Blue Ocean

Blue Ocean
Bab 6



Arve bangun dengan kondisi kamar yang masih berantakan. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, hingga di rasa sudah cukup lama ia mengumpulkan nyawa baru lah Arve pergi ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa waktu berlalu, Arve sudah rapih dengan pakaian formal yang tetap terkesan santai. Ia mengambil beberapa buku dan memasukannya ke dalam tas punggung miliknya lalu bergegas keluar kamar.


"Pagi Ve." Sapa Revan yang sudah rapih dengan setelan formalnya.


"Pagi." Balas Arve.


"Sarapan dulu." Revan menyodorkan sepiring roti panggang dengan selai starwberry kesukaan Arve.


Arve menerimanya dengan senang hati. Arve dan Revan masih sibuk dengan makanan yang ada di mulut mereka hingga tidak ada perbincangan lagi di meja makan.


Setelah selesai makan, Arve langsung pamit untuk menjemput tuan putri di rumahnya ah ralat di istananya.


°°°


"Aku sudah di depan."


Begitu lah isi pesan yang selalu mampu membuat Rima bersyukur karena masih bisa bangun setiap pagi. Ia bergegas menghabiskan sarapan yang sudah setengah piring itu, Rima juga tidak lupa untuk mengisi botol minum Arve dengan susu strawberry kesukaannya. Ya, setiap hari Rima lah yang memberi sebotol susu strawberry untuk Arve. Dan Arve tentu saja tidak bisa menolak apa pun yang bernama, berbau, berasa starwberry.


"Hai." Sapa Rima lengkap dengan senyum hangatnya.


Arve langsung membalikkan badannya dan membalas senyuman Rima.


"Habiskan ya." Ujar Rima sambil memberikan botol minum tadi.


Nampak senyum Arve kian cerah saat melihat botol minum itu. Agak menyebalkan memang karena Arve tersenyum lebih lebar saat melihat sebotol susu strawberry di banding melihat Rima tapi, ya namanya juga Arve.


"Tidak akan kusisakan sedikit pun." Arve mengacungkan ibu jarinya yakin.


"Ya, aku sangat percaya jika soal strawberry." Cibir Rima.


Arve hanya terkekeh pelan.


Tidak ada perbincangan khusus di perjalanan mereka, hanya seputar Arve yang menggodan Rima dan Rima yang membalas ketus godaan Arve.


"Kamu ada kelas jam berapa?" Tanya Rima saat sudah sampai.


Arve nampak melirik jam di pergelangan tangannya "Jam 10." Jawabnya.


"Aku masuk kelas dulu kalau begitu, nanti aku tunggu di kantin." Pamit Rima.


"Kenapa kamu senang sekali menungguku?" Tanya Arve.


"Karena aku sudah jatuh padamu, bukannya kamu sudah tahu? Lalu kenapa masih bertanya?" Rima balik bertanya dengan pertanyaan yang justru menjebak Arve.


Arve menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, sekarang ia justru bingung ingin menjawab apa. Terkutuk lah mulutnya yang suka sekali bertanya hal-hal seperti itu pada Rima.


"Bukan kah itu melelahkan? Menungguku tanpa tahu aku akan datang padamu atau tidak, kenapa tidak berhenti saja?" Pertanyaan bodoh lagi-lagi keluar dari mulut Arve.


Rima menatap Arve nanar, ini masih pagi tapi ia sudah di buat tidak kesal dengan pertanyaan Arve yang benar-benar menohok hatinya. Ah tapi kenapa harus kesal? Bukan kah yang Arve bilang semuanya benar? Kenapa ya? Rasanya Rima sulit sekali untuk berhenti mencintai laki-laki di depannya ini, padahal sudah berkali-kali di patahkan tapi tetap berujung pada penantian bodoh.


"Kamu harus tahu, Arve. Perempuan lebih sering mendengarkan kata hati di banding otaknya ketika jatuh cinta. Kamu harus menunggu cinta itu benar-benar mati jika ingin aku berhenti. Jadi kita lihat saja, siapa yang menang. Aku dengan cintaku, atau kamu dengan trauma dan keras kepalamu." Rima langsung pergi sesaat setelah mengucapkan kalimat yang membuat hatinya sesak.


Sedangkan Arve, ia bungkam. Lidahnya mendadak kelu, Rima seolah sedang mempersiapkan sebuah kejutan di ujung cerita dan Arve takut untuk membayangkan apa itu.


°°°


Rima masih saja kesal dengan Arve, kenapa sih tidak bisa sehari saja untuk tidak memintanya menyerah? Kenapa juga tidak bisa sehari saja tanpa ada perdebatan di antara mereka? Arve itu senang berdebat atau bagaimana sih? Kenapa tidak ambil hukum saja kalau begitu? Dasar Arve aneh!


Ia terus mengumpat dalam hati hingga seseorang menepuk pundaknya,


"Jangan pasang wajah seperti itu terus." Tegur Pandu dari belakang.


Pandu beralih duduk di samping Rima yang kebetulan kosong.


