
"Kau populer sekali," tukas Crow.
Rory hanya tersenyum. Menurutnya itu terdengar sebagai sarkasme. Crow juga murid yang populer. Dia anak perdana menteri, dan selalu menjadi saingan Rory di setiap pelajaran. Terlebih dibanding dirinya, Crow adalah pribadi yang ramah. Rory hanya terlihat lebih karena statusnya sebagai putra mahkota.
"Akhirnya Kita lulus juga"
Rory mengalihkan pembicaraan.
Saat ini mereka sedang berada di lantai teratas gedung ini. Dari sini mereka dapat melihat seluruh bagian akademi dengan jelas. Rory seolah mengenang hari-harinya saat belajar di akademi ini. Ia bisa melihat dirinya yang sedang berlatih keras di lapangan untuk bela diri. Atau dirinya yang selalu menyendiri di balik pepohonan untuk membaca. Sekarang semua itu tidak Akan lagi ia lakukan.
"Saatnya menghadapi dunia nyata, huh?" timpal Crow. Dia juga memikirkan hal yang sama dengan Rory saat menatap akademi.
"Aku penasaran kira-kira gadis seperti apa yang akan kau pinang dan menjadi ratu negeri ini?"
Tanya Crow setengah bercanda.
Rory mendengkus kesal, baru saja teringat dengan hal penting itu. Sudah tradisi jika mereka berusia 16 tahun dan lulus dari akademi, mereka harus memilih seorang gadis untuk dilamar. Hanya gadis yang berasal dari akademi White Moon. Bahkan sekarang Rory bisa melihat dinding akademi itu dari sini.
Masalahnya, Rory tidak tertarik pada hal itu. Pernikahan adalah formalitas di matanya. Dia tidak punya waktu memikirkan hal semacam cinta, itu hanya membuang waktu baginya.
Impian Rory dalam hidupnya, adalah menjadi seorang pria dan raja seperti ayahnya. Tidak Ada satupun leluhurnya yang memiliki pencapaian seperti ayahnya. Berhasil menundukkan semua wilayah pada kerajaannya. Untuk itu, Rory tidak memiliki waktu memikirkan hal lainnya. Dia harus menjadi seseorang yang pantas untuk mewarisi kursi tahta ayahnya.
Sehingga Rory tidak peduli siapapun yang akan mengenakan mahkota dan duduk di singgasana ratu nantinya. Gadis itu hanya perlu menjaga kehormatannya, tunduk padanya. Serta hanya perlu memainkan peran sebagai ratu dengan baik.
"Ku dengar bandit di wilayah Barat semakin besar jumlahnya"
Rory kembali mengubah topik pembicaraan. Baginya membicarakan urusan politik dan negara lebih menyenangkan baginya. Terutama dengan Crow, yang nantinya akan menjadi tangan kanannya.
****
Rory mengendap-endap di antara pepohonan halaman belakang. Sesekali dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, memeriksa jika ada yang melihatnya. Langkahnya baru berhenti saat ia telah menggapai salah satu sisi bangunan istana. Itu adalah ruangan minum teh milik ayahnya. Biasanya raja menjamu tamunya di sana. Rory kemudian duduk di bawah jendela besarnya.
Hari ini Raja Drisvod mengadakan pertemuan darurat dan memanggil semua pejabat tinggi di bidang pertahanan. Mereka akan membahas para bandit di wilayah barat yang mulai susah dikendalikan dan kini mulai bergerak menuju ibukota.
Memang, sejak penaklukan kerajaan Lunar pada wilayah lainnya mulai muncul banyak masalah. Mereka yang kalah perang, mulai membuat kelompok bandit untuk bertahan hidup. Mereka merampok, membunuh, dan menjarah. Namun sebagian yang jumlahnya semakin besar juga memulai gerakan pemberontakan. Berapa kalipun ditumpas kelompok semacam ini terus saja muncul.
Rory ingin sekali dilibatkan dalam pembicaraan ini. Namun ayahnya melarang. Sehingga yang bisa dilakukan Rory adalah menguping di sini.
Belum sempat ia mendengarkan sesuatu, seseorang sudah menepuk bahunya. Dia menoleh dan terkejut karena pelayannya, Nuu sudah duduk di sampingnya.
"Yang Mulia, Mari Kita kembali," ajak Nuu dengan tersenyum.
"Beri waktu aku sebentar saja," bujuk Rory.
Nuu kembali tersenyum, lalu sedetik kemudian berteriak kencang sekali. Hingga menarik perhatian orang-orang di ruangan.
Alhasil, Rory segera lari terbirit menjauh dari tempat itu. Ayahnya adalah orang yang keras, tidak akan memberikan toleransi pada siapapun yang berani melanggar ucapannya.
"Aku pasti akan membalasmu!" Rutuk Rory. Sementara Nuu yang berlari di belakangnya hanya tertawa.