Blue Ocean

Blue Ocean
Bab 7



Rima memilih kursi di sudut kantin yang paling sepi, di temani segelas es teh manis dan juga earphone yang sudah 30 menit lebih terpasang di telinganya. Sesekali ia bergumam kesal karena Arve lama, meski salahnya sendiri karena memilih untuk menunggu Arve padahal selisih kelas mereka cukup jauh.


Tanpa sadar seseorang sudah duduk manis di samping Rima, ia menarik sebelah earphone Rima lalu memasangkan earphone itu ketelinganya.


Rima tersentak kaget tentu saja, ia langsung melihat orang aneh mana yang menganggunya dan orang itu tidak lain adalah Arve. Arve hanya menampakkan cengiran tidak berdosanya saat Rima menatap jengah kearahnya.


"Kenapa lagu di ponselmu selalu melow begini?" Tanya Arve.


"Ya aku sukanya yang seperti ini, mau bagaimana lagi." Rima langsung melepas earphone di telinganya dan dari telinga Arve.


"Pulang?" Arve mengangkat sebelah alisnya.


Rima tampak menimbang-nimbang apakah langsung pulang atau mampir dulu ketempat lain. Dan pilihannya jatuh pada menonton film, bukan di bioskop tapi di rumah Rima karena itu akan lebih menghemat uang dan tenaga.


"Nonton film di rumahku ya?" Pinta Rima.


"Mana bisa kutolak." Arve tersenyum jahil ke arah Rima.


Mereka langsung menuju parkiran dan disana tanpa sengaja mereka bertemu dengan Pandu yang sedang merangkul seorang wanita cantik di sampingnya.


Pandu langsung menyadari kedatangan Rima dan Arve dari jarak yang cukup jauh, namun rangkulan tangannya enggan lepas dari wanita itu.


"Hai, Ve." Sapa Pandu ramah.


"Oh, Hai." Balas Arve dengan raut wajah datar.


"Sudah lama sekali ya, bagaimana kabarmu?" Tanya Pandu basa-basi semakin mendekat kearah Rima dan Arve.


"Seperti yang kamu lihat." Arve menarik tangan Rima agar Rima bersembunyi di balik tubuhnya.


Pandu yang melihat itu langsung menghentikan niatnya untuk berjalan lebih dekat kearah mereka.


"Aku sudah berubah, Ve. Yang dulu hanya sebuah kesalahan kecil." Pandu memasang raut wajah seriusnya.


"Oh ya?" Arve melirik wanita di samping Pandu seolah kode jika tak ada sedikit hal pun yang berubah dari diri Pandu.


"Kenapa dia melirikku seperti itu?" Bisik wanita yang masih betah dalam rangkulan Pandu.


Pandu hanya mengisyaratkan wanita itu untuk tidak buka suara.


"Bukan kah kamu juga sama sepertiku?" Tanya Pandu dengan tatapan meremehkan.


Arve terkekeh pelan.


"Ya untuk urusan wanita, wanita yang dekat denganku memang banyak. Tapi tunanganku hanya satu dan dia ada di belakangku, aku hanya ingin menjauhkannya dari hal-hal brengsek yang mengincarnya." Sungut Arve tak mau kalah dengan lelaki yang dulu sempat menjadi sahabat karibnya.


Pandu mengepalkan tangannya kuat, buku-buku jarinya memutih karena sang pemilik tangan menahan emosinya agar tidak meledak di tempat umum seperti ini.


"Apa sudah selesai basa-basinya? Kalau sudah aku permisi." Arve langsung melenggang pergi dengan tidak lupa Rima yang sudah ia gandeng sedari tadi.


Rima hanya bisa menudukkan kepalanya saat melewati Pandu dan Pandu, ia benar-benar semakin ingin merebut Rima dari Arve.


Arve berjalan cukup cepat hingga tidak memperhatikan Rima yang tertatih karena sulit mengikuti irama langkah kaki Arve yang panjang.


"Pelan-pelan, Arve." Ujar Rima.


Arve berhenti lalu berbalik saat mendengar itu, Rima yang tidak tahu jika Arve akan berhenti langsung menabrak dada bidang Arve. Anehnya dan untuk kedua kalinya Arve memeluk Rima tanpa Rima minta.


"Kenapa?" Tanya Rima heran.


