Blue Sky

Blue Sky
Meet by Accident



Eleanor menatap hasil sulamannya. Dia merasa tidak Ada yang salah dengan hasil pekerjaannya. Namun guru kerajinannya mengembalikan itu bahkan sebelum dinilai. Alasannya tidak rapi dan penggunaan warna benang yang membosankan. Padahal beberapa Hari sebelumnya guru yang sama mengatakan bahwa mereka bebas memilih benang. Jadi Eleanor hanya memadukan tiga warna supaya lebih simpel dan cepat dikerjakan.


Eleanor merasa dirinya tidak salah. Harusnya guru itu memperjelas kata perintahnya, bahwa penilaian mengikuti jumlah warna yang dipakai.


Eleanor melemparkan hasil pekerjaannya itu ke dalam laci lalu keluar. Sudahlah, pikirnya. Lagipula dia tidak peduli dengan hal semacam penilaian. Tujuannya hanya satu, bisa segera keluar dari tempat ini.


Untuk tujuannya itu, Eleanor pergi ke kantin. Hari ini dia menawarkan diri membantu para tukang dapur. Namun bukan karena Eleanor gadis baik yang suka melakukan pekerjaan sukarelawan. Dia ingin mencari rute kaburnya yang baru.


Gudang persediaan makanan akademi terletak di bagian Paling belakang, mendekati dinding. Di Sana tidak Ada penjaga, dan para tukang dapur hanya pergi kesana di waktu tertentu.


Eleanor berkeliling memeriksa dinding. Ia berharap bisa menemukan lubang atau semacamnya. Namun, di Sana masih kokoh tanpa kerusakan sedikitpun. Dindingnya juga tidak memiliki pintu, karena semua pengiriman dilakukan melalui gerbang depan. Tidak Ada satupun pohon juga di Sana. Kalau Ada, dia bisa memanjatnya untuk melintasi dinding. Pengamanan akademi ini memang luar biasa. Sama ketatnya dengan penjara.


Mata Eleanor tertuju pada selokan yang terletak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Meski tidak terlalu besar, namun selokan itu terhubung pada sebuah lubang di dinding Karena memang biasanya digunakan sebagai pembuangan.


Eleanor segera menghampirinya lalu mengukur besaran lubang air. Dia lalu bersorak girang saat menemukan fakta bahwa lubang itu cukup besar untuk tubuhnya. Sepertinya dia telah menemukan rute kabur Paling aman. Sekarang masalahnya adalah air pembuangan di selokan itu. Eleanor tidak ingin terlempar bersama dengan air yang berbau aneh itu.


*****


Asrama malam itu terasa lebih ramai dari biasanya. Para gadis berebut cermin untuk memeriksa riasan Dan penampilan mereka. Ini adalah waktu terbaik untuk menunjukkan kecantikan Dan keanggunan mereka.


Para siswa yang baru Lulus dari akademi Blue Moon akan merayakan pesta di sini. Maka wajarlah jika gadis-gadis ini berlomba menarik perhatian mereka. Apalagi lulusan tahun ini dapat dibilang yang terbaik. Ada putra para bangsawan dan pejabat penting, termasuk putra mahkota.


Status seorang pria adalah hal penting dari pernikahan. Selain wajah rupawan dan kecerdasannya. Status lebih memikat bagi para gadis ini. Karena itu seperti jaminan bagi kehidupan mereka agar bisa menikmati kehidupan mewah dan dihormati di sisa hidup.


Lagipula pesta ini sendiri juga seperti ujian akhir bagi mereka. Saatnya para gadis ini menunjukkan hasil kerja keras mereka selama di akademi ini. Untuk pertama kalinya juga mereka Akan benar-benar bertemu sosok pria setelah bertahun-tahun hidup dengan para sesama gadis. Ini adalah hari terbaik bagi mereka.


Suara nyanyian riang para gadis terdengar dari tiap kamar asrama itu. Menghidupkan malam seperti lampu-lampu indah yang telah dipasang untuk menyambut para tamu.


Namun itu Tak berlaku bagi Ella. Dia memandang gelisah pada ranjang di sampingnya. Eleanor belum terlihat hingga sekarang padahal pesta akan segera dimulai. Temannya itu telah menghilang sejak usai makan siang.


Dia lalu mengalihkan pandangannya pada gaun berwarna fuchsia yang digantung di samping lemari mereka.


Para guru akademi telah menyiapkan gaun yang senada untuk mereka pakai. Dan Itu gaun yang harusnya dipakai Eleanor, masih tergantung rapi belum disentuh.


