
Rima berjalan sambil sesekali menghentakkan kakinya ketanah, 3 jam yang lalu ia melihat pemandangan tidak enak yang membuat hatinya sakit. Dan sekarang, orang dari penyebab sakit hatinya ada di depan sana sedang duduk manis tanpa ada beban dosa sedikit pun di wajahnya.
"ini menyebalkan Arve! Aku bingung dimana akhir dari semua rasa sakit ini." Ujar Rima dengan wajah kesalnya.
Arve terkekeh pelan, ia gemas dengan gadis ajaib ini. Menyerah tidak mau tapi jika sakit terus-terusan mengeluh padanya.
"Kan sudah kuperingatkan Rima, kamu bandel. Sekarang yang sakit kamu sendiri kan?" Arve mengacak-acak rambut Rima gemas.
"Memangnya hatimu itu sedalam apa sih? Butuh waktu berapa lama lagi aku terjun bebas begini?" Tanya Rima seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku sendiri tidak tau hatiku masih punya dasar atau tidak. Kalaupun ada, aku tidak bisa langsung kasih tempat untuk kamu singgahi." Balas Arve lembut.
"Kenapa singgah? Aku kan ingin menetap! Aku mau jadi satu-satu penduduk di sana!" Seru Rima tak terima dengan perkataan Arve.
"Kamu mau jadi penduduk tanpa ada pemimpinnya?" Tanya Arve.
Rima menggeleng pelan "Kamu kan pemimpinnya Arve, aku akan jadi satu-satunya pendudukmu yang paling setia." Ujarnya di akhiri dengan senyuman manis seperti biasa.
Arve tertawa pelan. Lagi-lagi gadis ini membuatnya tertawa, setiap apa pun yang di katakan oleh gadis mungil ini seolah lawakan bagi Arve. Ekspresinya, cara bicaranya, hentakkan kakinya saat kesal. Itu benar-benar sebuah hiburan saking gemasnya.
"Kamu kenapa lagi? Baru datang kok langsung marah begitu." Tanya Arve.
"Aku tadi lihat kamu rangkul perempuan, itu siapa Ve?" Rima kembali menghentakkan kakinya.
"Perempuan? Yang mana? Kamu tau kan banyak perempuan yang dekat denganku?" Ujar Arve tanpa dosa.
Ya, Rima tahu betul soal ini. Arve yang ia cintai itu memang di gilai oleh para wanita termasuk juga dirinya, ia tahu Arve tidak akan pernah menjadi miliknya seorang, tapi entah kenapa kata berhenti rasanya tidak bisa ia laksanakan dengan benar. Rima pun tahu, mencintai laki-laki ini hanya akan membuat lukanya semakin menjadi-jadi. Tapi mau bagaimana lagi? Hatinya sudah benar-benar jatuh.
Rima menarik nafas dalam-dalam "Itu loh yang pakai kacamata." Jelas Rima.
Arve mencoba mengingat-ingat ciri-ciri yang di sebutkan Rima tadi "Ah aku ingat, Sarah. Tadi dia sudah bantu aku mengerjakan tugas, jadi sebagai gantinya aku ajak dia makan kekantin."
"Kenapa pakai acara rangkul-rangkulan segala?" Sewot Rima.
"Ya karena dia yang minta." Jawab Arve santai.
"Kenapa kalau jalan sama aku, kamu gak pernah begitu?"
"Kalau ke kamu gak boleh, aku kan sudah janji mau menjaga kamu ke ibumu waktu itu. Jadi, aku gak bisa pegang-pegang kamu sembarangan." Ujar Arve.
"Alasan!" Protes Rima tidak terima.
"Itu bukan alasan Rima, memang kenyataannya seperti itu kan?"
"Terserah lah, aku marah." Rima pergi setelah mengucapkan itu.
Satu hal lagi yang sudah menjadi kebiasaan seorang Rima adalah, bilang marah padahal tidak benar-benar marah. Kenapa? Karena dalam kurun waktu 5 jam, Rima sendiri lah yang akan mendekati Arve seperti tidak terjadi apa pun sebelumnya.
"Aku di perpustakaan ya kalau kamu sudah selesai marahnya!" Teriak Arve agar Rima mendengarnya.
