Blue Ocean

Blue Ocean
Bab 4



"Bisa tolong ambilkan aku minum?" Tanya Arve.


Rima langsung berjalan kearah dapur untuk mengambil segelas susu strawberry kesukaan Arve.


"Segelas cukup?" Tanya Rima sambil menyerahkan segelas susu tadi.


"Mungkin kurang, kalau kamu yang ambilkan rasanya jauh lebih manis." Goda Arve seraya menaik turunkan alisnya.


"Sama saja, ucapanmu yang terlalu manis. Coba kalau gadis biasa yang mendengar nya pasti sudah langsung keringat dingin mendengar itu." Rima memutar bola matanya malas.


"Oh, memangnya kamu biasa saja kalau aku bicara begitu?"


"Aku bahkan sudah biasa dengan sikap masa bodomu, bagaimana mungkin aku tidak biasa dengan ucapan manis andalanmu itu."


Arve hanya terkekeh dengan jawaban gadis di depannya itu, ia menenpuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya agar Rima duduk di sana.


"Jangan berdiri terus, pasti lelah kan seharian sudah kubuat kesal?" Arve lagi-lagi terkekeh.


Rima mengehentakan kakinya pelan lalu berjalan ke arah Arve untuk duduk di sebelahnya.


"Apa aku sudah boleh pulang?" Tanya Arve pelan.


Rima menatap Arve sinis. Arve sendiri yang ingin mampir kerumahnya lalu kenapa sekarang harus bertele-tele minta izin untuk pulang? Bukan kah biasanya ia akan langsung pulang tanpa basa basi seperti ini? Aneh, pikir Rima.


"Terserah." Jawab Rima seadanya.


"Ah sepertinya aku masih harus di sini sedikit lebih lama." Ujar Arve sambil manggut-manggut pelan.


"Kenapa? Pulang saja." Ujar Rima sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Soalnya Nyonya rumah ini masih kesal padaku." Arve kembali meneguk susu starberry miliknya.


"Kesal itu pasti, lagi pula siapa lagi orang yang akan tahan dengan sikapmu selain aku?" Balas Rima percaya diri.


Ya, kenyataan bahwa yang di ucapkan Rima adalah sebuah kebenaran memang tidak bisa di bantah oleh argumen siapa pun termasuk Arve sendiri. Saat ini dan entah sampai kapan meski Arve berharap bahwa hanya Rima lah satu-satunya gadis yang bisa tahan dengannya, dengan semua ketakutan-ketakutan yang terus mengahantuinya.


"Iya, kamu benar."


"Makan malam di sini ya? Mau kan?" Tanya Rima dengan wajah memelasnya.


Arve terkekeh pelan melihat itu.


"Siapa yang bisa menolak permintaanmu setelah melihat wajah melasmu itu?" Balas Arve sambil mengusap-usap lembut kepala Rima.


"Mau makan apa? Biar aku yang masak."


"Kamu masak? Apa dapur dan perutku akan baik-baik saja nanti?" Goda Arve.


"Apa-apaan jawabanmu itu? Masakanku tidak akan sampai membuatmu masuk rumah sakit tahu!" Rima mencubit lengan Arve saking kesalnya.


"Cubitanmu tidak pernah berubah ya. Kamu itu menyakitiku tapi tidak pernah terasa sakit bagiku." Arve terkekeh pelan.


"Ya karena aku bukan kamu yang tahu betul cara menyakitiku, aku mana tega menyakitimu."


"Lihat kan? Kamu terlalu baik untuk lelaki yang masih terjebak dengan masa lalu sepertiku. Apa tidak ada niat untuk menjelajahi hati lain, Rima? Setidaknya dengan lelaki lain kamu tidak akan sesakit seperti saat bersamaku." Jelas Arve sambil menatap lekat manik mata hazel di hadapannya.


"Bukan kah aku mengajakmu makan malam? Kenapa jadi bahas ini? Kenapa seolah setiap hari ada saja caramu untuk memintaku berhenti menjelajahi hatimu?" Rima balik menatap Arve.


Arve menggelengkan kepalanya pelan, ia menyelipkan sedikit anak rambut Rima yang menghalangi wajah cantiknya itu kebelakang telinganya.


"Mau sampai kapan kamu menjelajahi ruang hampa, Rima? Di sana dingin dan gelap." Ucap Arve lembut.