Rima yang tertangkap basah sedang mengumpat dengan wajah kesalnya pun hanya terkekeh pelan.


"Eh, Pandu." Ujar Rima yang masih terkekeh.


"Kenapa sih? Nanti cepat tua loh kalau cemberut terus." Ledek Pandu sambil menganggakat sebelah alisnya.


"Pasti Arve ya?"


Rima yang mendengar itu hanya menggeleng pelan sebagai jawaban, bukannya ia tidak ingin cerita hanya saja rasanya bukan pilihan tepat untuk mengumbar perasaannya pada orang lain.


Pandu adalah teman Arve dan Rima sejak mereka duduk di bangku SMA dan entah bagaimana ceritanya, sekarang mereka bertemu lagi di Universitas dan jurusan yang sama seperti Rima. Mereka bertiga cukup dekat karena saat masa SMA dulu Pandu sering ke rumah Arve untuk main video game bersama dan kebetulan Rima memang selalu ke rumah Arve setelah pulang sekolah.


Hanya sebatas bermain Video game bertiga atau jalan ke taman untuk melepas penat. Tapi semenjak mereka bertiga lulus, Arve dan Rima nampak lebih lengket hari demi hari itu pula salah satu alasan Pandu untuk sedikit menjaga jarak dengan mereka. Ya, Pandu tidak ingin mengganggu dan masih banyak lagi alasan-alasan Pandu untuk sampai di tempat yang sama dengan mereka sampai hari ini.


"Arve apa kabar?" Pandu kembali bertanya.


"Baik, bahkan makin hari makin menyebalkan." Ujar Rima sambil mendengus pelan.


"Syukurlah kalau begitu."


"Loh, kamu kenapa malah senang? Barusan kubilang Arve makin menyebalkan tiap harinya."


"Ya kalau tidak menyebalkan bukan Arve namanya kan?" Pandu mengangkat sebelah alisnya.


"Iya sih, tapi ya kesal juga kalau terus begitu." Rima memutar bola matanya malas.


"Tapi kamu justru suka dia yang seperti itu."


"Ya karena dia Arve." Jawab Rima selalu yakin jika soal perasaannya.


Pandu tersenyum kecil, setidaknya ia sudah tahu kalau Rima masih tetap kukuh pada rasanya terhadap Arve.


"Kamu memang perempuan paling unik, Rima." Ujar Pandu tiba-tiba.


"Unik?" Beo Rima.


Pandu mengangguk pelan.


"Kamu justru tahan dengan laki-laki yang kamu bilang menyebalkan, bertahun-tahun di sampingnya tapi tak juga menjadikan kamu satu-satunya. Kenapa bisa seyakin itu dengan perasaanmu?" Pandu menatap Rima lekat.


Rima balik menatap Pandu, tatapan mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa detik. Dan di detik selanjutnya, Rima sudah memutuskan tatapan yang dulu selalu senang rasanya tiap kali mata itu bertemu dengan matanya.


"Kamu harus jatuh cinta dulu, Pandu. Baru setelahnya akan mengerti kenapa aku bisa sekeras kepala ini dengan Arve."


"Begitu kah?" Pandu mendekatkan wajahnya ke arah Rima.


"Iya begitu, Pandu." Jawab Rima yang mengalihkan pandangannya ke lain arah.


"Tapi aku pernah mencintai seseorang, Rima." Ucap Pandu pelan.


"Oh ya? Kukira, dari banyaknya perempuan yang kamu dekati belum pernah ada yang membuatmu jatuh cinta sungguhan." Rima terkekeh pelan.


"Memangnya sebanyak apa perempuan yang dekat denganku?"


"Banyak sekali, Arve bahkan kalah denganmu."


"Apa kamu masih marah soal kejadian waktu itu?" Tanya Pandu yang langsung membuat raut wajah Rima berubah datar.


"Untuk apa aku marah? Toh itu sudah lama sekali, aku bahkan sudah lupa."


Pandu melirik ke arah tangan kiri Rima, masih terlihat jelas cincin dengan ukiran sederhana melingkar di sana.


"Selesai kelas nanti kamu mau kemana?" Tanya Pandu.


"Ke kantin." Jawab Rima seadanya.


"Menunggu Arve?"


Rima mengangguk pelan.


"Oh ya sudah." Pandu pindah tempat duduk setelah mengucapkan itu.


Rima tidak heran dengan Pandu yang seperti itu, karena dari dulu Pandu dan Arve adalah sepasang laki-laki menyebalkan dan aneh yang selalu kompak menjahili Rima. Hingga suatu kejadian membuat mereka bertiga kembali asing bahkan sampai sekarang.


Andai aku bisa seberuntung Arve. Rima, ternyata mencintaimu diam-diam juga bukan lah pilihan tepat. Jika dulu aku tidak melakukan hal bodoh itu, mungkin sekarang kamu sudah jadi milikku. Mungkin cincin yang melingkar di jari manismu sepasang dengan punyaku, bukan Arve. Pandu memejamkan matanya kuat-kuat, mengingat betapa bodohnya ia dulu.