Blue Ocean

Blue Ocean
Prolog



"Malaikat bumi bilang kamu baik, tapi ternyata kamu lebih dari sekedar baik!" Seru Rima.


Arve hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai respon. Ia heran, mengapa gadis di hadapannya ini begitu banyak bicara tiap kali semesta mempertemukan mereka di situasi yang sama sekali tidak Arve harapkan.


"Kamu itu menyenangkan--" Rima berhenti saat Arve membalikkan badan dan hendak meninggalkannya.


"Tapi aku benci jatuh sendirian!" Teriak Rima membuat pria di depannya berbalik dengan raut wajah kagetnya.


"tidak ada yang minta kamu untuk jatuh Rima, kamu sendiri yang memilih itu." Ujar Arve lembut seraya memegang pundak Rima.


"Kalau begitu kenapa gak coba bantu aku cari jalan keluar dari jurang itu?" Rima menatap Arve lekat.


"Jurang itu tidak punya jalan keluar Rima, aku sudah lupa rute keluar dari jurang yang kubuat sendiri. Kamu harus cari seseorang yang bisa menarik paksa kamu dari jurang yang menyakitkan itu." Balas Arve mencoba cara halus agar Rima berhenti menyakiti dirinya sendiri.


"Itu jurangmu! Harus kamu yang bantu aku keluar! Kalau tidak bisa, jangan larang aku untuk terjun lebih dalam, Arve!" Final Rima, Arve tidak tahu ingin berkata apa lagi untuk membalas gadis ajaib ini.


"Ya sudah, selamat berpetualang di jurang penuh kesakitan Rima. Semoga berhasil menemukan dasarnya, dan kalau berhasil--" Arve mendekatkan mulutnya ketelinga Rima,


"Tolong selamatkan aku, tolong bawa aku keluar dari sana, Rima." Bisiknya sukses membuat Rima membelalakkan matanya.


"Pasti!" Rima mengacungkan ibu jarinya tepat di hadapan Arve.


Manik mata mereka bertemu, entah kenapa rasanya sulit sekali untuk berkata menyerahlah pada gadis ini, gadis paling ajaib yang pernah ia temui, gadis penuh teka-teki karena selalu berhasil membuatnya tersenyum. Tapi ini akan semakin terasa menyakitkan jika membiarkan Rima terjun lebih dalam, Arve sendiri bahkan tidak tahu hatinya memiliki dasar atau tidak.


Dan untuk Rima, ia tahu betul tentang resiko patah hati yang akan ia terima setiap hari. ia tahu betul bahwa Arve masih terikat kuat dengan masa lalunya, ia hanya ingin menyelamatkan Arve dari sana, dari belenggu yang terus mengahantuinya. Itu keinginan Rima, ia akan berusaha keras mewujudkan itu tanpa peduli dengan masa lalunya.


Bodohnya, Arve mengiyakan tanpa tahu harus menjaga Rima dari siapa atau dari apa. Apa yang mengancam Rima? bukan kah gadis itu tangguh bahkan tanpa penjagaan darinya? Lalu apa yang harus ia lakukan jika Rima bisa melakukan segalanya sendiri?


Kenapa ya? Kenapa tiap kali melihat mata Rima, Arve selalu merasa mata itu kosong seperti tidak memiliki semangat atau pun sedikit cahaya untuk dinikmati orang lain yang menatapnya. Hanya ada kesedihan di matanya, Tapi bukan kah hidupnya baik-baik saja? Atau ada hal lain yang tidak Arve ketahui?


"Kenapa melamun?" Tanya Rima.


"Kenapa matamu selalu kosong?" Balas Arve.


"Mataku?" Beo Rima.


"Iya, Rima. Kenapa?"


"Karena aku sudah kehilangan sesuatu yang berharga, Arve." Jawab Rima sambil memalingkan wajahnya.


"Ibu?"


"Ini lebih dari sekedar seseorang,"


"Aku mau pulang. Kalau kamu tidak ada kelas lagi, langsung pulang ya." Sambung Rima yang langsung meninggalkan Arve.


Lagi-lagi begini, Rima terlalu takut untuk mengakui semuanya. Takut jika Arve akan benar-benar pergi meninggalkannya.