"Tapi ada orang yang harus aku selamatkan di ujung ruangan yang kamu bilang dingin dan gelap itu. Aku tahu kamu selalu menunggu untuk di selamatkan, aku tahu kamu juga tidak mau terus-terusan di sana. Itu lah alasannya aku masih bertahan denganmu, Arve. Karena kamu butuh orang yang mampu menarikmu keluar dari jeratan masa lalumu itu." Mata Rima menatap Arve penuh keyakinan.


Terdengar helaan nafas cukup berat dari Arve, hatinya sesak tiap kali mendengar Rima mengucapkan kalimat yang ironisnya justru selalu ia ingin dengar dari seseorang. Dan orang itu mengucapkannya, tapi Arve sudah terlanjur menutup hatinya.


"Rima, Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu kira aku bahagia karena menyakitimu? Aku juga mau kamu bebas, Rima. Aku mau kamu bisa menikmati kisah cinta yang memang seharusnya pantas kamu dapatkan."


"Ayo cepat bilang saja kamu mau makan apa, aku tidak mau dengar apa pun lagi." Balas Rima pelan.


"Yasudah, kita ke super market sekarang?" Ajak Arve.


Rima mengangguk setuju tanpa menatap mata Arve.


Harus berapa kali aku meyakinkamu agar kamu percaya bahwa hanya aku yang bisa menyelamatkanmu, Arve? Batin Rima.


°°°


Arve dan Rima sudah sampai di super market yang letaknya tidak cukup jauh dari rumah Rima. Mereka langsung memilih beberapa sayuran dan sedikit buah untuk makan malam nanti.


"Mau buah apa?" Tanya Rima.


"Apel."


"Itu saja?"


Arve mengangguk pelan.


Rima memasukkan beberapa buah apel ke dalam keranjang belanjaan yang di pegang Arve.


Membayangkan masa depan bagi Rima cukup dengan begini, belanja kebutuhan rumah bersama Arve saja rasanya sudah seperti separuh dari keinginannya terpenuhi. Bayangkan bagaimana jika di masa depan nanti Arve dan Rima benar-benar berjodoh? Ah mungkin Rima tidak akan pernah melewatkan ibadah untuk bersyukur atas jodoh yang di berikan Tuhan padanya. Ya, seandainya saja begitu.


"Hei, kenapa melamun?" Tegur Arve sambil menepuk bahu Rima pelan.


"Bu..bukan apa-apa, beli apa lagi?" Tanya Rima berusaha menutupi rasa gugupnya. Hampir saja ia tertangkap basah karena membayangkan masa depan yang belum tentu kejadian.


"Sudah semua kan?" Arve balik bertanya.


"Oh iya ya sudah semua ya." Rima terkekeh pelan.


"Kamu ini melamun kenapa tadi?"


"Sudah kubilang bukan apa-apa kan, ayo ke kasir." Ajak Rima yang langsung berjalan mendahului Arve.


Arve langsung menyusul Rima.


"Ada lagi yang mau di tambah mba, mas?" Tanya pelayan kasir.


"Sudah mba, itu saja." Balas Arve ramah.


"Suaminya manis ya mba." Goda pelayan kasir itu pada Rima.


Rima tersenyum malu-malu mendengar ucapan pelayan kasir tadi.


"Amin mba." Balas Rima sambil tersenyum.


Arve langsung menarik lembut tangan Rima sambil membawa kantong belanjaan mereka.


"Ini serius kamu yang mau masak?" Tanya Arve ragu-ragu.


Rima memutar bola matanya malas.


"Setakut itu kamu dengan masakanku?" Rima balik bertanya.


Arve menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sambil terkekeh.


Rima langsung mencuci buah dan sayur yang baru saja mereka beli sesaat setelah sampai di rumahnya.


Sedangkan Arve hanya memperhatikan bagaimana tangan lembut itu dengan lihainya mencuci bahan makanan mereka.


Apakah akan selalu sebahagia ini rasanya saat Arve bisa berani untuk mencintai Rima? Tapi rasanya tidak mungkin, pikirannya sudah terlalu jauh.


Rima memasak makanan di bantu oleh bu Minah, karena Arve yakin jika sepenuhnya Rima yang memasak maka nasib perutnya akan di pertaruhkan.


Setelah selesai berkutat di dapur, masakan Rima dan bu Minah pun sudah siap untuk di sajikan. Mereka bertiga makan dengan sesekali di selingi obrolan ringan.