Ella menyelesaikan riasannya dengan cepat. Lalu segera keluar dari kamarnya. Ia berinisiatif untuk mencari Eleanor.


Karena pintu tiap kamar dibuka, Ella pun mengintip satu persatu kamar lain, berharap Eleanor sedang bersembunyi karena ingin bolos dari pesta.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Elina. Dia curiga melihat gelagat Ella.


"Ti..tidak, a..aku..." Wajah Ella langsung pucat. Ia takut Elina Akan melapor pada kepala akademi jika tahu Eleanor menghilang. Itu hanya akan membuat Eleanor terkena hukuman.


"Pasti gadis itu membuat masalah lagi," tebak Elina.


Ella berharap bisa berkelit dari situasi ini. Namun wajahnya menunjukkan dengan jelas jawaban dari pertanyaan Elina.


Elina melihat ekspresi takut Ella, Dan tidak ingin mengintimidasi gadis itu lebih lama. Jadi dia menggandeng tangan Ella.


"Pestanya Akan segera dimulai, sebaiknya Kita pergi kesana saja," ajak Elina.


"Tapi..."


"Jika kau terus mengikuti gadis itu, Kau mungkin tidak akan menemukan pria yang menyukaimu malam ini. Kau tahu, setiap orang di sini sedang bersaing saat ini. Mereka Akan melakukan apapun untuk menarik perhatian, dan tidak Ada yang menjamin satu wanita tidak Akan mendapat perhatian banyak pria. Jadi, kau tidak memiliki waktu memikirkan pembuat masalah itu"


Ella menundukkan kepalanya. Dia tahu Elina sedang membujuknya. Tetapi kata-katanya juga benar. Ella melihat pada gadis lain di sekitarnya. Mereka terlihat lebih cantik dan menarik darinya. Belum lagi, sejak tadi mereka sudah membicarakan Cara menarik perhatian para pria. Hal yang tak Akan bisa dilakukan oleh gadis pemalu sepertinya.


Akhirnya, Ella mengalah dan mengikuti ucapan Elina. Dia khawatir pada Eleanor, namun dia juga harus mengkhawatirkan Masa depannya.


*****


Rory menatap cermin dengan wajah memberengut. Kejadian terakhir kali saat ia dipaksa berhenti menguping oleh Nuu masih menyisakan rasa kesal di hatinya.


Rory tidak menjawab dan segera merapikan pakaiannya.


Malam ini dia harus menghadiri pesta kelulusan di akademi White Moon. Ya, akademi White Moon, di mana para gadis dididik. Biasanya akademi itu bersifat tertutup dan tidak dapat dimasuki orang luar. Namun khusus malam seperti ini, akademi itu dibuka setiap tahunnya. Tujuannya mempertemukan para pria dan para gadis agar mereka bisa memilih pasangannya.


Bodoh sekali. Ini adalah acara yang bodoh.


Rory memiliki kesan seperti itu terhadap acara ini. Dia lebih memilih duduk di ruangan ayahnya untuk mendengarkan masalah yang terjadi di negerinya.


Setelah merasa penampilannya telah siap, Rory keluar dari kamarnya. Lalu diantarkan ke tempat pesta dengan keretanya.


Rory sempat menatap langit yang sedang berubah menjadi gelap. Masih ada warna jingga yang memudar di salah satu sudut. Malam ini sepertinya akan cerah, jika melihat awan yang sama sekali tidak tampak di atas Sana. Namun pandangan Rory mulai terhalang saat keretanya mulai memasuki wilayah akademi. Semua berkat dinding tinggi yang mengungkung tempat itu. Entah mengapa Rory merasa sesak di Sana.


Akademi White Moon telah ramai saat Rory tiba. Sepertinya dia menjadi tamu yang datang hampir belakangan. Namun dia tetap menjadi pusat perhatian sebenarnya. Semua Mata langsung tertuju saat Rory memasuki hall yang dijadikan tempat untuk pesta.


Sesaat, semua orang menghentikan aktivitas untuk menyambut Rory. Menunjukkan Rasa hormat. Setelah itu, seperti memiliki magnet dia menarik semua orang mendekatinya. Utamanya para gadis, berebut memperkenalkan diri.


Mereka semua cantik, Rory mengakui itu. Dia bahkan bisa melihat kualitas penampilan, sikap bahkan kecerdasan mereka tentu berbeda dari para perempuan yang pernah dilihatnya. Benar-benar wanita pilihan. Mungkin karena itu, para pria yang berasal dari kalangan menengah ke atas selalu diharuskan memilih calon istri dari akademi ini. Bahkan ibu Rory sendiri juga berasal dari sini.