"Aku takut kalau melihat dia, aku takut kamu akan ingat dengan traumamu." Ujar Arve sambil menempelkan dagunya dipucuk kepala Rima.


Rima membalas pelukan itu, pelukan hangat yang selalu ia inginkan tapi justru ia dapatkan disaat yang tidak terduga seperti sekarang.


"Aku sudah lama melewati masa-masa suram itu. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja selagi ada kamu. Aku percaya kamu bisa menjagaku, Arve. Dulu, jika bukan kamu lalu siapa yang bisa menyelamatkanku? Tidak ada." Rima mengusap-usap punggung kokoh yang sebenarnya rapuh itu.


Arve diam untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Rima dan mereka bertahan pada posisi itu cukup lama.


"Tidak apa-apa." Rima tersenyum manis kearah Arve.


"Kita beli cemilan dulu ya?" Sambung Rima kemudian Arve mengangguk setuju.


Arve mengendarai motor tanpa berbicara apa-apa lagi hingga mereka tiba dimini market untuk membeli cemilan sesuai keinginan Rima.


"Mau beli apa?" Tanya Arve saat sudah di dalam.


Rima mengetuk-ngetuk telunjuknya diujung dagu sambil berpikir.


"Ah iya! Aku mau es krim, kamu mau beli apa?" Rima balik bertanya.


"Roti strawberry." Jawab Arve langsung mendapat anggukan dari Rima.


Rima mengambil 2 kotak es krim dengan rasa vanila dan strawberry kesukaan Arve.


Arve melirik es krim itu sebentar.


"kenapa sampai 2 kotak? Satu saja, Rima." Arve mengambil sekotak berasa strawberry kemudian meletakkannnya kembali ketempat semula.


"Loh kenapa? Kamu tidak suka? Tapi itu strawberry, Arve." Sungut Rima dengan wajah cemberutnya.


"Iya aku tahu."


"Terus kenapa?" Ketus Rima.


Arve terkekeh pelan


"Buatmu saja, Rima. Aku sudah puas minum susu strawberry."


Raut wajah Rima langsung berubah, ia paham jika Arve masih kesal dengan Pandu makanya sampai menolak sesuatu berasa starwberry darinya. Tapi kan justru itu! Ia di sini ingin menghibur Arve.


Rima kembali mengambil kotak es krim yang tadi Arve ambil lalu langsung membawanya kekasir tanpa menunggu Arve di belakangnya.


Arve yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Ya, rasanya bukan Rima jika tidak keras kepala.


Setelah semua belanjaan mereka telah dirasa cukup, mereka langsung menuju rumah Rima untuk melanjutkan keinginan tuan putri.


Saat sampai, Rima langsung meminta Arve untuk menunggu di kamarnya dan tidak ikut membantu Rima menyiapkan cemilan dan minuman mereka karena itu pasti akan memakan waktu.


Rima datang dan membawa nampan dengan berbagai cemilan dan dua gelas susu. Sedangkan Arve sedang asik merentangkan tubuhnya di ranjang Rima.


"Mana rotiku?" Tanya Arve saat melihat Rima di ambang pintu.


"Filmnya bahkan belum kuputar tapi kamu sudah minta makanan." Cibir Rima sambil menyerahkan roti milik Arve.


"Aku sudah lapar, film kan tidak ada hubungannya dengan rasa laparku." Balas Arve lalu memakan roti itu.


Hanya dalam beberapa gigit, roti itu sudah lenyap masuk kedalam perutnya. Benar-benar Arve tidak bisa bohong jika soal lapar.


Rima mengambil laptop dan memilih film yang memang sudah ada tapi belum ia tonton, sengaja agar bisa di tonton bersama Arve.


"Aku matikan ya lampunya?" Tanya Rima.


"Hah? Kenapa harus dimatikan?" Arve menatap Rima heran.


"Supaya mirip seperti di bioskop." Rima terkekeh pelan.


Arve menggeleng pelan "Jangan, nanti matamu rusak."


"Cuma sebentar kok." Bujuk Rima.


"Tidak boleh, Rima." Ujar Arve lembut.


Dan ya, Rima lemah sekali dengan nada suara Arve yang seperti ini. Rasanya tidak ada tenaga untuk membantah perkataan Arve jika sudah begini.