-°-
Arve tersentak kaget saat seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya, ya siapa lagi kalau bukan Rima. Lihat kan? Ini bahkan baru 3 jam setelah ia bilang marah, tapi sosoknya justru sudah duduk manis dengan wajah yang manis pula.
"Sudah selesai marahnya?" Goda Arve.
"Sudah. Tadi aku sudah minum jus mangga, jadi marahnya langsung hilang." Jawab Rima polos.
Arve mengacak-acak rambut Rima gemas "Pulang?" Tanya nya.
"Oke."
Motor Vespa putih itu berhenti di depan salah satu toko bunga di tepi jalan raya. Rima masuk dan hanya melambaikan tangan pada sang pemilik toko, seolah ia sudah biasa datang kesini. Sang pemilik toko langsung menyiapkan 17 tangkai bunga tulip putih.
"Ini bunganya kak." Ujar sang pemilik toko.
"Terima kasih mas. Seperti biasa, bunga di sini selalu segar." Ucap Rima sambil tersenyum manis ke arah pemilik toko tadi.
"Tentu saja, ah sampaikan salam saya untuk ibumu ya."
"Pasti saya sampaikan." Balas Rima sambil melambaikan tangannya.
Rima berjalan pelan ke arah Arve sambil sesekali membenarkan bunga tulip di tangannya itu.
"Sudah?" Tanya Arve.
"Kamu mau bunga juga?" Tanya Rima.
"Aku? Untuk apa?" Arve mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Ya supaya aku di bilang perempuan romantis."
Arve terkekeh pelan, ada-ada saja kelakuan gadis ini. Selalu di luar akal sehatnya sebagai perempuan.
"Apa yang lucu?" Tanya Rima sinis.
"Kamu."
"Aku?" Beo Rima.
"Untuk apa seorang perempuan memberikan bunga pada laki-laki, Rima? Kalau aku yang beri kamu bunga itu baru masuk akal." Jelas Arve.
Rima menjulurkan tangannya di depan Arve sambil tersenyum.
"Apa?" Tanya Arve tidak mengerti.
"Mana bunganya? Katanya kalau kamu yang kasih itu wajar. Kalau begitu mana?" Tanya Rima.
"Aku tidak punya satu pun bunga untukmu." Ujar Arve.
Bahu Rima langsung merosot dan senyumnya luntur saat mendengar itu, kenapa setiap kali Arve bicara hanya akan berujung menyakiti hatinya? Seolah setiap kata-kata yang ia keluarkan adalah jawaban dari pertanyaan yang bahkan belum sempat Rima tanyakan.
"Kita kan sudah punya ini." Sambung Arve sambil memperlihatkan jari manisnya.
Melingkar cincin sederhana di jari manis kedua manusia itu. Cincin pengikat yang sama sekali tidak berhasil mengikat hati Arve untuk Rima. Dan hal itu sama sekali tidak membuat Rima senang.
"Ini hanya tanda janjimu pada ibuku, Arve. Bukan bukti kalau kamu sudah mencintaiku." Rima langsung naik ke jok belakang motor Arve tanpa bicara apa-apa lagi.
"Kamu tau kalau aku tidak bisa mencintaimu kan?" Tanya Arve yang lagi-lagi mematahkan hati Rima.
Tidak kah kamu dengar suara patah? Ah hatiku terlalu baik karena tidak ingin kamu mendengarnya.
"Bukan tidak bisa, kamu hanya takut untuk mencoba." Jawab Rima sambil memandangi bunga tulip di tangannya.
"Jadi, kita ketempat ibu?" Tanya Arve sengaja mengalihkan pembicaraan.
Sudah biasa, Rima bahkan terlalu terbiasa dengan Arve yang seperti ini. Arve yang tidak pernah menanggapi serius ucapannya, padahal apa yang Rima ucapkan benar-benar tulus. Tapi Arve terlalu rapat menutup hatinya hingga tidak bisa lagi merasakan ketulusan dari orang lain bahkan Rima sekali pun, Arve terlalu dalam jatuh pada masa lalu nya. Dan Rima selalu bertekad untuk menarik Arve keluar dari sana.