Namun, Rory tidak melihat satupun yang mampu menarik perhatiannya. Gadis itu terlihat mirip satu sama lain. Mungkin Ada yang lebih cantik, Ada yang lebih pemalu, atau Ada yang lebih pintar. Hanya saja mereka terlihat seperti orang yang sama. Dan Rory kehilangan minatnya untuk memilih satu sebagai calon istri.


Makanan yang disajikan sebagai kudapan pesta justru lebih menggoda bagi Rory. Ia harus mengakui, rasanya lebih lezat dari yang disajikan di istana. Lagipula kebanyakan gadis merasa sungkan mencoba bicara dengannya saat ia makan. Di sana, itu adalah hal yang tidak sopan.


Hingga tanpa sadar, dia terus mencoba setiap jenis kudapan, terus memakannya sampai kekenyangan. Berujung pada perut sakit.


Rory segera keluar dari ruangan pesta untuk mencari toilet. Karena akademi itu cukup besar, Rory tersesat. Dia juga ceroboh sekali melarang pelayannya untuk menemani.


Rory tidak tahu ada dimana dirinya saat ini. Terlalu banyak koridor di tempat ini. Dia terus berjalan hingga menemukan toilet. Sialnya, desain bangunan untuk toilet itu juga aneh. Rory tidak bisa menemukan pintu untuk keluar. Tiap ia menemukan pintu, saat dibuka ternyata toilet lainnya. Saat ia mencoba berbelok dari satu lorong ke lorong lainnya, dia justru kembali ke tempat yang sama. Intinya, dia hanya berputar-putar di tempat itu.


Perut Rory sampai kembali sakit memikirkan bahwa dirinya tidak bisa keluar dari tempat ini. Dia Akan jadi bahan tertawaan jika ditemukan oleh petugas atau siswi akademi sini.


Saat itu, Rory mendengar suara nyanyian. Dia akhirnya mengikuti asal suara. Melewati lorong dan deretan pintu toilet, dia masuk ke bagian lebih dalam dari tempat itu. Hingga ia sampai di sebuah lorong yang berbeda.


Salah satu dari sisi lorong itu dibatasi dengan kaca. Hingga ia bisa merasakan sinar bulan dari langit yang cerah malam itu menyinari setiap langkahnya.


Rory merasakan jantungnya berdegup kencang. Seirama dengan nyanyian yang menuntunnya suaranya Makin jelas terdengar di telinganya. Di ujung lorong itu Ada sebuah pintu. Dia membukanya pelan-pelan. Tempat itu sedikit gelap, hanya diterangi sinar bulan yang masuk dari atap kaca di atasnya.


Rory bisa melihat kolam dan pancuran di tengah ruangan itu. Airnya berkilauan ditimpa sinar. Suara gemericik air yang tenang berlomba dengan nyanyian lembut yang menghipnotis Rory.


Namun hal yang paling membuat pangeran itu terkesan adalah sosok yang berdiri di tengah kolam itu. Meskipun samar oleh gelap, Rory bisa melihat siluet tubuhnya.


Kulitnya yang seperti porselen mahal terlihat jelas karena handuk hanya menutupi sebagian kecil tubuhnya. Rambutnya yang ikal juga berkilauan layaknya air ditimpa cahaya bulan. Dia sedang menyanyi sambil menatap ke arah bulan seolah sedang memujanya.


Rory membeku di tempatnya. Mungkin untuk mengaguminya.


Dia sampai Tak sadar jika keberadaannya sudah disadari orang yang menjadi obyek penglihatannya. Nyanyiannya berhenti, ia menoleh pada Rory di belakangnya.


Jantung Rory berdetak kencang


Mata mereka bertatapan,


Mata Ruby itu telah membuat hati Rory berdesir,


Rory berpikir bahwa dia mungkin telah bertemu seorang malaikat,


Mata Rory mengikuti gerakan orang di depannya. Yang tangannya bergerak seolah sedang meraih sesuatu. Dia tidak bisa berpikir Hingga dia merasakan sesuatu menghantam lengannya dengan keras. Rory mengaduh dan melihat sebuah ember tergeletak di bawah kakinya. Ember itu baru saja terbang


Rory melihat ke arah sosok di depannya. Ia tidak melihat Mata Ruby yang indah menawan, melainkan Mata yang membara penuh amarah, siap menerkamnya.


The angel he saw turns out to be a devil.